Pariwara
Metro Kendari

Razia Toko dan Apotek di Kendari, Sejumlah Obat Oriental Disita

Tim gabungan Ditresnarkoba Polda Sultra, BPOM Kendari, dan Dinkes Sultra memeriksa obat-obatan di salah satu toko obat tradisional di Kendari. Razia dilakukan dalam upaya mencegah dan memberantas peredaran obat-obatan terlarang. Foto: Adwin Barakati/Kendari pos

KENDARIPOS.CO.ID — Tak ada kata terlambat untuk menyelamatkan generasi muda dan masyarakat dari pengaruh dan peredaran obat terlarang. Tim gabungan Polda Sultra, BPOM Kendari, dan Dinas Kesehatan Sultra terlihat menyisir sejumlah apotek dan toko obat herbal yang tersebar di Kota Kendari. Razia digelar untuk menekan dan memberantas peredaran obat terlarang termasuk pil paracetamol, cafein, dan carisoprodol (PCC). Tim gabungan tak hanya menggeledah apotek, toko penjualan obat tradisional tak luput dari pemeriksaan. Dalam razia itu, tim gabungan menyita beberapa jenis obat tradisional merek Cina di salah satu toko obat yang terletak di Jalan Saosao Kelurahan Bende, Kadia.

Obat tradisional itu diamankan karena dikhawatirkan membahayakan kesehatan konsumen. Pasalnya, obat tersebut tidak sesuai antara kemasan sekunder dan kemasan primernya. Usai menyita obat di toko tersebut, tim yang dipimpin Kasubdit III Ditresnarkoba Polda Sultra, AKBP La Ode Kadimu terus bergerak. Beberapa apotek diperiksa. Salah satu apotek di kawasan Saranani ditemukan obat yang hampir kedaluwarsa. Masa tenggang yang tertera yakni Oktober 2017. “Ini (razia) kami lakukan untuk mencegah peredaran obat terlarang. Sasaran kami adalah apotek, toko obat dan tempat lain yang patut diduga menjual obat-obat terlarang,” ujar Direktur Ditresnarkoba Polda Sultra, Kombes Satria Adhi Permana, Kamis (26/10).

Diakui Kombes Satria Adhi Permana bahwa razia dilakukan sebagai tindak lanjut peredaran PCC baru-baru ini di Kota Kendari yang menelan korban. Razia ini sebagai bentuk upaya preventif dan represif, agar masyarakat terhindar dari penggunaan obat-obat terlarang. Adapun pokok pemeriksaan dalam razia adalah izin apotek, izin apoteker, jenis obat yang dijual, dan obat yang beredar melalui resep dokter. “Ini tentunya perlu pengawasan sehingga masyarakat dapat terlindungi dari penyalahgunaan terhadap obat-obat yang berbahaya,” tukas Kombes Satria Adhi Permana.

Kepala BPOM Kendari, Adillah Pababbari mengatakan razia dilakukan untuk mengawasi sarana kefarmasian, baik apotek maupun toko obat. BPOM kini sudah diberi kewenangan menindak apotek “nakal”. Adapun sanksi yang bisa didapatkan apotek bila terbukti melanggar yakni sanksi administrasi, penghentian sementara kegiatan apotek, dan pencabutan izin apotek. “Kalau ada apotik “nakal”, maka akan kami rekomendasikan untuk dihentikan saja,”ujar Adillah Pababbari. Jumlah personel yang diturunkan masing-masing Ditresnarkoba Polda Sultra sekira 120 orang, BPOM 10 orang, dan Dinkes Sultra 8 orang.
(ade/c)

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top