Pariwara
Nasional

Pemerintah Siapkan Dana Riset Nasional

KENDARIPOS.CO.ID — Akar persoalan minimnya inovasi di Indonesia adalah anggaran dari pemerintah dan kesesuaian inovasi dengan kebutuhan industri. Untuk itu, pemerintah menggagas pembentukan dana riset nasional. Kelak pemodal swasta juga bisa ikut menanamkan uangnya di pendanaan ini. Gagasan itu disampaikan Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Jumain Appe di sela talkshow LIPI Science-Based Industrial Innovation Award (SBIIA) di Jakarta, Rabu (25/10). Dia mengatakan di tengah keuangan negara yang terbatas, pendanaan riset dan inovasi tidak bisa bergantung pada APBN. “Untuk itu perlu ada kantong untuk menampung dana-dana riset dan inovasi dari swasta,’’ katanya.

Jumain menuturkan, saat ini sejatinya sudah ada kontribusi dana riset dari swasta. Namun, tidak terkoodinasi dengan baik. Dana itu tersebar langsung ke kampus maupun lembaga riset lainnya. Nah dengan adanya dana riset nasional itu, diharapkan dana riset bisa terkumpul dan terarah program inovasinya. Selain itu pengelolaan dana inovasi nasional juga melibatkan industri. Sehingga bisa mengetahui langsung inovasi apa saja yang dibutuhkan kalangan industri. Jumain menjelaskan, dana riset nasional itu nantinya dikelola oleh Badan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Inovasi. Badan ini merupakan pengganti dari Dewan Riset Nasional (DRN) yang kemungkinan usianya tidak panjang lagi. Sebab di dalam RUU Sistem Sistem Nasional Iptek, tidak tercantum klausul pembentukan DRN.

“Pemerintah sedang berusaha komunikasi dengan DPR supaya bisa membentuk Badan Ipten dan Inovasi,’’ jelasnya.  Jumain menuturkan badan itu idealnya berada langsung di bawah presiden. Sehingga tugas untuk mengkoordinasikan sejumlah kementerian bisa berjalan dengan baik. Dia mengungkapkan saat ini riset di Kemenristekdikti, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, dan kementerian serta lembaga lain seperti berjalan sendiri-sendiri.

Plt Kepala LIPI Bambang Subiyanto mengakui bahwa urusan pendanaan dana dan kesesuaian inovasi dengan kebutuhan industri harus dipecahkan. Dia menjelaskan idealnya dana riset di Indonesia bisa mencapai 2 persen dari PDB atau sekitar Rp 100 triliun. Tentu dana super jumbo ini tidak harus seluruhnya disiapkan pemerintah. ’’Tetapi juga ada kontribusi dari industri atau swasta,’’ tuturnya. Dia mengakui saat ini banyak inovasi atau hasil riset di LIPI yang tidak laku di kalangan industri. ’’Saya sebagai peneliti sendiri ragu. Karena banyak inovasi yang tidak cantik di mata industri,’’ jelasnya. Dia menuturkan dalam banyak kesempatan, sejatinya kalangan industri bersedia memberikan dana untuk inovasi. Tetapi ujungnya calon pemodal menanyakan, kapan uangnya bisa balik modal. ’’Kalau sudah ditanya seperti ini, para peneliti sulit menjawabnya,’’ tambahnya.

Dia menuturkan rata-rata dana satu kegiatan riset sekitar Rp 500 juta. Ini baru sampai pada hasil paper atau publikasi. Untuk bisa pada inovasi atau prototipe, dibutuhkan suntikan dana sampai sepuluh kali lipatnya. Bambang berharap gelaran LIPI Indonesia Science Expo (ISE) 2017 bisa mempertemukan pelaku industri dengan peneliti. ’’Pertama kenal dulu. Setelah itu terjalin kerjasama untuk riset dan inovasi,’’ pungkasnya. (wan/ttg/jpg)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top