Pariwara
Buton

Jejak Kejayaan Aspal Buton, Pernah Dipuji Soeharto, Sayangnya “Diabaikan” Pemerintah

Lokasi bekas perushaaan aspal.

KENDARIPOS.CO.ID — Kandungan aspal Buton mencapai 450 juta ton. Kalau dikalkulasi bisa menutupi kebutuhan aspal Indonesia hingga 300 tahun ke depan. Kualitasnya juga sudah diakui dunia. Malah Presiden RI ke-2, Soeharto secara khusus datang di Buton untuk melihatnya secara langsung. Kala itu dia terkesan dan memuji potensi dan kualitasnya. Hanya sayang, kini belum mendapat perhatian serius pemerintah.

La Ode Alfin, Pasarwajo

Negeri Buton sejak dulu sudah tersohor dengan kekayaan alam berupa tambang aspalnya. Nama negeri eks Kesultanan ini bahkan tidak saja dikenal di seantero nusantara, tapi juga sampai mancanegara. Sebut saja Cina, Perancis dan Jepang. Negara itu sudah sejak dulu memakai aspal Buton untuk menghaluskan jalan-jalannya. Demikian Aspal Buton pernah berjaya.

Kisah itu dituturkan La Ode Abudu. Ia bukan saja saksi hidup kejayaan aspal Buton, melainkan pelaku sejarah yang pernah mengukir kejayaan itu. La Ode Abudu di masanya menjadi Kepala Sub Bagian yang mengurusi listrik perusahaan. Sejak 1961, ia sudah berjibaku dengan aspal Buton di perusahaan tempatnya bekerja.

Kisahnya, aspal buton sudah dikelola sejak era Hindia Belanda. Kala itu dikelola oleh perusahaan Buton Asphalt (Butas) milik Belanda sejak 1925. Di era kemerdekaan, aspal Buton kemudian dikelola Perusahaan Aspal Negara atau fasih disebut PAN yang merupakan BUMN kala itu. “Jumlah pegawainya 2.000 lebih. Ada dari Jakarta, Surabaya dan Bandung,” kata La Ode Abudu saat ditemui di kediamannya akhir pekan lalu.

Ia bekerja sebagai karyawan PAN sejak usia 20 tahun. Dahulu, ia dipercayakan mengurus mesin dan kelistrikkan. Ia menyebut, kesejahteraan masyarakat Pasarwajo begitu terjamin, terutama karyawan seperti dirinya. Gajinya di awal bekerja hanya Rp 8.000. Tapi jangan salah, kalau dikonversi tahun sekarang, nilainya setara Rp 8 juta. Bahkan secara khusus, ia pernah didaulat menjadi karyawan teladan bersama tiga rekan kerjanya tahun 1980. “Saya dulu diajak jalan-jalan selama tiga bulan penuh di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Semuanya ditanggung perusahaan,” kenangnya.

Pria yang kini berusia 80 tahun itu mengenang jika di Pasarwajo dulunya ramai dengan orang-orang luar negeri. Para bule-bule itu merupakan pekerja asing yang datang mengangkut beribu-ribu ton aspal Buton. Dengan kapal-kapal tankernya terparkir di Pelabuhan Pasarwajo. Sehari kadang 15 unit kapal yang sandar. Satu kapalnya, bisa mengangkut ribuan ton. “Dulu Pasarwajo ramai sekali. Banyak orang bule. Di teluk Pasarwajo itu padat dengan kapal, semua mengantri di pelabuhan,” katanya.

1 of 2

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Pariwara

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top