Pariwara
Kolaka Utara

Kolut Butuh Rp 230 M Revitalisasi Kakao

KENDARIPOS.CO.ID — Hasil panen kakao petani di Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) saat ini mengalami penurunan drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. Banyak tanaman yang tak diurus lagi dan bahkan dibiarkan mati karena petani tak mampu lagi mengendalikan penyebaran hama yang cepat menyebar luas menggerogoti batang dan buah.

Tebang pilih tanaman yang dilakukan petani ternyata tidak efektif untuk membendung penyebaran hama. Juga ada kecemasan petani akan kesulitan biaya dalam masa transisi ketika gerakan pembersihan (penebangan) massal dilakukan pemerintah secara menyeluruh. Bupati Kolut, H. Nur Rahman Umar yang ditemui Selasa (17/10) mengaku, ia akan mengambil langkah serius melalui revitalisasi kakao tersebut meskipun akan menghabiskan pembiayaan yang besar di tengah minimnya alokasi anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) yang hanya mencapai Rp 870 miliar tiap tahun.

“Setiap tahun itu Kolut kehilangan Rp 3,6 triliun. Putaran uang saat ini hanya ditopang APBD yang jumlahnya tidak mencapai Rp 1 triliun,” ujarnya, selasa(17/10). Dari mana Rp 3,6 triliun itu, Nur Rahman menyebut bersumber dari hasil panen kakao yang tidak lagi produktif sebesar 43 ribu hektare. Pemkab telah memikirkan alternatif untuk mengatasi kekhawatiran masyarakat akan tak adanya penghasilan yang diterima bila proses revitalisasi tanaman kakao dilakukan.  “Susah dapat uang dan itu terasa sekali saat ini. Jadi mulai nol bulan (awal revitalisasi) sampai kakao berbuah, maka tanaman hortikultura harus dikembangkan. Tetapi saya inginkan berkelanjutan,” gagas Kolut-1 itu. Maksud berkelanjutan sambung pasangan duet H. Abbas itu supaya hasil kakao bisa ditabung karena untuk keuangan sehari-hari ada penghasilan dari jual beli tanaman hortikultira tersebut seperti  jagung, bawang, cabai maupun sayur-sayuran.

Ia berjanji pemerintah akan hadir bersama masyarakat dalam pemasarannya. “Kalau sudah menabung maka disitulah perkembangan ekonomi masyarakat meningkat. Saya sudah presentasekan hal ini ke Dirjen Pertanian dan sangat direspon. Makanya saya intens berkomunikasi ke Pemprov dan pemerintah pusat. Kami harap mendapat dukungan penuh,” bebernya.

Namun yang menjadi tantangan besar untuk menyukseskan program revitalisasi itu yakni kesiapan dana pengadaan bibit kakao. Jika dikalkulasi, dengan luasan kebun kakao 43 ribu hektare, maka dana pengadaan tanaman yang harus disiapkan mencapai Rp 230 miliar. “Tetapi saya tidak gentar. Itu karena saya melihat kesuksesan di masa yang akan datang. Berani merubah maka harus mampu menanggung resiko dan tantangannya,” optimis Nur Rahman. (b/rus)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Pariwara

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top