Indahnya Toleransi Beragama Warga Karya Bhakti di Buton Utara – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Buton Utara

Indahnya Toleransi Beragama Warga Karya Bhakti di Buton Utara

Warga Desa Karya Bhakti saat menyantuni anak yatim piatu. Meski beda keyakinan, namun dalam urusan sosial mereka sangat kompak.

KENDARIPOS.CO.ID — Hidup bersama dengan perbedaan keyakinan tak membuat warga Desa Karya Bhakti ‘bergesekan’. Desa yang terletak di Kecamatan Kulisusu Barat, Kabupaten Buton Utara itu hidup rukun, meski dihuni tiga keyakinan berbeda, yakni pemeluk Islam, Kristen dan Hindu. Menariknya, mereka juga kompak menyantuni anak yatim di desa itu.

Hadrian Indra Mapa, Buranga

Tangis La Duke pecah. Dia tak pernah menyangka, di usianya yang masih belia harus mengarungi kerasnya kehidupan seorang diri. Dia sedikit mengeluh kepada Tuhan, mengapa begitu cepat kedua orang tuanya “dipanggil”. Hidup tanpa belaian kasih sayang orang tua kini mengisi hari-harinya.

Tangis anak kelahiran 10 tahun silam kembali terdengar mengusik jiwa, ketika warga desa memberikan santunan untuknya. Air mata kesedihannya terus mengalir ketika puluhan warga desa silih berganti menghampirinya, memberikan santunan untuk meringankan beban bocah yang masih duduk di kelas 4 sekolah dasar itu di Aula Balai Desa Karya Bhakti, Selasa (17/10).

La Duke tak sendiri menerima uluran tangan dermawan warga desa yang menginfakkan sebagian rezekinya untuk meringankan beban hidupnya. Dia bersama empat anak lain yang senasib dengannya. Pemberian santunan kepada anak yatim itu merupakan program pemerintah Desa Karya Bhakti. Hasilnya, memuaskan sebanyak Rp 30 juta uang terkumpul didonasikan untuk anak yatim di desa itu.

Tapi bukan soal anak yatimnya itu yang menarik. Tapi warga desa yang bersedekah itu yang jadi perhatian. Sebab, mereka memilki latar belakang keyakinan berbeda. Desa yang terletak diujung Kecamatan Kulisusu Barat itu dihuni tiga penganut agama, yakni Islam, Kristen dan Hindu. Mereka bersatu menghidupi anak yatim di daerah itu. “Seratusan warga dengan penuh keikhlasan berbondong-bondong berkumpul di Aula Kantor Desa. Untuk mengumpulkan donasinya. Mereka memberilan santunan untuk anak yatim yang telah ditinggal orang tuannya,” kata Taufik, Kepala Desa Karya Bhakti saat ditemui, Selasa (17/10).

Proses pemberian santunan anak yatim diwarnai ihak tangis warga desa. Satu warga bahkan histeris tak bisa menyembunyikan kesedihannya bahkan harus dibopong karena pingsan. “Ini merupakan budaya yang terus dilestarikan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Kendati warga saya menganut tiga kayakinan berbeda, namun, tak ada yang membatasi diri untuk peduli kepada sesama warga desa yang terkena musibah,” jelasnya.

Taufik mengungkapkan, identitas anak yatim piatu dan anak yatim yang disantuni di desanya, yakni La Duke (10), Suci (9), Tera (12) , Niar (10), dan Hermin (13). Mereka masih duduk di sekolah dasar. “Kasihan mereka diusia masih membutuhkan belaian kasih sayang orang tua, harus ditinggal pergi untuk selamanya. Sebagai pemimpin desa tentu memiliki rasa peduli untuk meringankan beban mereka bersama sokongan warga desa. Beban menghidupi anak yatim terasa ringan berkat bantuan semua warga desa,” ucap Taufik dengan nada sendu.

Bapak tiga orang anak ini mengungkapkan, tak hanya warga berlimpahan harta atau yang berkecukupan yang menyisihkan sedikit rezekinya untuk anak yatim di desa itu. Bahkan, mereka yang hidupnya pas-pasan juga berpartisipasi memberikan sumbangannya dengan kemampuan masing-masing. Tak dipatok berapa jumlahanya. Stadarnya adalah keikhlasan. “Yang menyumbang bukan hanya orang mampu saja . Tetapi warga serba keterbatasan pula. Tak ada paksaan,” ungkapnya.

Memupuk dan memelihara kerukunan umat beragama di tengah keanekaragaman perbedaan agama, suku dan budaya sudah menjadi budaya di desa itu. Kunci utamanya saling memahami, dan menghargai perbedaan sehingga warga desa dengan keyakinan berbeda dapat hidup berdampingan dengan rukun. “Dengan semakin lestarinya kerukunan umat beragama akan terwujud kehidupan yang aman, damai dan sejahtera. Alhamdulillah selama desa ini saya pimpin, tak pernah terjadi pertikaian akibat perbedaan keyakinan. Kuncinya saling menghargai keyakinan masing-masing,” terangnya.

Bupati Buton Utara, Abu Hasan mengapresiasi perintah Desa Karya Bhakti yang peduli terhadap nasib anak yatim. Desa itu bisa menjadi percontohan bagi desa lain. Tak hanya itu, keberagaman agama yang dianut tak menjadi penghalang untuk hidup rukun desa itu juga patut diapreiasi. “Desa Karya Bhakti sudah pernah saya berkunjung di desa ini. Kebersamaan mereka sangat kuat dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan,” tutur Abu Hasan. Dia berharap kerukunan yang tercipta di desa itu bisa dicontoh desa lain. (b/*)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top