Berkas Korupsi Bibit Fiktif di Konut Lengkap, Tiga Tersangka Segera Dilimpah – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Hukum & Kriminal

Berkas Korupsi Bibit Fiktif di Konut Lengkap, Tiga Tersangka Segera Dilimpah

KENDARIPOS.CO.ID — Penyidik Subdit III Tipikor Ditreskrimsus Polda Sultra sudah menuntaskan berkas tersangka dugaan korupsi pengadaan bibit di Dinas Kehutanan Konut tahun 2015. Berkas tersangka Amirudin Supu (mantan Kadishut Pemda Konut), Willy Jumarni dan Zainal, dinyatakan lengkap (P21) setelah penyidik memenuhi petunjuk jaksa. Sedangkan berkasnya, Ahmad bin Tulangkuse sebagai rekanan proyek masih dalam proses penelitian.

Kasipenkum Kejati Sultra, Janes Mamangkey SH membenarkan informasi tersebut. Menurut Janes, berkas ketiga tersangka sudah dinyatakan lengkap. Selanjutnya, jaksa tinggal menunggu proses perlimpahan tahap II atau pelimpahan berkas, tersangka dan barang buktinya dari kepolisian. “Selama ini, kata Janes berkas tersebut menjadi penelitian yang cukup sulit. Sebab ada beberapa kekurangan materil yang harus dilengkapi penyidik. Namun, berkat koordinasi yang baik, berkas tiga tersangka dinyatakan lengkap,” kata Janes Kamis (12/10).

Janes Mamangkey menambahkan setelah menerima pelimpahan tersangka dan barang bukti dari polisi maka Kejaksaan Tinggi Sultra akan melimpahkan ke Kejaksaan Negeri Konawe. Sebab, perkara hukum itu terjadi di Konawe. Saat ini kata Janes, pihaknya masih berkoordinasi dengan pemyidik agar melengkapi bekas tersangka, AHmad bin Tulangkuse.

Untuk diketahui, proses penyidikan kasus ini sempat tertunda karena semula penyidik hanya menetapkan dua tersangka yakni Amirudin Supu selaku kuasa pengguna anggaran (KPA) yang juga kepala Dinas Kehutanan Konut kala itu dan pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek, Muhamaddu (telah meninggal beberapa waktu lalu). Sementara jaksa sendiri menginginkan ada tambahan tersangka. Setelah ekspose akhirnya ditetapkan tiga tersangka tambahan yakni Ahmad bin Tulangkuse, Willy Jumarni dan Zainal sebagai pemeriksa barang.

Hasil audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Sultra menemukan kerugian negara sebesar Rp 700 juta. Modus kasus pengadaan bibit ini cukup menarik. Khusus pengadaan bibit dan penanaman jati, terjadi perbedaan besaran anggaran dalam kontrak dan daftar pagu anggaran (DPA). Dalam kontrak tertera anggaran sebesar Rp 879 juta, sementara dalam DPA berjumlah Rp 1,176 miliar.

Sehingga ditengarai, selisih anggaran dalam kontrak dan DPA diselewengkan. Lalu ada ketidakjelasan mekanisme pencairan dana, yaitu uang telah dicairkan 100 persen meski sebenarnya pekerjaannya belum selesai. Khusus pengadaan bibit eboni dan bayam jelas sudah diduga kuat fiktif. Pasalnya, harusnya yang diadakan eboni dan bayam masing-masing sebanyak 2.750 bibit. Namun, kenyataannya hanya diadakan bibit eboni sebanyak 2.750. Bibit bayam tidak lagi diadakan. Sementara bibit jati yang seharusnya diserahkan dan dinikmati masyarakat, malah ditanan pada tiga lahan milik pejabat Konut. (ade/c)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top