Gua Maria Lourdes di Kabupaten Konawe, Pusat Ziarah Umat Katolik, Berada di Tengah Komunitas Muslim – Kendari Pos Online
Konawe

Gua Maria Lourdes di Kabupaten Konawe, Pusat Ziarah Umat Katolik, Berada di Tengah Komunitas Muslim

Gua Maria Lourdes terletak di Desa Sendang Mulyasari, Kecamatan Tongauna, Kabupaten Konawe. Tempat ini menjadi pusat ziarah umat Katolik. Menarik karena tempat itu dikeliling warga yang mayoritas umat muslim.

KENDARIPOS.CO.ID — Belajarlah toleransi dari masyarakat Konawe. Di otorita Kery Saiful Konggoasa itu, hidup beragam suku dan agama yang berdampingan secara damai. Contoh sederhana bisa dilihat dari keberadaan Gua Maria Lourdes di Desa Sendang Mulyasari yang menjadi pusat ziarah umat Katolik. Desa itu dikeliling warga yang mayoritas umat muslim dan sebagian kecil lainnya, umat Hindu.

Helson Mandala Putra, Konawe

Gua Maria Lourdes berada di Desa Sendang Mulyasari, Kecamatan Tongauna, Kabupaten Konawe. Saban hari, tempat itu menjadi lokasi berkumpul seluruh umat Katolik di Sultra untuk berdoa. Desa itu terdiri atas lima dusun. Tiga dusun dihuni umat muslim, satu dusun khusus Hindu dan satunya lagi untuk umat Katolik. Meski berbeda keyakinan, mereka tetap hidup dalam damai.

Gua tersebut didirikan sejak 1978. Kala itu, umat Katolik yang berada di Desa Sendang Mulyasari (pindahan dari Bali) merasa gundah karena tidak punya tempat berdoa yang representatif. Makanya muncullah inisitif untuk mengusulkan pembangunan tempat itu kepada Pastor Paroki, yang saat itu hanya ada di Kota Kendari. Usulan tersebut disambut baik, sehingga pada tahun yang sama Gua Maria Lourdes didirikan. Hanya waktu itu masih berupa bangunan semi permanen sederhana dengan ukuran kecil.

Selanjutnya, pada 1979, Gua tersebut diberkati Uskup Agung Ujung Pandang, Monseignur Lumoiren. Sejak itu, menjadi tempat ziarah seluruh umat Katolik Sultra daratan meliputi Kolaka, Kolaka Timur (Koltim), Konawe, Konawe Selatan (Konsel), Konawe Utara (Konut), Bombana, dan Kendari.

Pada tahun 2013, seiring perkembangan zaman mulailah direncanakan untuk melakukan perbaikan menyeluruh pada Gua Maria Lourdes tersebut. Tepat 21 Agustus tahun itu juga, dilakukan peletakan batu pertama oleh Monseignur Uskup Agung Makassar John Liku. Kemudian mulai dilaksanakan pembangunan secara bertahap dan swadaya oleh umat, sedangkan anggarannya mereka peroleh juga dari swadaya dan donatur. Akhirnya, perbaikan itu tuntas dan langsung diberkati dan diresmikan pada 2 Oktober 2017.

Acara pemberkatan Gua Maria sangat sederhana. Di awali dengan sebuah lagu Maria, dan dilanjutkan dengan doa pemberkatan dipimpin Uskup Agung Makassar, Mgr. John Liku dan di lanjutkan dengan berdoa bersama Rosario, dan di tutup dengan berkat Mgr. John Liku Ada. Gua Maria itu, bisa menjadi tempat doa dan tempa perlindungan bagi anak-anak dan para remaja Sendang Mulyasari. Pada Oktober ini, disebut bulan Rosari, tempat ini menjadi lebih berarti bagi para pencinta Bunda Maria.

Setiap tahun, ada dua kegiatan besar keagamaan yang dilaksanakan di sana. Pada Mei dinamakan Bulan Maria, yakni menghormati Bunda Maria secara khusus. Selanjutnya, akhir Oktober disebut Bulan Rosario, berdoa khusuk melalui devosi Rosario selama sebulan penuh. “Setiap hari Gua Maria Lourdes tetap digunakan untuk ziarah pribadi atau kelompok. 29 Oktober nanti akan ada kegiatan ziarah. Tapi akan diawali dengan camping Orang Muda Katolik (OMK) se-Sulawesi Tenggara wilayah daratan 27 Oktober, kemudian 28 Oktober malam ada prosesi pawai lilin dan perarakan patung Bunda Maria. setelah itu, 29 Oktober kegiatan ziarah seluruh umat Katolik Sultra wilayah daratan,” beber Markus Iman Sucipto, Koordinator Bidang Komunikasi Sosial Paroki Roh Kudus Unaaha.

Kini Gua Maria Lourdes telah berdiri besar dan megah. Umat Katolik berharap kehadiran devosi ziarah itu membuat ketakwaan mereka semakin dalam dan persatuan antar sesama manusia semakin erat. Menurutnya, dalam kehidupan sehari-hari, bila anak-anak memerlukan sesuatu, maka yang menjadi tempat pelarian adalah ibunya. Demikian juga umat yang percaya pada Yesus, dalam kesusahan dan kebingungan, umat dapat datang pada ibu Maria.

“Itu adalah hal yang wajar, sangat baik dan alami. Seperti juga anak yang datang pada ibunya bila memerlukan sesuatu. Kita mau menghormati Maria, bukan saja sebagai ibu yang mencintai dan menolong sebagai perantara pada Tuhan. Tapi yang lebih penting dalam devosi pada Maria adalah kita semakin mengenal, mencintai dan setia pada Yesus serta bersemangat dalam mewartakan Yesus. Sehingga kita akan bangga dan bergembira menjadi murid-murid Yesus,” katanya.

1 of 2

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil molestiae consequatur, vel illum qui dolorem?

Temporibus autem quibusdam et aut officiis debitis aut rerum necessitatibus saepe eveniet.

Copyright © 2015 The Mag Theme. Theme by MVP Themes, powered by Wordpress.

To Top