Kecerdasan Tunggal Vs Kecerdasan Ganda, Oleh: Prof Abdullah Alhadza, MA – Kendari Pos Online
Space Iklan
Kolom

Kecerdasan Tunggal Vs Kecerdasan Ganda, Oleh: Prof Abdullah Alhadza, MA

KENDARIPOS.CO.ID — Sepenggal kisah dari sebuah sekolah di negeri belantara, yang siswa dan gurunya adalah hewan. Di sekolah itu diajarkan mata pelajaran yang sama untuk setiap dan seluruh siswa, yaitu: Lari cepat, terbang tinggi, panjat pohon/tebing, berenang, menyelam, merayap dan semacamnya. Siswanya terdiri dari berbagai jenis hewan, seperti kuda, monyet, burung, kura-kura, kodok, dll. Semua mata pelajaran dimaksud, menjadi mata pelajaran ujian dalam pelaksanaan ujian nasional di negeri belantara tersebut.

Seekor siswa kuda selalu mendapat nilai 10 dalam mata pelajaran lari cepat. Tapi untuk mata pelajaran terbang tinggi, ia selalu mendapat angka merah dalam rapornya. Berhubung matapelajaran terbang tinggi termasuk materi UN di negeri itu, maka hewan tua (maksudnya bapak dan ibu) si kuda memanggilkan guru les privat ke rumah untuk anaknya, agar mata pelajaran terbang tingginya bisa meningkat. Setelah berlangsung pembelajaran intensif beberapa smester di sekolah, dan les privat di rumah, ternyata hasilnya bukan saja nilai mata pelajaran terbang tinggi bagi si kuda tetap 4 (tidak naik-naik), malahan nilai mata pelajaran lari cepatnnya yang tadinya 10 justru melorot menjadi 7.

Hal yang sama terjadi pada siswa kucing dan tikus. Mereka selalu juara dalam matapelajaran memanjat pohon. Namun ketika mereka ikut pelajaran berenang, maka setiap pelajaran selesai, sekolah selalu berurusan dengan puskesmas karena siswa tikus dan kucing selalu lemas dan pingsan ketika praktek pelajaran berenang sedang berlangsung. Sehingga semua nilainya turun drastis, termasuk nilai matapelajaran panjat pohon. Tidak beda dengan si Katak dan si Kura-kura. Mereka selalu bolos ketika jadwal matapelajaran panjat pohon, sementara burung selalu menghilang ketika dipaksa ikut pelajaran menyelam. Pada akhirnya, mereka ramai-ramai drop out dari sekolah.

Sesungguhnya murid kodok, kura-kura, dan burung bukanlah siswa yang malas dan bodoh. Mereka selalu mendapat nilai bagus untuk matapelajaran yang sesuai dengan bakat alaminya. Mereka semua adalah siswa-siswa yang cerdas dan cemerlang seperti juga anak-anak di Indonesia. Dalam jangka waktu yang sangat singkat, bukan saja kualitas pendidikan di negeri belantara jatuh terpuruk, tetapi banyak sekolah langsung bubar lantaran tingginya angka putus sekolah. Itulah sebabnya peradaban hewan tidah pernah berkembang karena sistem pendidikan mereka memaksakan pemebelajaran kecerdasan tunggal di tengah keragaman kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didik. Begitu kesimpulan kisah itu.

Di negara tercinta Indonesia, sedikitnya kita punya 5 tokoh yang kebetulan punya nama panggilan sama. Rudy Habibi si ahli Fisika, Rudy Hartono sang juara bulu tangkis, Rudy Salim aktor terbaik, Rudy Haeruddin si ahli masak, dan Rudy Hadisuwarno yang ahli tata rambut. Seandainya Rudy Habibi dulu dipaksa menjadi pemain bulu tangkis, maka tidak akan pernah dia menjadi ahli membuat pesawat terbang. Sekiranya Rudy Hartono dulu dipaksa belajar Fisika, maka Indonesia tidak akan pernah menjuarai Piala Thomas Cup sampai 7 kali berturut-turut. Demikan Rudy-rudy yang lainnya tumbuh kembang berdasarkan potensi alami mereka masing-masing.

Michel Jackson sang musisi dan Maradona pemain bola tidak akan pernah juara di bidangnya, jika di waktu kecilnya dipaksa belajar matematika dan tidak dibukakan ruang untuk mengembangkan dirinya sendiri. Albert Einstein tidak akan mungkin menjadi penemu nuklir yang sangat terkenal jika di waktu kecilnya dipaksa ikut lomba nyanyi untuk menjadi idola cilik. Sudah sejak lama sekolah kita direcoki dengan kurikulum yang serba seragam seperti kurikulum yang diberlakukan sekolah di negeri belantara. Sekolah kita didaulat dengan doktrin kecerdasan tunggal (single intelligence). Anak yang dianggap hebat adalah mereka yang cerdas secara intelektual saja (yang IQ-nya tinggi).

Indikator kecerdasan seseorang direpresentasikan dengan nilai rapor atau nilai yang tercantum dalam ijazah dengan rentang nilai 0 – 10. Meskipun itu hanya kecerdasan tunggal yaitu intelektualnya saja. Namun kesuksesan hidup seseorang seolah wajib diprediksi atas dasar nilai tersebut. Dalam realitasnya, orang-orang yang sukses, orang terkenal, orang terkaya di dunia justru bukanlah mereka yang tinggi nilai rapornya di sekolah. Sebaliknya banyak orang-orang yang prestasi belajarnya baik atau tinggi nilai rapornya, tetapi kariernya dalam kehidupan biasa-biasa saja.

Cermatilah orang-orang terkaya di Indonesia dan bahkan di dunia, berapa persen di antara mereka yang pernah menyandang juara di sekolahnya? Hitunglah berapa banyak orang di antara 34 gubernur di negeri ini yang nilai rapornya ketika bersekolah dulu di atas nilai 7? Berapa orang di antara 440 orang bupati/wali kota yang yang mendapat predikat cumlaude ketika diwisuda S1 dulu? Periksalah raportnya anggota legislatif kita. Berapa persen di antara mereka yang tidak punya angka merah ketika bersekolah dulu? Jawaban dari semua pertanyaan tersebut adalah sangat sedikit atau presentasinya sangat kecil.

Pertanyaan berikutnnya adalah apakah mereka yang menempati posisi strategis di negeri ini bukan orang-orang cerdas? Jawabannya ya, mereka umumnya adalah orang-orang cemerlang di bidangnya. Hanya sistem penilaian di sekolah kita selama ini tidak mampu mendeteksi atau memprediksi potensi mereka. Karena kebanyakan sekolah hanya mengembangkan kecerdasan tunggal, dan mengarahkan penilaian hanya kepada kecerdasan intelektual saja, dan tidak kepada kecerdasan majemuk (multiple intelligence).

Selanjutnya tak ada data berapa banyak anak yang putus sekolah lantaran takut pada matapelajaran yang telanjur dianggap momok. Entah berapa banyak anak yang tidak berkembang potensi dimilikinya secara optimal hanya karena metode pembelajaran yang tidak mendukung. Barangkali tidak sedikit anak yang terzalimi dengan dianggap bodoh atau nakal di sekolah dan di rumah hanya karena mereka memiliki kecerdasan lain yang dinafikan di sekolah dan dianggap sepi di rumah.

Sekiranya semua sekolah kita bisa mengembangkan kecerdasan majemuk kepada anak didiknya, kita yakin tidak ada lagi anak sekolah yang suka tawuran. Tidak banyak siswa yang malas belajar dan suka bolos, tidak bakalan ada pengangguran. Korupsi tidak akan merajalela di negeri ini. Prestasi keunggulan akan diraih dan bangsa ini akan lebih bermartabat dalam pergaulan internasional.

Saatnya orang tua dan sekolah melawan doktrin kecerdasan tunggal lalu beralih memegang prinsip kecerdasan ganda. Ketika kita bosan mengambil I’tibar dari sesama manusia sesekali petiklah inspirasi dari hewan. Belajarlah dari kegagalan kebijakan pendidikan yang ditempuh sekolah di negeri belantara. Arahkan pendidikan anak-anak kita sesuai bakat dan kecerdasan alami yang mereka miliki, lalu persiapkan karier masa depan mereka sedini mungkin dengan menyiapkan sistem pembelajaran dan pengembangan pribadi berbasis potensi diri mereka. Setiap anak berbakat setiap anak unik dan setiap anak mampu untuk berprestasi. (*)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil molestiae consequatur, vel illum qui dolorem?

Temporibus autem quibusdam et aut officiis debitis aut rerum necessitatibus saepe eveniet.

Copyright © 2015 The Mag Theme. Theme by MVP Themes, powered by Wordpress.

To Top