Pengungsi Meninggal Dunia Bertambah, Asap 1.500 Meter Muncul Akibat Hujan – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Nasional

Pengungsi Meninggal Dunia Bertambah, Asap 1.500 Meter Muncul Akibat Hujan

KENDARIPOS.CPO.ID — Sejak kali pertama membuka pintu untuk pengungsi dari kawasan rawan bencana (KRB) erupsi Gunung Agung, jumlah pengungsi meninggal dunia di Kabupaten Klungkung terus bertambah. Berdasar data BPBD Klungkung kemarin (8/10) angkanya mencapai 13 jiwa. Seluruhnya meninggal ketika menjalani perawatan di RSUD Klungkung. Kepala Pelaksana BPDB Klungkung Putu Widiada menjelaskan, data terakhir dari posko kesehatan yang berada di wilayah Klungkung 11.006 pengungsi sudah mereka layani. ”Dari awal pengungsi masuk sampai hari ini (kemarin),” ungkap dia. Sebagian di antara mereka mengalami gangguan pernapasan dan terkena penyakit kulit ringan.

 Khusus pengungsi yang mengeluh sakit berat, Pemkab Klungkung merujuk mereka agar mendapat perawatan lebih intens di RSUD Klungkung. ”Yang meninggal sudah ada 13 jiwa,” ucap Widiada. Selain karena penyakit bawaan, rata-rata pengungsi yang meninggal dunia sudah berusia lanjut. Dari 13 jiwa, 12 di antaranya berusia di atas 80 tahun. ”Ada yang 38 tahun meninggal karena sakit kanker,” tambahnya. Meski demikian, pelayanan maksimal terus diupayakan oleh pemkab setempat. Seluruh pengungsi yang berada di wilayah mereka dipastikan terpenuhi kebutuhannya. Tidak terkecuali kebutuhan pelayanan medis. ”Stok obat masih banyak. Masih cukup memadai,” ucap Widiada. Dia menegaskan, pengungsi yang mengalamai gangguan kesehatan ringan maupun berat langsung ditangani.

 Data terakhir dari Posko Siaga Bencana Erupsi Gunung Agung, jumlah pengungsi di Klungkung terus berkurang. Pukul 06.00 WITA kemarin angka pengungsi sebanyak 18.848 jiwa. Sedangkan pukul 18.00 WITA pada hari yang sama, angka pengungsi turun menjadi 18.725 jiwa. Seluruhnya tersebar di 43 lokasi pengungsian yang berada di wilayah tersebut. Menurut Widiada angka pengungsi turun perlahan lantaran banyak yang memilih pulang secara bertahap. ”Mereka pulang mandiri,” ucap dia. Karena itu, jumlahnya tidak banyak. Hanya satu atau dua keluarga. Lain dengan pengungsi yang minta di antar. Jumlahnya bisa ratusan jiwa. ”Hari ini nda ada yang minta pulang,” ujarnya menegaskan.

 Sesuai komitmen Pemkab Klungkung, BPBD Klungkung juga tidak memaksa pengungsi kembali ke rumah masing-masing. Mereka hanya mengantarkan pengungsi yang meminta pulang. Berkaitan dengan pengungsi dari zona aman dan zona berbahaya, sampai kemarin kartu keluarga khusus belum diterbitkan oleh Pemkab Klungkung. ”Akan kami konsultasikan lebih dulu,” imbuh Widiada. Secara keseluruhan jumlah pengungsi dari KRB erupsi Gunung Agung yang masih bertahan di sembilan kabupatan dan kota di Bali berada pada angka 141.185 jiwa. Mereka tersebar di 331 titik. Belum bisa dipastikan sampai kapan mereka harus mengungsi. Sebab, status Gunung Agung masih awas. Aktivitas vulkanik gunung tertinggi di Pulau Dewata itu pun belum menunjukan tanda-tanda bakal turun dalam waktu dekat.

 Berdasar data PVMB, gempa vulkanik dangkal, gempa vulkanik dalam, maupun gempa tektonik lokal masih terus terjadi. Angkanya juga masih tinggi. Setiap hari jumlahnya mencapai ratusan kali. Jauh di atas angka normal yang dapat dihitung jari. Bahkan, Sabtu malam (7/10) asap putih yang keluar dari kawah puncak Gunung Agung sempat membumbung sampai ketinggian 1.500 meter. Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG I Gede Suantika menyebutkan, asap tersebut keluar dari kawah puncak Gunung Agung secara tiba-tiba. ”Karena hujan yang terus menerus mengguyur empat hari belakangan,” kata dia ketika dihubungi Jawa Pos. Asap keluar tiba-tiba lantaran kawah puncak gunung tersebut tinggi. ”Sehingga air hujan menjadi uap,” jelasnya.

Namun demikian, bukan berarti aktivitas vulkanik yang disebabkan oleh gerakan magma tidak terjadi. Catata PVMBG, gejokal di dalam perut Gunung Agung masih berlangsung. Magma berusaha keluar sehingga terjadi gempa vulkanik dalam maupun gempa vulkanik dangkal. Frekuensi tinggi aktivitas vulkanik tersebut mengindikasikan potensi terjadi letusan masih besar. (syn/jpg)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top