Kukuhkan Tiga Guru Besar Pertanian, Zamrun : Semua Harus Mampu Majukan UHO – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Edukasi

Kukuhkan Tiga Guru Besar Pertanian, Zamrun : Semua Harus Mampu Majukan UHO

Rektor UHO, Prof Dr Muhammad Zamrun F., saat mengukuhkan tiga profesor di Auditorium Mokodompit. Foto : Wa Ode Sitti Febriani/Kendari Pos

KENDARIPOS.CO.ID — Tiga guru besar pertanian Universitas Halu Oleo (UHO) resmi dikukuhkan. Mereka adalah Prof. Muhidin pada bidang Ilmu Budidaya Tanaman (Agronomi), Prof. H. Andi Khaeruni R. di bidang Ilmu Penyakit Tumbuhan dan Prof. Yulius B. Pasolon untuk bidang Ilmu Nutrisi Tanaman. Saat ini, kampus hijau tersebut memiliki 71 guru besar lintas disiplin ilmu yang siap mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kemajuan dunia pendidikan.

Rektor UHO, Prof. Muhammad Zamrun F., mengatakan, ini spesial karena ketiga guru besar berlatar pertanian. Selama menjabat sebagai rektor, dirinya telah mengukuhkan delapan profesor dan ini menjadi bukti bahwa UHO patut diperhitungkan. Saat ini, kampus tridharma berada di peringkat 37 seIndonesia.

“Data Kementerian Ristek dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menunjukkan bahwa UHO adalah salah satu universitas yang cukup aktif mengusulkan guru besar,” bebernya. Jadi guru besar menurutnya bukanlah akhir, namun sebagai sumber motivasi untuk menghasilkan sesuatu yang baru untuk kemajuan. Ia tegaskan, tidak semua dosen adalah guru besar, namun semua dosen punya peluang yang sama untuk jadi guru besar. “Posisi 30 besar bukan hal yang mustahil untuk dicapai. Makanya, para guru besar harus mampu berperan aktif untuk majukan UHO,” ungkapnya usai mengukuhkan ketiga guru besar di Auditorium Mokodompit.

Prof. Muhidin yang menjadi guru besar ke 69, mengangkat tema Inovasi Teknologi Peningkatan Produksi dan Produktivitas Padi Gogo Beras Merah Organik Kaya Antosianin Sebagai Sumber Pangan Fungsional. Ia sengaja memilih beras merah karena popularitasnya sebagai pangan fungsional semakin meningkat.

Sultra sebagai salah satu daerah yang kaya akan plasma nutfah padi, utamanya padi gogo, punya ratusan jenis padi gogo merah. Potensi beras merah untuk dijadikan ikon daerah sebenarnya sangat besar, tapi jika tidak dikelola dengan baik maka potensinya bisa hilang atau dinikmati daerah lain,” urai Wakil Direktur 1 Bidang Akademik Program Pasca Sarjana UHO.

Produksi beras merah asal Sultra sejatinya kurang dikenal jika dibandingkan dengan daerah lain, meskipun nyata-nyata beras merah tersebut berasal dari Sultra. Ia menilai, perlu ada perbaikan sistem produksi dengan berbagai cara, sehingga ini dapat diproduksi besar-besaran. Salah satunya, membudidayakan padi gogo merah berumur pendek dengan memanfaatkan pupuk hayati.

Selain itu, Prof. H. Andi Khaeruni R. sebagai profesor UHO ke 70 mengangkat tema Agens Hayati Biofresh sebagai Inovasi Teknologi Pengelolaan Penyakit Tanaman untuk Mewujudkan Swasembada Kedelai di Sultra. Dia mengungkap, kebutuhan kedelai nasional rata-rata 2,2 juta ton per tahun, sementara produksi kedelai dalam negeri baru mampu memenuhi kebutuhan sekira 30 persen. Olehnya, masih harus mengimpor dari luar sebesar 70 persen untuk kebutuhan nasional.

“Untuk memenuhi kebutuhan nasional, pemerintah melakukan upaya khusus dengan target produksi kedelai 1,5 juta ton per tahun demi swasembada kedelai tahun 2018. Sentra produksi kedelai saat ini masih bertumpu di Jawa. Namun karena makin sempitnya lahan, maka pemerintah mulai menyasar daerah luar Jawa,” urainya.

Namun, rendahnya produktivitas kedelai di Sultra justru disebabkan oleh teknologi budidaya yang diterapkan petani masih rendah, terbatasnya sumber benih bermutu, lahan pertanian yang kurang subur bahkan masalah hama dan penyakit tanaman. Makanya, ia pun mengembangkan pupuk hayati biofresh berbahan dasar rizobakteri indigenos. Ini secara empiris mampu meningkatkan ketahanan tanaman kedelai terhadap penyakit sekaligus mampu meningkatkan produktivitas kedelai. Dukungan berbagai pihak tentu sangat penting untuk produksi skala besar.

Adapun Prof. Yulius B. Pasolon sebagai guru besar ke 71 mengangkat tema Agro-Ekologi dan Nutrisi Tanaman Sagu. Menurutnya, tepung sagu adalah sumber karbohidrat sehat yang punya nilai kalori tinggi seperti halnya beras, ubi kayu dan jagung. Sejatinya sagu punya karakter bervariasi dalam merespon kondisi tanah dan faktor lingkungan tempat tumbuhnya. Petani wajib memahami berbagai hal penting seputar produksi tepung sagu untuk hasil yang maksimal. “Beberapa tantangan masa depan untuk pengembangan sagu adalah budidaya, pengolahan, konservasi lahan hingga rekayasa genetik,” tegasnya. (feb/b)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top