Desertasi dan Tesis Bakal Diperketat – Kendari Pos Online
Jalan Sehat

pariwara
Iklan Jalan Sehat Kenpos Iklan 10 Iklan 23
Nasional

Desertasi dan Tesis Bakal Diperketat

Intan Ahmad

KENDARIPOS.CO.ID — Kasus Plagiasi yang masih marak terjadi di berbagai Perguruan Tinggi menjadi alarm pengingat Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Kemenristek Dikti). Kedepan, produk akademik, terutama di tingkat Pascasarjana (tesis), maupun program Doktor (desertasi) bakal diperketat. Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristek Dikti, Intan Ahmad menegaskan, pihaknya mendapatkan mandat khusus dari Menristek Dikti untuk membenahi produk pascasarjana dan doktoral. Nantinya, akan diupayakan seleksi yang lebih ketat. Misalnya Desertasi.  Sebelum masuk ke ranah sidang tertutup, sebuah Desertasi harus terlebih dahulu melalui penilaian para ahli dari luar kampus. Tidak cukup dosen setempat. “Ahli dari luar pun harus benar-benar orang yang layak menilai. Juga sesuai dengan bidangnya,” kata Intan di kantor Kemenristek Dikti, Rabu (4/10).

Intan menjelaskan, pengetatan ini mesti dilakukan karena desertasi merupakan produk penelitian yang amat krusial. “Desertasi itu penelitian yang luar biasa. Harus bisa memberikan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan,” ungkapnya. Terungkapnya beberapa kasus plagiasi seperti di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), harus diakui memang praktek plagiasi belum sepenuhnya bisa dihapus dari perguruan tinggi. Namun, menurut Intan, pihak dikti tidak akan mengorek satu persatu produk-produk akademik (skripsi, tesis, dan desertasi) yang selama ini telah dihasilkan. Termasuk bagi UNJ yang terindikasi kuat. “Itu tugas Senat kampus untuk membenahi, kami menatap ke depan saja,” ungkapnya.

Pembenahan lain yang mesti dilakukan oleh kampus adalah soal pembimbingan mahasiswa. Dalam aturan seorang dosen memang hanya boleh maksimal membimbing 10 orang mahasiswa. Namun, intan menjelaskan bahwa kenyataan di lapangan tidak sesederhana itu. Banyak dari dosen yang juga memegang jabatan penting seperti dekanat maupun rektorat. Dosen harus bisa mengukur kemampuannya dan keterbatasannya masing-masing. Sehingga bimbingan bisa berjalan lebih efektif. “ada satu mahasiswa yang dibimbing sekali sudah jadi, ada yang berkali-kali nggak jadi-jadi. Ini yang perlu perhatian lebih,” ungkapnya.

Terkait plagiasi, Intan mengakui memang perlu ada penegasan kembali terhadap kriteria kutipan, acuan, dan saduran sumber di sebuah karya akademik. Ada beberapa variabel yang salah dipahami seperti tingkat kemiripan (degree of smiliarity). “Ini tidak sama dengan plagiat,” kata Intan.
Selain itu, masih beredar pemahaman di kampus-kampus bahwa boleh menyamai karya orang lain dengan prosentase kemiripan tertentu. “Kalau karya ilmiah harus orisinal, tidak boleh ada kemiripan, beda dengan acuan. Kita harus mengacu, kalau tidak mengacu darimana kita dapat pemikiran?” pungkas Intan. (ttg/jpg)

 

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top