Tidak Mudah Meraih Gelar Doktor, Prof Zamrun : Kasus UNJ Jadikan Pelajaran – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
HEADLINE NEWS

Tidak Mudah Meraih Gelar Doktor, Prof Zamrun : Kasus UNJ Jadikan Pelajaran

Prof Zamrun

KENDARIPOS.CO.ID — Hampir genap dua tahun, Adryan Fristiohady menempuh pendidikan doktoral di University of Vienna, Austria. Dosen Fakultas Farmasi UHO ini rela meninggalkan keluarga, rekan kerja bahkan tunjangannya sebagai pengajar demi sebuah gelar S3. Begitu banyak tantangan yang harus dilewati Sekretaris Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia Sultra ini selama menjalankan studi. Mulai harus beradaptasi dengan lingkungan yang dingin hingga tak punya kenalan.

“Menempuh pendidikan doktor itu tidak mudah, apalagi kalau di luar daerah atau luar negeri. Harus sabar dan butuh pengorbanan,” ungkap Adryan lewat pesan singkatnya, kepada Kendari Pos. Mengikuti program doktor di Austria memiliki kebijakan tersendiri, khusus di Prodi Farmasi diwajibkan mengerjakan riset yang diberikan oleh pembimbing, mengikuti perkuliahan sebanyak 18-30 ECTS dan presentasi di international conference sebanyak 2-4 kali dalam 3 tahun masa studi.

Disertasi tergolong unik dimana berisi general introduction, mansucript publikasi dan general discussion, tekanan tambahan dimana syarat wajib untuk lulus adalah memiliki 3 publikasi dalam 3 tahun. Bersyukur di semester 4, bergabung dalam tim riset sehingga telah memiliki 2 paper yang dipublikasi di Cancer Letters Journal dengan Impact Factor 5,6 (Scopus Q1) dan International Journal of Oncology Impact Factor 3.025 (scopus Q2). “Melakukan penelitian dan publikasi ilmiah merupakan salah satu tantangan terberat dalam meraih gelar doktor,” jelas pria yang menyelesaikan pendidikan profesi Apoteker di UGM tersebut.

Pengalaman Adryan bisa jadi mewakili ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang saat ini menempuh pendidikan doktoral di luar dan dalam negeri. Meski mungkin ada beberapa detail kecil sedikit berbeda, namun secara umum pasti ada kemiripan. Bahwa, untuk meraih gelar doktor itu tidak mudah. Butuh perjuangan panjang dan kerja keras. Makanya, mereka sangat greget (marah, jengkel) saat mendengar ada oknum mahasiswa doktoral yang bisa mendapat gelar akademik tertinggi itu dengan mudah, melalui cara-cara yang tidak elok.

Ketua Dewan Guru Besar Universitas Halu Oleo (UHO), Prof. Dr. Sahidin mengakui tidak mudah untuk mendapatkan gelar doktor. Sebagai orang yang pernah melalui pengalaman itu, dirinya menilai sangat tidak mungkin bisa mendapatkan gelar itu dalam kurun waktu yang singkat. “Tidak mudah. Harus melalui proses panjang dan pastinya butuh pengorbanan,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, ada empat tahapan umum yang harus dilalui sebelum sesorang menjadi doktor. Pertama, jelas harus terdaftar dan mengikuti proses studi disebuah universitas. “Bisa diterima menjadi mahasiswa doktoral itu seleksinya ketat. Harus lulus uji yang ketat dan panjang. Itu pengalaman saya di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dimana saja harus diuji dulu oleh seorang guru besar,” katanya.

Tahap dua, lanjut wisudawan doktor terbaik ITB dengan IPK 4,0 (cumlaude) itu, bersangkutan harus menuntaskan studi selama enam semester dengan jumlah 72 satuan kredit semester (SKS). “Itupun intensitas kuliahnya kadang setiap minggu. Jadi memang butuh fokus untuk menyelesaikan mata kuliah ini,” sambungnya.

Tahap ketiga, kata pria yang menuntaskan studi doktornya hanya dalam waktu tiga tahun itu, merupakan yang paling berat. Yakni tahap penelitian. Mahasiswa program doktor diwajibkan menerbitkan satu jurnal internasional. Sulitnya, jurnal tersebut harus bersifat penemuan yang mengandung unsur kebaruan. “Biasanya kita kalau sudah penelitian, untuk menemukan objek yang belum pernah diteliti orang lain itu sulit sekali. Misalnya kita meneliti tentang kacang tanah, itu semua jurnal terkait kacang tanah harus dibaca tuntas. Kadang bisa sampai 1.000 jurnal. Supaya diketahui objek mana yang belum pernah diteliti,” jelasnya.

Hanya untuk menemukan objek penelitian itu, sambung Prof Sahidin, sudah membutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya. Bahkan kadang sampai tahunan. Setelah itu, baru penelitian dilakukan. “Untuk ilmu eksak seperti yang saya tekuni, penelitian harus benar-benar fokus. Saya pribadi, selama dua tahun, hampir tiap hari di laboratorium. Mulai jam stengah enam pagi sampai jam delapan malam. Itu pun masih harus dibantu dengan konsultasi pada promotor setiap pekannya,” papar pria yang lulus doktor tahun 2006 itu.

Tahap terakhir, si calon doktor harus lulus sidang promosi doktor. Proses ini, kata Prof Sahidin, biasanya lebih mudah untuk dilalui jika yang bersangkutan benar-benar melakukan penelitiannya. Pasalnya, pihak penguji biasanya diisi oleh guru besar yang kompetensi keilmuannya tidak diragukan lagi. “Untuk sidang, biasanya kita ditanya oleh pakar. Teori apa yang kita lahirkan dari penelitian ini. Disitulah kesempatan untuk diketahui, apakah ada plagiarisme atau tidak. Dari cara kita menjawab pasti ketahuan,” terangnya.

Tidak sampai disitu, apa yang dijelaskan Prof. Sahidin itu merupakan proses umum yang dilalui seorang calon doktor. Biasanya, kondisi di lapangan lebih sulit dari yang dijabarka. Misalnya, lanjut dia, jurnal penelitian seorang doktor harus memiliki standar lemaga pendidikan tinggi dan lulus uji lembaga internasional.

“Untuk Dikti, standar jurnal internasional itu harus lulus indeks scopus (lainnya ada goole scholarsip) sebagaimana yang digunakan Dikti. Saat ini, doktor itu hanya butuh satu jurnal internasional. Tapi dengan syarat diakui dunia,” tambahnya. Karena semua tahapan yang sulit itu, duga Prof. Sahidin, banyak orang memilih jalan pintas, misalnya melakukan plgiariasme jurnal ilmiah. Hanya saja, mereka yang melakukan plagiasi biasanya orang yang hanya mengejar gelar akademik untuk kepentingan pragmatis. “Zaman saya tahun 2000-an, tidak ada istilah plagiat sebenarnya. Akhir-akhir ini saja. Orang yang begitu, biasanya hanya untuk kejar promosi jabatan. Tetapi pada akhirnya akan ketahuan juga, jika diukur dari produktivitasnya membuat karya ilmiah setelah jadi doktor,” sambungnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, menjadi doktor merupakan amanah mulia. Keilmuannya harus mampu dipertanggung jawabkan di dunia pendidikan melalui karya ilmiah atau penelitian tertentu. Jika gelar doktor diperoleh dengan plagiarisme, maka dinilainya malah akan merusak reputasi lembaga pendidikan. “Dan juga nama baik pribadi dan promotornya yang rusak,” pungkasnya.

Rektor UHO, Prof Muh Zamrun menjelaskan, pendidikan doktor minimal bisa ditempuh selama tiga tahun dan maksimal lima tahun. Kalau sudah melebihi batas waktu, secara otomatis tidak akan tercatat lagi di sistem. “Setiap tahun, UHO bisa menelorkan 10-12 wisudawan program doktor. Kita berusaha maksimal, supaya mereka ini memenuhi kaidah standar dalam menempuh studi,” kata mantan Dekan FMIPA UHO ini, kemarin.

Dia menjelaskan, UHO berusaha maksimal memproteksi peluang terjadinya plagiarisme atau doktor dadakan yang bisa merusak citra institusi. Pria yang menguasai beberapa bahasa asing ini tidak ingin kejadian di UNJ terjadi di UHO. “Kita sudah proteksi sejak awal. Salah satu caranya dengan membagi tugas promotor secara merata. Karena kalau menumpuk ke satu orang, peluang terjadi “kecurangan” terbuka lebar,” jelasnya.

Cara lainnya, Prof Zamrun menginstruksikan agar proses perkuliahan hingga tahap pembuatan jurnal ilmiah dilakukan sesuai kaidah yang ada. Tidak boleh melenceng, apalagi sampai mengabaikan aturan. “Saya sudah sampaikan, kalau tidak layak lulus, jangan diluluskan,” tegasnya.
Lalu bagaimana kalau nanti ada yang ketahuan plagiat atau melalui “jalan pintas” untuk dapat gelar? Menurutnya, akan ada sanksi, mulai ringan hingga berat. Sanksi ringan misalnya pencabutan gelar dan penurunan jabatan bagi promotornya. “Bahkan, pada tingkat paling tinggi, sanksi pemecatan bisa saja dilakukan,” katanya.

Lebih jauh Prof Zamrun menjelaskan, kasus UNJ harus menjadi pelajaran bagi semua pihak, terutama sivitas akademika UHO. Terutama untuk selalu hati-hati dalam berbuat dan paling penting tidak keluar dari kaidah standar saat menempuh pendidikan doktor. “Kita berdoa dan berusaha supaya kejadian serupa tidak terulang di sini (UHO,red),” imbuhnya. (b/m1/ing)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top