Safari Camp Pramuka di Puncak Pakue Tengah Kolut, Ajang Menempa Diri Jadi Pribadi Tangguh – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Kolaka Utara

Safari Camp Pramuka di Puncak Pakue Tengah Kolut, Ajang Menempa Diri Jadi Pribadi Tangguh

Safari Camp Pramuka di Puncak Pakue Tengah Kolut.

KENDARIPOS.CO.ID — Banyak cara bisa dilakukan untuk menempa diri supaya menjadi pribadi tangguh. Salah satunya dengan berpetualang di hutan liar seperti yang dilakukan anggota Pramuka Penegak SMKN 1 Pakue Tengah, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut). Mereka rela tidur di atas tanah berlumpur dan keluar masuk hutan di dinding kawah Puncak Terengga yang berkabut.

Muh Rusli, Kolaka Utara

Pakue Tengah merupakan salah satu kecamatan yang terletak di dataran tinggi Kolut dengan luas sekira 191,93 kilometer persegi. Dengan hamparan wilayah yang didominasi perbukitan, Setiap senja terlihat indah dengan warna kemerahannya membiasi langit semenanjung utara wilayah itu. Di batas pergantian antara siang dan malam itu, sekumpulan anak remaja menjelang dewasa tergopoh-gopoh mengejar waktu. Dengan celana kain coklat seragam dan kaos bergambar tunas kelapa yang merupakan ciri khas mereka sebagai anak pramuka.

Mereka berasal dari SMKN 1 Pakue Tengah yang sedang melakukan safari camp dengan berjalan kaki. Langkah mereka cepat berpacu dengan beban di punggung, mulai tas ransel berisi pakaian bercampur beras, panci dijinjing hingga terpal buat tenda, mereka pikul bergantian.

Mereka mengejar waktu perjalanan yang dimulai dari Desa Latali dengan mendaki bukit menuju Dusun III Desa Terengga, wilayah ketinggian paling buncit di perkampungan itu. Medan perjalanan dengan kemiringan rata-rata 45-60 derajat itu, membuat mereka harus rutin meneguk air dari botol kemesan untuk menjaga konsentrasi.

Sepanjang jalan yang dilalui merupakan perkebunan cengkih yang masih muda. Serta tanaman kakao yang sudah dibabat sebagian serta dibiarkan buahnya menghitam karena terserang hama. Batas antar desa Latali-Tetengga jalannya rusak parah meski tersentuh beton setapak. Perjalanan yang menantang hingga melintasi waktu kumandang azan Magrib pun mereka belum mencapai pertengahan jalan akibat kelelahan. Mereka harus diguyur hujan yang membuatnya semakin tangguh karena haus dahaga terbayar.

Diantara mereka, ada lima orang merupakan penegak bantara yang dipandu oleh Hendra selaku Pembina Utama. Kemudian kak Usman menjabat pemateri tetap serta seorang gadis muda bernama Hijra Paratiwi yang akrab disapa Kak Tiwi. Tidak ada kata letih saat mereka tiba di tempat tujuan. Semuanya bergegas smendirikan tenda dan melanjutkan untuk memasak bagi kaum putri. Ketiga pembimbing mereka merupakan kunci keriuhan dibalik tenda biru di malam berkabut dan gelap gulita itu. Nyanyian “di tengah-tengah hutan, sayup-sayup” hingga tepuk khas organisasi itu memecah keheningan kawah yang dinginnya menggetarkan rahang.

Pukul 23.00 wita merupakan saat dimana Kak Usman mulai menjalankan kewajibannya sebagai pemberi materi kepramukaan hingga pukul 24.00 wita. Beralaskan matras masing-masing, tidur di atas tanah berlumpur akibat hujan yang mengguyur malam itu mengharuskan mereka mampu menerima keadaan. Pelajar itu meninggalkan kasur empuk di rumah karena memilih untuk dididik tangguh bertahan di alam terbuka. Kata kak Hendra, sebagai generasi yang menginjak dewasa tentunya bagi dia sangat rentan dengan berbagai penyimpangan dan kenakalan-kenakalan remaja hingga harus ditempa secara berkelanjutan. “Mereka memilih ikut pramuka karena ingin jadi pelajar yang lebih baik. Safari camp ini sendiri guna mengamalkan tuntutan dasa (sepuluh) Darma yang ke dua yakni cinta alam dan kasih sayang sesama manusia,” terang Alumni Veteran RI Makassar itu, kepada Kendari Pos.

Para penegak itu tidaklah tertidur pulas hingga menjelang pagi. Dini hari yang hening itu pukul 03.00-05.00 wita mereka dibangunkan mengikuti malam renungan yang membuatnya hanyut diantara isak tangisnya. Mereka hanya semalam meninggalkan rumah. Namun sebelum kembali terlebih dahulu melakukan perjalanan ke beberapa tempat di tepian hutan belantara menyambangi beberapa objek wisata alam air terjun sebelum pulang dengan kembali berjalan kaki.

Menurut Kak Usman, di sekolah mereka ada kegiatan yang serupa tanpa keluar lingkungan pendidikan seperti perkemahan Sabtu-Minggu (persami) dan Perkemahan Jum’at, Sabtu dan Minggu (Perjusami). Kegiatan lain selain safari camp antara lain hiking (berjalan) dan sudah berlangsung sejak 2014. Sedangkan kak Tiwi sendiri juga telah lama eksis di organisasi tersebut. Meski sudah menyandang alumni Fakultas STIM LPI Makassar, ia masih tetap melibatkan diri untuk bergabung bersama rekan-rekannya dalam setiap kegiatan kepramukaan khususnya menyangkut safari camp itu.

Para pembina itu sejak 2014 sudah menyambangi banyak tempat hampir merata di utara kabupaten itu. Tempat terjauh kata mereka menggelar safari yang pernah dilakukan yakni di lokasi Gua Datuk Luwu. Sekadar diketahui, di tingkat provinsi, Kwarcab Kolut yang saat ini dipimpin Drs Tahrim Hodi membawahi 15 kwaran sebagai salah satu kwarcap tergiat di Sultra. Setiap tahunnya organisasi ini mendapat suntikan dana dari pemkab sebesar Rp 750 juta. (b/*)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top