2021, Sultra Bisa Krisis Air Baku – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Metro Kendari

2021, Sultra Bisa Krisis Air Baku

ELYN IPO / KENDARI POS
TKPSDA Sultra membahas perubahan pengelolaan sumber air baku khususnya di wilayah sungai Towari-Lasusua. Potensi krisis air di Sultra juga ikut dibahas. Forum itu siap mengawal program di kementerian PU-PR dalam upaya mengantisipasi potensi krisis air. Ketua TKPSDA Sultra, Nasir Andi Baso memimpin rapat pembahasan, Senin (2/10)

KENDARIPOS.CO.ID — Kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) di Sultra dari waktu ke waktu terus tergerus. Sehingga sumber air baku mengalami defisit setiap saat. Bahkan bila tidak segera diantisipasi, para ahli memprediksi pada 2021 mendatang, Sultra sudah kekurangan air baku.

Untuk mengantisipasi itu Tim Koordinasi Penanggulangan Sumber Daya Air (TKPSDA) Sultra menggelar rapat pembahasan perubahan pengelolaan sumber air baku khususnya di wilayah sungai  Towari-Lasusua. Seorang konsultan yang melakukan penelitian ketersediaan air di Sultra yang dihadirkan sebagai narasumber dalam rapat tersebut, Bibit Purwanto mengatakan, pemerintah harus bergerak cepat untuk mengantisipasi potensi krisis air di daerah ini. Menurut dia, sudah ada enam sungai di kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara yang mengalami defisit air cukup signifikan.

“Misalnya sungai Lasusua, sungai Tamborasi, itu sudah semakin kecil. Sekarang masih aman untuk mencukupi kebutuhan air. Tapi kalau dibiarkan begitu saja, tahun 2021 bisa saja sudah krisis,” ujarnya dalam pertemuan yang berlangsung d Horison Hotel Kendari, Senin (2/10).

Bibit Purwanto menambahkan, Sultra kekurangan infrastruktur pendukung untuk pemeliharaan sumber daya air itu. “Infrastruktur belum terbangun, seperti bendungan, tanggul, dan lainnya itu yang perlu sebenarnya,” tambahnya.

Ketua TKPSDA Sultra, Nasir Andi Baso tak menampik analisa Bibit Purwanto itu. Kekhawatiran berbagai pihak atas potensi krisisnya sumber air itu cukup beralasan. Sebab fakta di lapangan memang demikian. “Masyarakat kita melihat air itu bukan sesuatu yang penting karena memang dekat dengan mereka. Padahal fenomena banjir saat hujan dan kering saat kemarau itu sudah tanda-tanda alam yang mengkhawatirkan sehingga segera kita antisipasi,” jelasnya.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sultra ini menjabarkan jika tim yang dipimpinnya itu adalah gabungan dari unsur pemerintah dan non pemerintah. Sehingga pihaknya akan menampung masukan dari komisi dalam tim untuk selanjutnya dibuat rekomendasi ditujukan ke pusat. “Sidang ini untuk merancang dokumen perencanaan. Outputnya nanti akan ada rekomendasi yang akan kita teruskan ke Kementerian PU-PR,” katanya.

Khususnya, Sungai Towari dan Lasusua yang dibahas dalam pertemuan itu kata dia masuk dalam gawean pemerintah pusat yang diwakili oleh balai sungai di Sultra. Karenanya, tetap membutuhkan dukungan penuh dari balai sungai itu. “Karena sungai kewenangan pusat, harapan kita bisa didanai oleh APBN infrastrukturnya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV Kendari, Eka Nugraha Abdi membenarkan terjadinya degradasi sungai itu. Bahkan dia berpendapat bisa lebih cepat dari waktu yang diperhitungkan 2021 itu. “Mestinya dalam setiap perencanaan kita mencari tampungan air sebanyak mungkin, menurut saya Sultra masih bisa berbuat banyak antisipasi untuk itu,” katanya.

Soal pengawalan usulan ke kementerian, dia mengaku siap meneruskan hasil sidang itu ke pihak kementerian. “Apa yang bisa kita bikin di tahun 2018 itu tergantung rekomendasi yang kita sepakati hari ini. Saya juga sangat mengapresiasi perhatian pemerintah daerah untuk merumuskan ini bersama-sama,” tambahnya. (ely/c)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top