Tradisi Pesta Karia’a Berjamaah di Wakatobi, Ritual Menuju fase Dewasa, Ratusan Anak Diarak – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Wakatobi

Tradisi Pesta Karia’a Berjamaah di Wakatobi, Ritual Menuju fase Dewasa, Ratusan Anak Diarak

KENDARIPOS.CO.ID — Tradisi karia’a harus diikuti setiap anak gadis maupun laki-laki yang mulai beranjak dewasa. Biasanya, acara seperti ini hanya melibatkan beberapa orang saja, tapi bisa juga dilakukan secara berjamaah dengan melibatkan ratusan orang bahkan seribuan lebih. Hal itu bisa dilihat dalam Festival Barata Kahedupa (FBK) yang digelar di Kaledupa Selatan belum lama ini.

Asty Novalista, Wakatobi

Ratusan anak gadis berjejer dan saling berhadap-hadapan. Jarak diantara mereka hanya sekira dua meter tanpa dinding pembatas. Di belakang mereka, duduk orang tua, keluarga dan handai taulan yang ingin menyaksikan prosesi adat berlangsung. Mereka seperti “disandera”, tapi sebenarnya kegiatan ini adalah salah satu rangkaian ritual karia’a, anak-anak Kaledupa, Kabupaten Wakatobi yang mulai beranjak dewasa.

Tak hanya perempuan, beberapa anak laki-laki juga diikutkan dalam ritual ini. Dan hal inilah yang membedakan dengan kegiatan karia’a pada umumnya. Karia’a diawali dengan proses hennauka moane (turunnya laki-laki). Ratusan moane yang belum baliqh turut terlibat. Sebelum sampai ke lokasi prosesi adat, ratusan anak-anak ini berjalan menyusuri kampung hingga sampai tujuan yang ditentukan. Mereka harus mengikuti ritual hingga tuntas.

Gunanya, agar anak laki-laki yang mengikuti ritual ini bisa menjadi pribadi yang bertanggung jawab, mandiri dan siap menghadapi tantangan ke depannya. Intinya, dia diharapkan bisa menjadi pribadi yang berguna, baik untuk keluarga, masyarakat maupun bangsa dan negara. Begitu juga dengan anak perempuan. Sebelum ikut karia’a, mereka harus ikut hennauka wowine (turunnya anak perempuan), yakni ritual di lapangan sebagai lokasi pusat pertemuan seluruh peserta. Perempuan yang akan beranjak dewasa dan berasal dari berbagai desa dan kelurahan ini di arak keliling kampung dengan menggunakan konsoda’a.

Konsoda’a merupakan tempat duduk yang disiapkan khusus untuk perempuan yang ikut karia’a. Di atas Konsoda’a, anak perempuan duduk saling berdampingan. Ada yang berjumlah empat orang, adapula kurang atau lebih dari itu, tergantung dari besar Konsoda’a. Setelah diarak, perempuan muda di atas Konsoda’a diturunkan pada satu titik atau lokasi ritual. Untuk lokasinya dipusatkan di lapangan bola Desa Sandi Kecamatan Kaledupa Selatan sebagai Tuan Rumah FBK tahun 2017.

Di lokasi ini, banyak tahapan yang dilalui sebelum masuk pada puncak acara. Mereka berdandan menggunakan pakaian khas Kaledupa yang dilengkapi dengan riasan wajah dikumpulkan oleh keluarga yang mengantar. Setelah berkumpul, ada sesi baca doa, pasali, kaki dioleskan kunyit hingga tahap injak tanah.

Serangkaian proses ini masih kental akan budaya yang diwariskan nenek moyang dulu. Meski zaman telah berubah, tahapan ritual tetap melekat dalam proses karia’a sebagaimana mestinya. “Proses adat ini memiliki gambaran dan makna bahwa perempuan sangat disanjung dan dihormati,” kata La Ode Husein, tokoh adat Keladeupa Selatan, kemarin.

Tokoh masyarakat Kaledupa Selatan lainnya, Rajimun menyebut tahun ini peserta henauka moane dan hennauka wowine jumlahnya sekira seribu orang lebih dengan konsoda’anya berjumlah 600. Sama halnya dengan era raja Kahedupa, pesta karia’a memiliki tujuan dan harapan yang sama. Karia’a ini dapat mengembangkan budaya asli agar generasi penerus bisa mengenal budaya ini. “Pesta karia’a ini diharapkan dilakukan secara massal,” ujarnya.

Meskipun dilakukan pada siang hingga sore hari, pesta kembang api dan petasan tak terhindarkan. Bukan bagian dari prosesi namun ini dibolehkan alias tidak dilarang. Ini menandakan kegembiraan karena pesta adat ini ramai diikuti dan dikunjungi masyarakat. Uniknya, dalam proses hennauka moane rata-rata diikuti oleh anak berusia dini hingga beranjak remaja. Sementara untuk peserta hennauka wowine, ada yang baru berusia tiga bulan. Tak ada batasan usia namun rata-rata diikuti oleh gadis berusia remaja atau yang belum menikah. Pesta adat karia’a tak bisa dilepaskan dari sejarah leluhur masyarakat Wakatobi. Menurut cerita, kari’a merupakan pesta kemenangan para pejuang Islam di Kaledupa. Pesta ini pertama kali dihelat pada 1260 Masehi. Diselenggarakan tepatnya pada masa Pemerintahan Raja Kahedupa ke satu yang bernama Muhammad Ndangi Tongka Allamu dan permaisurinya, Ratu Wa Bae Baengu.

Pada saat itu, ketika pesta karia’a berlangsung, raja dan permaisuri mengenakan pakaian kebesaran kerajaan. Dahulu, pesta karia’a ini biasanya dilaksanakan pada acara penobatan, pemutaran payung kerajaan dan sunnatan massal. Pada saat itu, baik perempuan maupun laki-laki dari Kaledupa yang belum masuk Islam akan disunat secara massal. Selama berlangsung, pesta karia’a diiringi dengan ritual adat serta menampilkan hiburan rakyat berupa tarian tradisional. Pesta karia’a diwariskan dari era Kerajaan Kahedupa hingga masa Barata Kahedupa atau sekarang ini.

Kini, pesta karia’a memang masih terus dilakukan. Bedanya dengan zaman dulu, karia’a saat ini bisa dilaksanakan baik perseorangan, berkelompok maupun berlangsung besar-besaran atau secara massal. Pesta karia’a yang dilakukan ratusan orang jarang terjadi. Dan pemandangan itu akhirnya bisa disaksikan masyarakat setempat maupun pengunjung pada perhelatan Festival Barata Kahedupa (FBK) tahun 2017 yang berlangsung di Kaledupa Selatan belum lama ini. Pada dasarnya, tanpa ikut campur pemerintahpun, pesta karia’a tetap akan berlangsung. (*/b)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top