Perjuangan La Ode Temo Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus di Baubau, Dirikan Tempat Belajar Pakai Uang Pribadi – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Bau-bau

Perjuangan La Ode Temo Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus di Baubau, Dirikan Tempat Belajar Pakai Uang Pribadi

La Ode Temo saat bersama anak didiknya.

KENDARIPOS.CO.ID — Sulit mencari pribadi seperti La Ode Temo. Kepekaan dan kepedulian pria 53 tahun terhadap lingkungan sosialnya begitu tinggi. Nuraninya tergugah ketika menyaksikan banyak anak berkebutuhan khusus putus sekolah. Dia rela merogoh kantong demi mendirikan tempat belajar buat mereka.

Akhirman, Baubau

Jika gelar “pahlawan tanpa tanda jasa” masih ada, maka julukan itu mungkin layak disematkan kepada La Ode Temo. Demi mendirikan tempat belajar bagi anak-anak berkebutuhan khusus, rela menggunakan uang pribadinya. Bahkan rela mendonasikan gaji pegawainya Rp 1 juta perbulan untuk membayar honor guru.

Semua itu dia lakukan agar anak berkebutuhan khusus bisa lanjut sekolah. Pria alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahteraan Sosial (STIKES), Ujung Pandang itu berkeinginan membuat yayasan. Sebagai wadah pendidikan dan penyantunan anak yang keterbatasan fisik. Dirinya ingin kesan diskriminasi perlakuan dalam menutut ilmu, antara anak berkebutuhan khusus dan normal tidak ada lagi.

“Anak berkebutuhan khusus juga memerlukan pendidikan seperti anak normal lainya. Keduanya tidak boleh dibeda-bedakan,” ungkap La Ode Temo saat ditemui, kemarin. Hanya saja, tujuan itu terkendala anggaran. Untuk mendirikan sebuah gedung yayasan tentu memerlukan modal yang tidak sedikit. Karena harus membangun gedung sebagai ruangan belajar. Kemudian membayar honor guru.

Namun, karena keinginannya cukup besar ia mencoba melakukan komunikasi untuk meminjam pakai gedung milik PGRI. Hasilnya, ia diizinkan, sehingga biaya yang dikeluarkan bisa diminimalisir. Bangunan tua milik PGRI hanya butuh direhab saja. “Alhamdulilah, pada 1998 yayasan yang saya bangun mulai berjalan. Murid SMPLB pertama saat itu satu orang. Gurunya juga satu, saya ambil bekas eksodus, La Ode Nurhasan. Saya beri honor kala itu Rp 50.000 perbulan dari uang pribadi,” kenang pegawai Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Busel itu.

Beselang satu tahun, yayasan yang didiriknya mulai ramai. Sebab, murid SDLB yang tamat tidak lagi berhenti sekolah, mereka langsung lanjut di SMPLB. Sehingga pada tahun 2000, dia kembali membuka jejang tingkatan SMALB disertai asrama panti tempat tinggal siswa. Hanya saja, lagi-lagi niatnya itu membutuhkan biaya besar, terlebih lagi untuk pembuatan asrama. Tapi, karena nawaitunya untuk mecerdaskan anak bangsa khususnya mereka yang berkebutuhan khusus, maka ia kembali merogoh kantong pribadi.

“Saya tidak ingatmi berapa biaya pendirian asrama panti saat itu. Tetapi, semua pakai dana pribadi dengan meminjam uang istri. Syukurnya tanah yang kita gunakan milik PGRI, diizinkan untuk pijam pakai. Tetapi, dari semua itu, jumlah tenaga guru juga bertambah sampai lima orang. Sementara kita sama sekali belum tersentuh bantuan pemerintah pusat, lebih-lebih daerah. Makanya, saya beritahu lagi istriku untuk gunakan gajiku Rp 1 juta perbulan biaya honor para guru yang saat itu Rp 200.000 perbulan. Itu saya lakulan hingga munculnya program dana BOS,” ucapnya.

Dengan adanya asrama, maka sebagian besar siswa berkebutuhan khusus tinggal di panti. Dengan diawasi langsung dirinya bersama istri. Dan pemerintah provinsi (Pemprov) Sultra mulai meberikan bantuan berupa biaya makan anak panti Rp 3.000 perhari. Sementara perhatian dari pemerintah daerah belum ada. Bantuan itu sebenarnya tidak memadai, untungnya ada beberapa dermawan yang tanpa dipanggil atapun diminta, sering datang dengan memberikan bantuan. Berupa bahan makanan, beras dan mie instan. Hal seperti ituk kerap terjadi ketika momen-momen peringatan hari besar. “Saya masih ingat. Satu-satunya anggota DPR yang datang mengujungi panti anak SLB sampai saat ini baru Umar Arsal, Anggota DPR RI dapil Sultra. Umar Arsal memberikan sejumlah bahan makanan dan sumbangan uang Rp 10 juta waktu itu,” kenang suami Hj Salwiah ini.

1 of 2

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top