Penyidik Bidik Calon Tersangka Dugaan Korupsi di Dishut Konut – Kendari Pos Online
Iklan pajak

Konkep
UHO Cup Iklan Iklan 10 Iklan 23
Hukum & Kriminal

Penyidik Bidik Calon Tersangka Dugaan Korupsi di Dishut Konut

Dolfi Kuemaseh

KENDARIPOS.CO.ID — Proses penyidikan dugaan korupsi pengadaan bibit fiktif Dinas Kehutanan Konut tahun 2016 di Subdit III Tipikor Ditreskrimsus Polda Sultra berjalan cukup lama. Berkas empat tersangka hanya bolak balik antara penyidik dan jaksa selama berbulan-bulan. Bahkan salah seorang tersangka, Muhammadu sudah meninggal dunia.

Berkas empat tersangka telah lama dilengkapi penyidik dan kini dalam tahapan penelitian jaksa . Meski begitu, penyidik masih mengembangkan kasus ini. Sebab, berdasarkan pemeriksaan terdapat satu nama yang ada kaitannya dengan perkara tersebut.

Kasubbid PID Humas Polda Sultra, Kompol Dolfi Kumaseh membenarkan adanya potensi bertambahnya tersangka, selain para tersangka yang berkasnya sudah diajukan ke jaksa. Pihak yang dianggap ikut bertanggung jawab yakni mantan Kepala Dinas Kehutanan Konut sebelum Amirudin Supu. Namun, proses ke arah penyidikan kata Kompol Dolfi Kumaseh, penyidik masih butuh bukti-bukti kuat.

Saat ini kata Kompol Dolfi, penyidik masih fokus pada berkas empat tersangka agar segera dinyatakan lengkap. Koordinasi masih berjalan dengan jaksa peneliti di Kejati Sultra. “Sudah kami kirim (berkas). Kami masih menunggu dulu sinyal dari kejaksaan,” ujar Kompol Dolfi Kumaseh, kepada Kendari Pos.

Menyangkut nama-nama mantan pejabat di era Aswad Sulaiman menjabat Bupati Konut diduga menikmati pengadaan bibit itu, Kompol Dolfi Kumaseh enggan memastikan. “Penyidik masih fokus agar berkas empat tersangka segera dinyatakan lengkap. Kan masih ada satu tersangka yang jadi DPO. Berkas tersangka DPO akan kami rampungkan setelah tertangkap,” ungkap Kompol Dolfi.

Untuk diketahui, semual penyidik menetapkan dua tersangka yakni mantan Kepala Dinas Kehutanan, Amirudin Supu selaku kuasa pengguna anggaran (KPA) dan Muhamaddu selaku pejabat pembuat komitmen (PPK). Atas petunjuk jaksa, penyidik kembali menetapkan tiga tersangka yakni Ahmad bin Tulangkuse sebagai rekanan proyek, Willy Jumarni dan Zainal sebagai pemeriksa barang.

Hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Sultra menemukan kerugian negara sebesar Rp 700 juta. Khusus pengadaan bibit dan penanaman jati, terjadi perbedaan besaran anggaran dalam kontrak dan daftar pagu anggaran (DPA). Dalam kontrak tertera Rp 879 juta, namun dalam DPA berjumlah Rp 1,176 miliar. Sehingga ditengarai, selisih anggaran antara kontrak dan DPA diselewengkan. Lalu uang telah dicairkan 100 persen namun pekerjaannya belum selesai. Sedangkan pengadaan bibit eboni dan bayam diduga fiktif. Seharusnya bibit eboni dan bayam diadakan masing-masing sebanyak 2.750 bibit. Faktanya, hanya bibit eboni sebanyak 2.750. Bibit bayam tidak lagi diadakan. (ade/c)

 

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top