Menkes : PCC Masuk Kelompok Adiktif – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Nasional

Menkes : PCC Masuk Kelompok Adiktif

Menkes Nila F Muluk

KENDARIPOS.CO.ID — Menteri Kesehatan (Menkes), Nila F Moeloek turut prihatin dengan adanya kasus penyalahgunaan PCC. Nila sangat berharap Badan Narkotika Nasional (BNN) segera mengidentifikasi kandungan obat sekaligus menetapkan status zat tersebut dalam kelompok adiktif. Hal tersebut dikarenakan jumlah korban berusia muda lebih banyak. “Jika ini terbukti zat psikotropika, Kemenkes mengingatkan agar masyarakat berhati-hati. Kami juga berharap agar BNN menginvestigasi secepatnya,” tegasnya.

Selain itu Nila juga mengatakan jika kementeriannya sudah menindaklanjuti hingga ke dinas kesehatan setempat. Nila menghimbau agar dinas kesehatan untuk melakukan pengawasan peredaran dan penggunaan obat. Bahayanya PCC juga di tuturkan oleh Spesialis kesehatan jiwa RSAL dr Ramelan Surabaya dr. Ketut Tirka Nandaka SpKJ. Dia menjelaskan bahwa somadryl merupakan merek dagang yang di dalamnya mengandung PCC. “Ada kombinasi antara Obat Paracetamol, Carisoprodol dan Caffein. Corisoprodol membuat gejala sakau dan kecanduan,” tuturnya.

Lebih lanjut Tirka menjelaskan bahwa obat yang mengandung PCC punya khasiat melemaskan otot. Dia menyebutkan cara kerja obat tersebut hampir sama dg benzodiazepin, alprazolam, dam lexotan.
“Gejala yg berbahaya dari Criprosodol adalah, gerakan motorik yang tidak terkendali,  kejang,  tremor, dan tidak sadar,” tuturnya.

Masalah tersebut juga mendapat perhatian KPAI. Komisioner KPAI Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak Jasra Putra menyampaikan keprihatikan dan penyesalan atas kasus konsumsi pil PCC anak-anak di Kendari. Dia mengatakan jumlah korban yang mencapai 64 anak itu merupakan kasus yang luar biasa. ’’Kami mendukung pemda setempat menetapkan kasus ini sebagai kejadian luar biasa (KLB, red),’’ tutur dia Sabtu (16/9).

Jasra meminta rumah sakit melakukan penanganan korban dengan sebaik-baiknya. Sehingga hak-hak kesehatan anak-anak yang menjadi korban pil memabukkan itu tidak terabaikan. Dia juga berharap masyarakat menghentikan penyebaran video rekaman anak yang ’’gendeng’’ setelah mengkonsumsi pil PCC itu. Supaya tidak menimbulkan dampak buruk bagi perkembangan anak itu kedepannya.

KPAI mendesak supaya BNN, polisi, BPOM, serta Kemenkes menyelidiki kasus ini dengan serius. Jika benar pil PCC sudah tidak lagi dimasukkan dalam kategori obat, karena berbahaya sejak 2013 lalu, kenapa sampai sekarang masih beredar. Oknum pengedar, pengusaha apotik, bahkan sampai produsen yang terlibat dalam perederan pil PCC harus ditindak.

’’Kepada orang tua dan masyarakat bersama-sama meningkatkan pengawasan pergaulan anak-anak, supaya tidak lagi ada yang mengkonsumsi pil ini,’’ jelasnya. Menurut Jasra peran lingkungan masyarakat serta keluarga sangat penting. Apalagi peredaran pil PCC diduga kuat berjalan dari tangan ke tangan. Apalagi harga belinya cukup terjangkau di kisaran Rp 20 ribu per butir. (wan/jpg)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top