Curahan Hati Korban Longsor di Konawe, Stok Makanan Menipis, Janji Bantuan Tinggal Kenangan – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Konawe

Curahan Hati Korban Longsor di Konawe, Stok Makanan Menipis, Janji Bantuan Tinggal Kenangan

Agus hanya bisa pasrah. Dia sudah lima bulan tinggal di tenda pengungsian, setelah rumahnya hancur dilanda longsor

KENDARIPOS.CO.ID — Banjir dan longsor yang melanda Kelurahan Sampara, Konawe pada April lalu, masih menyisakan duka sampai saat ini. Rumah rata dengan tanah, barang-barang tak bisa diselamatkan. Jadilah, mereka tinggal di tenda pengungsian. Lima bulan berlalu, belum ada perbaikan nasib mereka. Janji bantuan kini hanya tinggal kenangan.

Helson Mandala Putra, Konawe

Agus hanya bisa pasrah. Harapannya agar bisa kembali memiliki rumah seperti dulu, sepertinya masih jauh terkabul. Sekarang, dengan terpaksa dia bersama keluarganya tinggal di tenda pengungsian berukuran 6×10 meter. Mendapatkan makanan dari uluran tangan kerabat dan tetangga. Namun, akhir-akhir ini, dia makin gelisah karena persediaan untuk kebutuhan sehar-hari makin menipis. Sementara bantuan tak kunjung datang.

Pasca banjir dan longsor yang telah meluluhlantakan kediamannya April lalu, pria 54 tahun bersama warga lainnya sempat dijajikan bantuan, khususnya bakal dibuatkan rumah baru. Namun, hingga kini, setelah lima bulan berlalu, belum juga ada realisasi. “Kami khawatir, soalnya kebutuhan sehari-hari mulai menipis. Janji untuk dibangunkan rumah juga belum terealisasi hingga kini,” ujar Agus.

Sebelum bencana alam melanda kampungnya, pria yang kini tinggal bersama istri dan cucunya di tenda pengungsian itu bekerja sebagai pembuat batako. Penghasilannya, cukup untuk menghidupi keluarganya, walaupun sulit dikatakan sejahtera. Tapi setelah peristiwa naas itu, dia tak memiliki apa-apa lagi. Semua peralatan membuat batako “ludes”.

Saat ini, dia berencana mencari pekerjaan baru, namun usia yangs sudah lanjut membuatnya tidak bisa sembarang bekerja. Makanya untuk sekadar menyambung hidup, selain berharap dari anaknya yang kini mulai beranjak dewasa, juga hanya mengharapkan uluran tangan dermawan dan kerabat.

“Sebenarnya, saya ingin membuat batako lagi. Hanya tak punya modal dan tempat untuk membuatnya,” jelasnya. Kondisi tubuhnya yang mulai tidak stabil, membuat dia hanya pasrah menanti nasib. Apalagi, belakangan ini selalu jatuh sakit, sehingga badannya semakin lemah. Mungkin ini pengaruh hidup di tenda yang kurang steril. Saat siang penghuninya seperti terbakar, sedangkan malam hari, angin malam menusuk tulang hingga ke sum-sum. Sehingga membuat tubuh mereka menggigil, dan menambah risiko terserang penyakit.

Agus hanya diam dan menunggu cobaan mereka berakhir. Namun berbeda dengan anaknya, Asnin Januari (28), ia terus menuntut janji pemerintah. Dikatakannya, saat kejadian beberapa bulan lalu, pihak pemerintah, mulai dari kelurahan, kecamatan, dan kabupaten semua turun tangan. Ia pun merasa senang kala itu. Namun seiring waktu bergulir, janji itu tinggal kenangan.

1 of 3

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top