Negara Butuh Naga, Oleh : Azrul Ananda – Kendari Pos Online
Iklan pajak

Konkep
UHO Cup Iklan Iklan 10 Iklan 23
Kolom

Negara Butuh Naga, Oleh : Azrul Ananda

KENDARIPOS.CO.ID — Berkali-kali saya tekankan, enaknya di dunia media ini, kita bisa bertemu dan belajar dari berbagai macam orang. Baru-baru ini, saya bertemu dua pebisnis dengan kelebihan ’’sixth sense’’, namun dari dua spektrum usia yang berbeda. Kerja di media itu seperti belajar tanpa henti, setiap hari. Kalau kita punya kemampuan untuk menampung segala data yang masuk, kita bisa mengerti begitu banyak hal. Kalau tidak mampu, ya tumpah-tumpah, muntah-muntah, kepala pecah, dan lain sebagainya. Wkwkwkwk…

Kita belajar mengapresiasi orang dari kalangan manapun. Bisa mendapatkan ide dan inspirasi dari siapapun. Sesekali, kita bertemu dengan manusia-manusia ajaib yang punya dorongan dan kemampuan untuk mengubah keadaan. Orang-orang ini punya ciri-ciri yang sama: Superantusias. Kalau gerak supercepat. Kalau jalan supercepat. Wkwkwkwk…

Baru-baru ini, saya bertemu dengan dua di antaranya. Yang satu sudah sangat terkenal, sangat senior, sudah banyak mewujudkan impian dan ambisi. Namun, sekarang seperti punya mimpi baru lagi, dan dengan penuh energi –seperti energi anak muda– mencurahkan segalanya untuk sebuah project baru. Di tengah-tengah situasi ekonomi yang sedang banyak dikeluhkan ini, dia melakukan sesuatu yang masuk kategori ’’Blockbuster’’. Bahkan superblockbuster.

Banyak orang yang tidak percaya. Bahkan di tingkat menteri pun bicara kepada dia kalau mereka tidak percaya. Tapi, orang-orang seperti ini, kalau dianggap seperti itu, biasanya justru lebih semangat lagi. Dan dia dengan begitu semangat menjelaskan mengapa dan apa yang dia lakukan ini harus dilakukan. Kalau tidak begini, maka negara kita ya akan begini-begini saja. Bukan hanya negara, pebisnisnya pun akan begitu-begitu saja. Saat makan siang, dia mengatakan mengapa dulu negara kita pernah melejit dalam banyak hal. Tapi sekarang seperti biasa-biasa saja, tidak ada hal-hal yang membuat orang kagum dan terkesima.

Dia bilang, karena dulu ’’naga-naga’’-nya masih aktif bergerak langsung. Saling mendorong, saling bergerak, dan itu memicu banyak kemajuan. Sebagai salah satu ’’naga’’, dia merasa punya tanggung jawab untuk kembali turun. ’’Untuk melakukan hal-hal seperti ini, profesional tidak akan bisa. Mereka tidak akan berani berbuat atau mengambil risiko. Naganya harus turun.’’ Begitu kurang lebih ucapannya. Perbincangan berlanjut, menyampaikan contoh-contoh lain yang serupa di berbagai bidang bisnis. Bagaimana kalau ’’naga’’ atau ’’suhu’’ atau ’’orang gila’’-nya tidak berbuat, maka segalanya jadi ’’biasa-biasa saja’’.

Seorang rekan lantas menyebut istilah yang tepat untuk ’’orang-orang gila’’ itu. Bahwa mereka punya ’’sixth sense’’. Tidak murni berdasar perhitungan, melainkan intuisi yang kuat. Cerita di atas dari contoh ’’naga senior’’. Tidak lama saya bertemu dengan satu lagi orang yang tipe ajaib itu. Usianya masih awal 30-an, generasi di bawah saya, dan sekarang sudah sangat berperan mengubah kehidupan kita sehari-hari. Dan dia masih punya mimpi nantinya akan melakukan apa lagi. Anak muda ini sudah terbentur banyak masalah, dan dengan penuh energi terus bergerak mengatasinya. Jalan dia masih panjang.

Saya bisa merasakan apa yang dia rasakan. Segala antusiasme, segala ide-ide berani, segala keinginan. Dan orang-orang seperti kami kadang memang sulit cari teman diskusi yang sepemahaman. Yang muda-muda ini, nanti akan ada nabrak-nabraknya. Yang hebat akan mampu mengatasinya. Tapi, saya bercanda ke dia, kalau dia masih jauh dari tantangan selanjutnya: Ketika dia dan timnya mulai bertambah usia, ketika mulai harus pindah haluan, dan –yang mungkin paling sulit– ketika harus mendelegasikan atau harus terjadi regenerasi.

Memang, secara teori, apa yang saya tulis ini bukan ilmu baru. Yang dimaksud ’’sixth sense’’ itu merupakan tema konsisten dalam cerita-cerita orang-orang hebat. Tim Cook, yang sekarang CEO Apple, juga termasuk yang menyebutkan bahwa intuisi merupakan faktor terpenting. Bahwa intuisi begitu penting dalam membuat keputusan-keputusan terbesar dalam hidupnya. Persiapan dan kerja keras merupakan elemen pendukung intuisi. Kalau intuisi nomor satu, lalu profesional –atau birokrasi– tidak akan bisa membuat perubahan, wah bisa dibayangkan frustrasinya kedua pihak ketika mereka berbenturan…

Yang satu dengan motivasi dan dorongan tinggi ingin berbuat dan bergerak cepat, tapi sisi yang lain selalu menekankan untuk hati-hati. Bahkan bukan hanya hati-hati, tapi harus mendengarkan dulu pendapat ini, pendapat itu, sewa konsultan ini, konsultan itu… Ada komentar menarik seorang ’’naga tua’’ soal ini. Dia tergolong tipe yang harus cepat itu. Dia bilang akan menjadi berbahaya ketika selalu mengandalkan konsultan, dan kemudian menjadikan konsultan itu sebagai alasan apabila terjadi kegagalan. Mimpi dan ambisi besar kok harus tanya dulu ke orang. Apalagi kalau yang ditanya itu sebenarnya tidak pernah berbuat secara langsung…(*)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top