Mengenal Bangka Mbule-mbule, Tradisi Masyarakat Wakatobi yang Mulai Tergerus – Hacked by TryDee
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Wakatobi

Mengenal Bangka Mbule-mbule, Tradisi Masyarakat Wakatobi yang Mulai Tergerus

Warga Mandati, Kabupaten Wakatobi menggelar acara Bangka Mbule-mbule usai panen hasil bumi beberapa waktu lalu. Tradisi ini mulai tergerus, dalam tiga tahun terakhir ini belum pernah digelar. Tokoh masyarakat khawatir, kalau diabaikan terus, bisa menimbulkan bahaya. Foto : Asty Novalista/Kendari Pos

KENDARIPOS.CO.ID — Pesona Wakatobi seolah tak pernah ada habisnya. Tak hanya memiliki keindahan alam, khususnya bawah laut yang mampu “menyihir” wisatawan domestik dan mancanegara. Lebih dari itu, otorita Arhawi ini memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Salah satunya tradisi Mbule-mbule. Hanya sayangnya, tradisi ini terancam punah karena mulai ditinggalkan masyarakat.

Asty Novalitsa, Wakatobi

Puluhan warga Mandati, Kabupaten Wakatobi memikul perahu kayu yang di atasnya dihiasi dengan sepasang orang-orangan. Di dalam perahu itu, diisi dengan berbagai bahan makanan hasil bumi. Seperti padi, jagung, pisang dan lainnya. Lokasi yang dituju adalah pantai untuk melarungkan hasil panen masyarakat. Sebelum ke pantai, terlebih dahulu diarak keliling kampung. Kabarnya, cara ini untuk mengusir bala’a (bahaya).

Kegiatan seperti ini sudah menjadi ritinitas warga Mandati setiap musim panen tiba. Tujuannya untuk mengucap syukur sekaligus meminta kepada Tuhan supaya dijauhkan dari bencana, seperti bencana alam, mewabahnya penyakit, atau persoalan sosial yang dapat mengakibatkan gangguan di masyarakat. Seluruh rangkaian kegiatan inilah yang disebut tradisi bangka mbule-mbule.

Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang masih lestari hingga kini. Pada hakekatnya, setiap tahun acara yang melibatkan seluruh masyarakat, khususnya warga Mandati ini tak pernah putus dihelat. Tradisi adat upacara melarung hasil bumi usai panen ke laut sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan dijauhkan dari sial dan penyakit. Sebelum dikonsumsi, sebagian hasil panen tersebut harus disajikan di dalam perahu bangka mbule-mbule yang telah disiapkan masyarakat sekitar. Hasil panen seperti ubi jalar, ubi kayu, jagung, pisang dan lainnya akan disajikan di atas bangka mbule-mbule yang dibagian depan belakangnya telah berdiri dua orang-orangan.

Orang-orangan ini sebagai simbol kejahatan. Keduanya berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Dua orang-orangan yang akan dilarung bersama sesajen ini diberi nama La Berese (laki-laki) dan Wa Lese (perempuan). Setelah terisi hasil bumi, ada proses arak-arakan keliling kampung sebelum di larung ke laut. Proses ini guna mengusir mara bahaya yang mengancam dan akan mengganggu kampung sekitar.

Warga Mandati, Kabupaten Wakatobi menggelar acara Bangka Mbule-mbule usai panen hasil bumi beberapa waktu lalu. Tradisi ini mulai tergerus, dalam tiga tahun terakhir ini belum pernah digelar. Tokoh masyarakat khawatir, kalau diabaikan terus, bisa menimbulkan bahaya. Foto : Asty Novalista/Kendari Pos

Berumur lebih dari seratus tahun, rangkaian prosesi tradisi ini masih serupa dengan yang dilakukan pewaris dulu. Sebelum dilarung di laut, tepatnya sekitar Pelabuhan Pangulubelo, Wangi-Wangi, bangka mbule-mbule masih harus melewati proses lainnya. Dilakukan pada hari Minggu dan waktu pelaksanaannya menjelang sore hari. Bangka mbule-mbule yang dilengkapi sesajen dan orang-orangan ini dipikul oleh puluhan pemuda asal Mandati.
Ratusan masyarakat lainnya juga mengikut di samping kiri kanan, depan hingga belakang. Diarak ke lingkungan Poinan To’oge, bangka mbule-mbule diputar sebanyak delapan kali. Setelah itu harus diputar lagi sebanyak sembilan kali sebelum di bawah ke pelabuhan. Sesampainya di Pelabuhan Pangulubelo, Wangi-Wangi, bangka mbule-mbule yang diarak masyarakat akan diputar sebanyak delapan kali. Terakhir diputar kembali sebanyak sembilan kali hingga sampai pada titik pelarungan di dalam laut.

La Hambe-Hambe, Kemuka Bangka Mbule-Mbule sekaligus Tokoh Adat warga Mandati mengungkapkan, masyarakat dulu meyakini, dengan memutar delapan hingga sembilan kali bangka mbule-mbule ini, maka iblis jahat akan ikut serta di atasnya. “Itu sesuai jumlah iblisnya. Dan dua orang-orangan ini sebagai simbol iblis itu sendiri,” ujarnya, kemarin.

Pada saat proses pelarungan perahu bersama sesajen dan dua orang-orangan ini sekaligus, masyarakat yang mengiringin perahu ini mendengar aba-aba dari La Hambe-Hambe sebagai kemuka. Mengingat, bangka mbule-mbule ini tak dilarung begitu saja melainkan harus ada doa khusus sebagai ucapan syukur dan mengusir bala’a di kampung Mandati, khususnya. “Kita yakini kalau sudah melakukan tradisi ini, kampung kita akan terhindar dari segala penyakit dan bencana,” jelas pria 71 tahun itu.

Salah seorang pemuda asal Mandati, La Ode Arjuno Emangsa menambahkan, kepercayaan masyarakat, dengan menaruh sesajen berupa bahan makanan hasil panen lalu dilarung ke dalam laut diyakini mampu membuang bala’a atau sial. Tak hanya itu, mahkluk hidup di dalam laut pun bisa menikmati hasil panen yang telah dilarung bersama bangka mbule-mbule ini.Tradisi ini akan digelar pada musim angin timur atau pada Juli, Agustus dan September.

Hanya sayangnya, hampir tiga tahun lamanya, tradisi ini belum pernah dilaksanakan lagi. Kondisi ini sangat diantisipasi kemuka, tokoh adat hingga masyarakat. Pasalnya, pada tahun 1959, tradisi bangka mbule-mbule tidak dilaksanakan. Akibatnya, banyak masyarakat yang terkena penyakit. Tak ingin bertambah parah, tradisi ini akhirnya diselenggarakan oleh masyarakat sekitar kala itu. Hasilnya, penyakit yang menebar di kalangan masyarakat perlahan mulai berkurang. Kini, tradisi bangka mbule-mbule direncanakan akan digelar dalam waktu dekat oleh tokoh adat dan masyarakat sekitar. (b/*)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top