Tumpulnya Kepekaan Pemimpin, Oleh: Prof. Dr. Abdullah Alhadza, MA – Hacked by TryDee
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Kolom

Tumpulnya Kepekaan Pemimpin, Oleh: Prof. Dr. Abdullah Alhadza, MA

Abdullah Alhadza

KENDARIPOS.CO.ID — Ketika Muawiyah baru saja diangkat sebagai Gubernur Syiria di masa kekhalifahan Usman Bin Affan, kondisi ekonomi setempat masih karut marut. Jumlah pengangguran cukup besar dan angka kemiskinan masih sangat tinggi. Meskipun demikian program kerja pertama yang dilakukan oleh Muawiyah adalah membangun istana yang megah di Ibu Kota Damaskus.

Melihat kondisi seperti itu, maka datanglah seorang tokoh LSM yang bernama Abu Dzar Al Giffary melancarkan protes. “Saudara Gubernur! Dari mana Anda mendapatkan uang untuk membangun istana se-mewah ini? Jika uang itu bersumber dari dana APBD, maka sesungguhnya Anda telah menghianati rakyat, karena uang APBD pada hakikatnya adalah uang dari dan untuk rakyat. Ketahuilah saudara gubernur, bahwa rakyat saat ini tidak membutuhkan tontonan istana yang mewah. Mereka butuh lapangan pekerjaan agar mereka bisa menghasilkan uang untuk membeli kebutuhan pokok mereka sehari-hari. Jika uang itu bantuan dari konglomerat kolega Anda, maka sesungguhnya Anda telah menggadaikan negeri ini karena mereka tidak mungkin mau berkorban begitu saja, tanpa mengincar imbalan kebijakan dari Anda yang berpihak pada kepentingan mereka dan pasti Anda telah terperangkap dalam arena permainan mereka. Seandainya uang itupun berasal dari kantong Anda sendiri, maka itu adalah perbuatan mubazir atau perbuatan syetan yang dilaknat oleh Allah”.

Nasihat Al Giffary tak digubris. Istana dibangun terus, dipercantik setiap saat diikuti dengan gaya hidup glamour para penghuninya. Maka lahirlah masyarakat feodalisme yang memosisikan status sosial seseorang berdasarkan pangkat, jabatan, dan jumlah uang yang dimiliki. Budaya materialisme hedonisme segera mewabah. Ada pepatah yang mengatakan bahwa pembusukan ikan selalu dimulai dari kepala, maka gaya hidup seperti itupun segera menular ke kelompok menengah dan bahkan sampai kepada rakyat kecil.

Ending dari cerita ini bisa ditebak yaitu kemiskinan kian merajalela, persatuan umat terkoyak dan kejayaan kekuasaan ottoman segera menuju ke ambang kehancuran. Banyak pengamat menganalogikan kondisi NKRI sekarang ini sama dengan situasi yang dihadapi Syiria ketika itu. Lihatlah betapa tumpulnya kepekaan pemimpin di negeri ini. Mereka sibuk membangun proyek mercusuar yang tak dibutuhkan rakyat tetapi untuk memenuhi pesanan para pengusaha kroni mereka.

Sekarang, genderang kontestasi Pilkada 2018 sudah mulai ditabuh. Para calon pemimpin sudah menjajakan program dan janji politiknya. Jargon yang diusung semuanya berkisar pada kata perubahan, kemajuan, kemakmuran, dan kesejahteraan. Semoga mereka memiliki kepekaan hati nurani yang bisa membaca kebutuhan nyata dari rakyat sehingga mereka bisa bertahta di hati rakyat bukan di istana yang penuh dengan kepalsuan, karena semua jargon hanyalah dusta manakala rakyat lapisan bawah tidak ikut menikmati realisasi dari janji-janji mereka.

Rakyat tampaknya perlu tahu bahwa dalam era demokrasi pemimpin adalah refleksi dari rakyatnya. Pemimpin yang jujur lahir dari rakyat yang jujur. Pemimpin yang korup juga lahir dari rakyat yang korup yaitu rakyat yang mau menukar suara dan harga dirinya dengan sogokan murahan untuk sebuah pertaruhan masa depan. Waspadalah, cari pemimpin yang memiliki kepekaan, berpihak kepada kepentingan dhuafa, bukan pemimpin yang cuma bekerja untuk diri dan kelompoknya dan tak malu memamerkan kemewahan di tengah penderitaan rakyatnya. (*)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top