Pelayanan Buruk, Bayar Obat Mahal, Bayi Meninggal dalam Kandungan di RSUD Muna – Kendari Pos Online
Iklan pajak

Konkep
Zetizen Iklan Iklan 10 Iklan 23
Hukum & Kriminal

Pelayanan Buruk, Bayar Obat Mahal, Bayi Meninggal dalam Kandungan di RSUD Muna

KENDARIPOS.CO.ID — Unyil dan Reni hanya bisa mengelus dada melihat kematian bayi mereka. Anak kelima yang telah lama dinantikan kehadirannya di dunia ini, justru meninggal dunia dalam kandungan Reni. Pasangan suami istri warga Desa Lagasa Kecamatan Duruka, Muna itu menduga meninggalnya bayi tersebut karena pelayanan buruk setelah telat ditangani secara medis di RSUD Muna.

Andaikan segera ditangani, Unyil punya keyakinan anaknya bakal lahir selamat. Cerita versi Unyil, istrinya masuk ke ruang bersalin sejak Jumat (8/9) sekira pukul 14.00 wita, setelah diserahkan oleh bidan desa, Masria. Meski punya keahlian, Masria tak memaksakan diri untuk menangani proses persalinan sehingga merekomendasikan agar segera mendapat penanganan. Saat itu, tanda-tanda kehidupan masih dirasakan dalam perut Reni namun tak ada perkembangan signifikan. Sehingga, disarankan untuk segera dibawa ke RSUD. Setiba di RSUD, Reni belum diberikan pertolongan. “Alasannya, masih menunggu dr Tamsila yang menangani proses persalinan tersebut. Akibatnya, bayi meninggal dunia dalam kandungan, Jumat malam,” ujar Unyil, Senin (11/9).

Pihak keluarga Unyil dan Reni menganggap ada yang janggal dari kematian bayinya. Masih menurut Unyil, dirinya kaget ketika diminta membeli obat di Rumah Bersalin “Harapan Kita” pada Sabtu (9/9) pagi. Obat tersebut ditebusnya seharga Rp 1,9 juta. Padahal, bayi telah meninggal. Terlebih lagi Unyil adalah peserta BPJS Kesehatan. “Saya diberi resep untuk beli. Saya pun pergi beli obat sesuai resep. Padahal ada BPJS saya. Kenapa pihak rumah sakit tak menyediakan itu,” tambah Unyil.

Pendamping keluarga Unyil dan Reni bernama Machdin mengaku heran dengan lambannya tindakan yang diambil pihak rumah sakit. Berdasarkan pemeriksaan bidan desa Masria, denyut bayi masih ada. Namun, sekira pukul 14.00 wita, dibawalah ke RSUD. Menurut bidan piket bernama Asra, penanganan akan dilakukan namun harus menunggu sampai waktu melahirkan tiba. Sementara sekira pukul 17.00 wita, air ketuban Reni keluar terus. Namun, tak ada juga penanganan medis. “Jumat malam sekira pukul 19.00 wita diperiksa. Disampaikan pada orang tuanya, tidak ada denyut jantung dan bayi tidak bergerak lagi dalam kandungannya. Reni merasakan itu,” ungkap Machdin.

Machdin mempertanyakan, kenapa tidak ada tindakan medis. Namun bidan mengaku sedang menunggu dokternya. Anegnya, Sabtu pagi, dr. Tamsila mengatakan kalau bayi sudah meninggal. Dengan begitu, cukup diberikan rangsangan saja. “Sekira pukul 10.00 wita akan dilakukan operasi dan Unyil diminta beli obat di rumah bersalin Harapan Kita. Setelah itu, Unyil disuruh masuk ke ruangan. Saat keluar, Unyil membawa bayi yang telah meninggal dalam sarung. Dokter bilang kalau sudah meninggal, tak perlu dioperasi. Cukup diberikan obat perangsang saja,” jelas Machdin.

1 of 2

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top