Komoditi Pangan Sultra Belum Mandiri – Hacked by TryDee
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Ekonomi & Bisnis

Komoditi Pangan Sultra Belum Mandiri

Sitti Saleha.

KENDARIPOS.CO.ID — Sektor pertanian Sultra menjadi penyumbang investasi terbesar setelah sektor tambang. Itu artinya potensi tanaman pangan di Bumi Anoa ini cukup besar. Hanya saja, fakta lapangan membuktikan jika daerah ini masih bergantung dari daerah lain untuk memenuhi permintaan pasar. Itu artinya, Sultra belum mandiri dalam hal pengembagan komoditi pangan.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Sitti Saleha tak menampik hal itu. Menurutnya, sumber-sumber pertanian di Sultra memang cukup besar. Hanya saja, Sultra belum punya “nama” dimata provinsi tetangga. Sehingga komoditi pangan daerah ini terkesan selalu disuplai, padahal kadang terjadi sebaliknya.

“Sebenarnya kita cukup kalau mau dimaksimalkan. Hanya saja sudah ada jaringan perdagangan para pengusaha antar daerah yang berhubungan langsung satu sama lain. Misalnya pedagang kita membeli barang dari Sulawesi Selatan (Sulsel) secara langsung. Tapi sebenarnya, barang-barang kita juga banyak yang ke sana. Tapi kan kita belum punya nama seperti mereka, sehingga kesannya kita disuplai terus padahal tidak juga,” ujar Sitti Saleha, Senin (11/9/2017).

Mantan Pj. Bupati Bombana itu menuturkan ada banyak kelemahan daerah untuk menguatkan sektor perdagangan komoditi pangan di Sultra. Yang pertama soal belum adanya pelabuhan khusus sehingga pertukaran bahan pangan hanya dilakukan via darat saja. Kedua belum adanya regulasi yang mengikat para pengusaha. “Kita butuh penguatan regulasi, supaya komoditi kita ini tidak langsung keluar begitu saja. Harus ada PAD untuk daerah. Ini tugasnya pemda kabupaten dan kota,” katanya.

Kondisi tersebut juga dibenarkan oleh Muhammad Nasir. Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan itu mengatakan beberapa komoditi pertanian memang masih disuplai dari Sulsel, seperti buncis, kol, kentang dan wortel. “Bahkan ayam dan telur juga kita masih ambil di Surabaya, kalau sayuran kita banyak (ambil) dari Malino,” ujar Nasri.

Mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat (DPMD) itu menyebut Sultra baru mampu memenuhi pangsa pasar hanya pada sayuran seperti kangkung, bayam, dan lainnya. Beberapa daerah yang sudah maju sektor pertaniannya yakni Konawe, Konawe Selatan dan Kolaka. “Komoditi lain seperti kubis itu memang belum membudaya di petani kita. Karena itu membutuhkan keuletan yang ekstra,” tambahnya.

Meski begitu, daerah-daerah dimaksud rupanya digerakkan oleh masyarakat transmigrasi asal Bali dan Jawa. Sementara warga lokal masih belum maksimal memanfaatkan lahan pertanian di sekitarnya. “Orang Bali atau Jawa itu membawa budaya kerjanya sendiri yang dari dulu memang mereka terkenal sebagai petani yang luar biasa,” ungkap Nasir. Salah satu kelemahan petani di Sultra kata dia masih tidak fokus dalam mengembangkan satu jenis komoditi.

Ada kecenderungan untuk mengembangkan banyak jenis dalam satu lahan. Sehingga hasilnya dipastikan tidak maksimal. Sementara soal ketersediaan lahan di Sultra masih cukup banyak. Semua daerah tidak terkecuali di Kendari masih memiliki kawasan yang bisa diolah untuk menjadi lokasi tanam sayuran. Meskipun diakuinya tingkat kesuburan tanah di Sultra masih sangat jauh dibanding Jawa. “Di sini tandus, harus memang ada teknologi untuk membantu petani. Orang Jawa di sini, sebelum menanam, lahannya diberi pupuk lebih dulu,” tuturnya.

Pemerintah sebenarnya tidak hanya tinggal diam melihat kelemahan-kelemahan itu. Beberapa pelatihan petani kerap disiapkan. Namun, petani cenderung acuh tak acuh untuk melibatkan diri dalam agenda itu. “Kita ada sekolah lapangan, ikut tapi tidak tuntas, yang namanya sekolah itu ada kelas dan jenjangnya karena kita mau ciptakan petani yang handal,” jelasnya.

Selain itu menurut dia, mental petani di Sultra masih perlu diasah. Banyak diantara mereka yang terlalu “manja” dengan bantuan dan hasil instan. Sehingga tak mau berkorban banyak untuk hasil yang lebih baik. “Petani kita cepat sekali merasa cukup, hasilnya yang penting bisa untuk hidupi keluarga. Bukan untuk sebuah bisnis besar, inilah peluang yang dilihat oleh orang-orang di luar,” imbuh Nasir. (ely/c)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top