Selalu Berprestasi, Anak-anak Berkebutuhan Khusus di Muna Belajar dengan Fasilitas Seadanya – Kendari Pos Online
Iklan pajak

Konkep
UHO Cup Iklan Iklan 10 Iklan 23
Muna

Selalu Berprestasi, Anak-anak Berkebutuhan Khusus di Muna Belajar dengan Fasilitas Seadanya

Guru sednag mengajar anak-anak yang berkebutuhan khusus di Muna.

KENDARIPOS.CO.ID — Mereka terlahir berbeda. Tak memiliki kesempurnaan fisik seperti anak kebanyakan. Namun semua keterbatasan itu tak menjadi penghalang buat mereka berprestasi. Tuhan memang Maha Adil.

Muh Ery, Raha

Ruang kelas tampak hening, Selasa (5/8). Para murid “seolah” mendengarkan dengan seksama penjelasan guru di hadapan mereka. Namun situasinya berbeda ketika sang guru menghadap papan tulis, anak-anak itu langsung cekikikan, mengganggu teman disampingnya. Situasi ini mungkin akan membuat guru marah, kalau sedang berada di sekolah formal. Hanya karena berada di sekolah nonformal, sehingga situasi seperti itu sudah dianggap “menu harian”.

Situasi itu, meski terus berulang namun tak sampai mengganggu proses belajar mengajar. Begitulah sedikit gambaran, proses belajar di Yayasan Pendidikan Khusus Anugrah Hati, Kabupaten Muna. Tapi bisa dimaklumi karena hampir semua muridnya berkebutuhan khusus. Kendati begitu, dengan segala keterbatasan fisik dan fasilitas, mereka tetap bisa berprestasi.

Belum lama ini, salah satu peserta didik sekolah itu berhasil menyabet juara pada lomba Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat SMP. Namanya Agus Sarman. Karena prestasinya itu, dia akan mewakili Sultra dalam lomba serupa di Sumatra (Medan,red). Tak hanya pelajar SMP, murid SD juga banyak menjuarai lomba-lomba, seperti lagu solo maupun sains.

“Dalam berbagai perlombaan, peserta didik kami menjadi langganan juara. Kami bersyukur karena disela keterbatasan sarana dan prasarana, bisa meraih prestasi seperti ini,” kata Suhartin Yaddi, Ketua Yayasan Pendidikan Khusus Anugrah Hati. Diakui, meski memiliki keterbatasan fisik, namun peserta didik menunjukkan semangat belajar yang luar biasa. Hebatnya lagi, mereka kalau ditanya cita-citanya, kebanyakan menjawab ingin jadi dokter, bidan, polisi, tentara dan lainnya. “Kami senang, karena mereka mau belajar,” ujarnya.

Sekolah ini berada di jalan Diponegoro Kecamatan Katobu, tepatnya di kompleks perkantoran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (PK) Kabupaten Muna. Di tempat ini, bisa menampung 66 peserta didik, dari tiga tingkatan, mulai SD, SMP hingga SMA. Yayasan yang dibentuk sejak 2011 silam itu, memiliki peserta didik dari berbagai latar belakang. Mulai dari tuna netra (cacat mata), tuna rungu (cacat pendengaran), tuna grahita (lambat mengerti atau memahami), tuna daksa (cacat tubuh atau badan), tuna laras, tuna altis, hingga siswa yang putus sekolah alias broken. Semua, dapat ditemui di Yayasan Khusus Anugrah Hati. Kalau, berkunjung ke yayasan ini, sudah pasti diperhadapkan dengan berbagai macam tingkah, yang bisa menarik simpati.

Proses belajar mengajar pun berlangsung sebagaimana biasanya. Di sekolah ini, pelajaran dimulai sejak 07.30 Wita hingga pukul 11.00 Wita. Tak ada kata menyerah bagi guru saat memberikan bimbingan mata pelajaran. Sebab, semangat peserta didiknya, akan ilmu pengetahuan, terus berjalan. Tak perlu diragukan atas dedikasi sang guru. Mereka semua juga berlatar belakang sarjana. “Kalau kita mengajarnya di sini hanya garis-garis besarnya saja. Semangat peserta juga untuk sekolah sangat tinggi. Biar hujan mereka datang,” jelasnya.

Soal pelajarannya, juga telah mengikuti kurikulum 2013 (K13). Hanya dalam memberikan pengajaran bagi mereka yang berkebutuhan khusus, selain mata pelajaran umum, juga pelajaran di bidangnya. “Misalnya, kalau tuna netra kita beri pelajaran brail atau bahasa isyarat. Begitu juga yang lainnya,” ujarnya lagi sembari mengajak jurnalis ini melihat suasana belajar mengajar di ruang kelas.

Bagi guru, ruang sempit bukan kendala untuk tidak mendidik siswa. Pasalnya, berbagai tingkatan, minimal siswanya sampai lima orang. Adapula yang tiga peserta didik dalam satu bilik. Berdasarkan pantauan juga, aksi siswa dalam menerima pelajaran terlihat serius. “Kalau kita kasih materi umum, mereka dapat memahami. Tak ada kata tidak. Ini adalah tanggung jawab,” katanya.

1 of 2

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top