Dahsyatnya Syariat Haji, Oleh : Prof. Dr. Abdullah Alhadza, MA. – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Kolom

Dahsyatnya Syariat Haji, Oleh : Prof. Dr. Abdullah Alhadza, MA.

KENDARIPOS.CO.ID — Kamis, 9 Zulhijah1438 Hijriah bertepatan 31 Agustus 2017 Masehi, berlangsung wukuf di padang Arafah, Makkah sebagai puncak dari perhelatan ibadah haji. Jutaan manusia yang datang dari segala penjuru bumi, termasuk 221.000 jamaah dari Indonesia berkumpul di sana. Mereka dalam balutan pakaian yang berwarna sama dengan membuhul niat yang sama yaitu berhaji untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Fenomena haji, bukan cuma aktivitas ibadah semata, tetapi begitu banyak aspek sosial kemasyarakatan yang terangkai di dalamnya. Sejarah perjalanan haji dipenuhi oleh permak permik peristiwa fenomenal yang bisa menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan manusia terutama umat Islam kini dan nanti.

Jika aktivitas haji dianalogikan sebagai perjalanan wisata maka dari segi lahiriah Makkah bukanlah tempat yang tepat untuk dijadikan destinasi. Bagaimana tidak, tanah yang cadas dan berpasir gersang disertai iklim yang sangat ekstrem, tidaklah mungkin memiliki daya pikat bagi orang untuk berkunjung ke sana. Tetapi anehnya jumlah jamaah haji dalam sejarah terus bertambah hingga mencapai jutaan orang seperti sekarang ini. Andai saja pemerintah Saudi tidak membatasi jumlah jamaah haji yang datang dari berbagai negara di seluruh dunia maka jumlah jamaah haji bisa mencapai puluhan juta setiap tahunnya. Bahkan bisa melebihi jumlah seluruh penduduk Arab.

Sebagai lakon keagamaan, ibadah haji merupakan ritual tertua yang masih bertahan hingga saat ini. Ibadah haji sudah berlangsung sejak Nabi Ibrahim AS, lalu diikuti oleh umat nabi-nabi berikutnya untuk pada akhirnya dikukuhkan sebagai salah satu rukun dalam agama Islam. Menariknya, pelaksanaan ibadah haji seolah tak pernah tergerus oleh badai sejarah, tak terusik oleh krisis ekonomi dan tak terpengaruh dengan gonjang-ganjing politik. Bahkan dengan gejolak peperangan sekalipun tak berdampak sedikitpun terhadap aktivitas haji.

Di Indonesia, banyak pula hal yang menarik untuk dicermati dari masalah perhajian. Fenomena gelar haji. Orang pasti dipanggil Pak Haji atau Ibu Hajjah hanya karena mereka telah menunaikan ibadah haji. Namun tak ada orang dipanggil Pak Sholat meski sudah sholat setiap waktu, tak ada Ibu Puasa, meski tak pernah alpa berpuasa setiap tahun. Di Arab Saudi tidak ada orang dipanggil Haji Muh Salman, di Turki tak ada orang disapa Haji Recep Erdogan meski sudah berulang kali menunaikan ibadah haji. Beda halnya dengan Pak Joko dan kawan-kawan dari Indonesia yang segera berganti nama menjadi H. Joko, begitu pulang dari Makkah meski itu adalah kunjungan pertama dan mungkin juga kunjungan yang terakhir.

Kapan, dan bagaimana asal muasalnya tradisi pemberian gelar haji di Indonesia? Sementara di negara lain dan untuk ibadah yang lain tidak diberlakukan? Ada beberapa versi jawaban tentang pertanyaan ini. Ada yang mengatakan karena pada zaman dahulu, ibadah haji adalah ibadah yang sangat berat ditinjau dari segala aspek seperti: ongkos, jarak, waktu, kemampuan komunikasi dan lain-lain, maka sangat sedikit orang yang bisa melakukannya. Kecuali, orang yang benar-benar istimewa sehingga pantaslah orang yang pulang berhaji diberi gelar istimewa pula.

Versi lain mengaitkan haji dengan politik kolonial. Menurut versi ini, penjajah Belanda mencatat bahwa setiap orang Indonesia pulang berhaji langsung tampil menjadi pelopor pergerakan pembaharuan yang menjurus kepada tuntutan untuk merdeka. Menghadapi kondisi itu maka kaum penjajah merasa perlu melakukan pengawasan kepada para alumni Makkah dengan cara memberi label yaitu dengan menambahkan huruf “H” (haji) di depan nama mereka. Tidak Cuma itu pemerintah Belanda pun mengondisikan perubahan perilaku para haji. Sebelum naik haji namanya Mas Darson, begitu pulang diganti jadi Haji Darwis, Daeng Beddu jadi H. Bedawi, lalu didorong pakai tsurban besar, jubah dan gamis. Anaknya disuruh panggil Abi atau Aba agar terkesan fanatik dan konservatif sehingga kaum elit dan para pegawai kolonial yang muslim menjadi enggan naik haji.

Kebijakan itu tidak selamanya berdampak negatif, karena dengan label haji yang mereka sandang justeru mengangkat status sosial seorang haji di masyarakat. Jadilah mereka informal leader di tengah masyarakat sebagai pergi tempat bertanya dan pulang tempat berberita. Beda dengan zaman Belanda, di mana pejabat takut naik haji. Zaman sekarang justeru yang mau jadi pejabat atau anggota DPR pada berlomba naik haji dan memasang label haji di depan namanya karena mereka sadar bahwa gelar haji telah menjadi azimat penglaris sebuah jualan politik.

Cerita teranyar adalah ONH yang dulu pernah disubsidi oleh negara hingga di akhir tahun 1960-an, kini akan berganti posisi menjadi lembaga pemberi pinjaman kepada negara. Konon pemerintah sekarang ini sedang mengincar memimjam dana tabungan haji untuk membiayai pembangunan infrastruktur di tanah air. Jika itu terwujud, jadilah kisah dari yang disantuni menjadi yang menyantuni. Hidup Haji Indonesia !!!

Ibadah haji dalam pentas sejarah dan dinamika sosiologis bangsa ini sarat dengan nilai. Dari sisi manapun orang menatap, haji adalah energi positif bagi bangsa. Ia adalah lakon yang memiliki nilai universal yang selalu membawa pesan persatuan. Ia adalah brand yang tidak mengenal kadaluarsa. Ia terbukti membawa misi perubahan dan pembaharuan. Ia adalah kekuatan ekonomi yang dahsyat. Mari gali terus keluhuran yang terkandung dalam syariat haji, tak usah lagi pasang embel-embel haji di depan nama para alumni padang Arafah, agar kesucian haji tidak dijadikan kedok para koruptor untuk merampok uang negara. Lalu kelola segala energi positif dari ibadah haji secara profesional dan amanah untuk membangun Indonesia tercinta. (*)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top