Pengabdian Tanpa Pamrih Relawan Kelas Inspirasi Kendari, Motivasi Anak Pesisir Tetap Sekolah – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Metro Kendari

Pengabdian Tanpa Pamrih Relawan Kelas Inspirasi Kendari, Motivasi Anak Pesisir Tetap Sekolah

Anggota relawan Kelas Inspirasi (KI) Kendari pose bersama usai mengunjungi beberapa sekolah di pesisir Kota Kendari. Helson/Kendari Pos

KENDARIPOS.CO.ID — Mereka tak semua punya latar belakang pendidikan guru. Namun hal itu tak membuat semangat pengabdian luntur untuk mendidik anak pesisir. Minimal memotivasi mereka supaya tetap lanjut sekolah.

Helson Mandala Putra, Kendari

26 Agustus lalu, sekelompok pemuda mendatangi beberapa sekolah dibagian pesisir Kota Kendari. Jumlah mereka 128 orang, berasal dari berbagai profesi. Ada dosen, dokter, polisi, ahli K3 industri, programmer, penyanyi, graphic designer, air track control bandara, psikolog, model, jurnalis, penari, analis kesehatan, pengusaha, dan lainnya. Tujuan mereka mendatangi sekolah pesisir adalah untuk memperkenalkan berbagai profesi sekaligus memotivasi anak-anak supaya semangat menempuh pendidikan.

Mereka itulah relawan Kelas Inspirasi (KI) Kendari. Tanpa pamrih, mereka turun langsung ke sekolah untuk memotivasi siswa supaya mempunyai cita-cita, dan tetap melanjutkan sekolah sampai impian terwujud. Mereka ikhlas membiayai diri sendiri, dan menyiapkan segalanya sendiri, hanya demi anak-anak pesisir punya semangat dalam menuntut ilmu.

Para inspirator ini berasal dari berbagai daerah; seperti Kendari, Kolaka Timur (Koltim), Muna Barat (Mubar), Konawe Selatan (Konsel), Konawe, Makassar, dan Palu. Koordinator KI Kendari, Rizal Adi Saputra menjelaskan, pada awalnya KI merupakan program Yayasan Indonesia Mengajar yang menjembatani para pekerja profesional dari berbagai profesi untuk turun mengabdikan diri menginspirasi siswa, dengan memperkenalkan beragam profesi. Namun, setelah bebeberapa lama, program KI menjamur ke berbagai daerah, berdiri sendiri dan tidak dibawahi Indonesia Mengajar lagi.

“Di Sultra, Kelas Inspirasi Kendari juga telah terbentuk secara mandiri dan independen pada Mei 2017. Sejauh ini sudah ada 10 sekolah di pesisir Kota Kendari yang dikunjungi,” ungkap Rizal Adi Saputra, akhir pekan lalu. KI pertama kali diselenggarakan di Konawe, tepatnya pada Februari yang digagas oleh pengajar muda (PM) dari Indonesia Mengajar yang ditempatkan di Konawe.

Sebagai tindaklanjut, pemuda Kendari juga membentuk KI Kendari. Tujuan utama untuk memperkenalkan ragam profesi kepada murid, sehingga mereka tahu banyak pekerjaan dan mempunyai banyak pilihan cita-cita. “Kebanyakan anak, hanya tahu pekerjaan guru, polisi, dan tentara. Padahal, sangat banyak profesi lain yang bisa mereka cita-citakan,” ungkap Ical–sapaan akrabnya.

KI terdiri dari inspirator yang memperkenalkan profesinya, dokumentator yang mengabadikan momen hari inspirasi, fasilitator yang menengahi inspirator dan sekolah, serta panlok yang menyusun kegiatan. Nah, yang mereka ajarkan bukan mata pelajaran Matematika, IPA, atau pelajaran lain. Tapi menjelaskan siapa mereka, di mana bekerja, apa peran dalam masyarakat, bagaimana cara bekerja. Para Inpirator merupakan mereka yang sudah bekerja minimal dua tahun dalam bidang masing-masing, dan harus cuti untuk bisa mengajar.

“Kami tidak mengajar pelajaran umum. Karena kami tidak bisa kontinyu mengajar setiap hari. Selain itu, KI memang bukan untuk mengajar secara umum, karena itu sudah bagian kerja pengajar muda dari Indonesia Mengajar. Semua anggota KI adalah relawan, mereka tidak terikat secara hukum. Namun secara moral mereka selalu ingin kembali mengabdikan diri,” kata dosen Fakultas Teknik UHO tersebut.

Banyak yang bertanya, kenapa harus anak SD yang menjadi sasaran KI? Alasannya, karena angka anak putus sekolah terbanyak pada jenjang SD. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sepanjang tahun 2016/2017, angka anak SD putus sekolah sebanyak 39.213 orang. Khusus di Sultra, jumlahnya mencapai 1.000 orang. Berhenti sekolah bukan karena persoalan anggaran, tapi, mereka berhenti sekolah karena kurangnya motivasi. Sementara di luar sana banyak pekerja profesional yang ingin mengabdikan diri untuk pendidikan Indonesia, tapi waktu mereka sangat terbatas karena bekerja. “Itulah kenapa KI ada, dan mengapa sasarannya SD,” jelasnya.

Kegiatan KI Kendari ternyata tidak habis setelah hari inspirasi. Tiga bulan setelahnya, akan ada KI back to school. Mereka akan kembali ke sekolah dan melihat perkembangan anak setelah dikunjungi. “Selain itu, kami juga akan membuat pemeran foto dan video untuk menunjukan kepada khalayak ramai, tentang tujuan dan kegiatan KI. Ini penting supaya jiwa relawan di Kendari bisa menyebar cepat seperti virus yang membawa benih kebaikan. Kabar baiknya, sudah ada beberapa daerah yang menghubungi kami, konsultasi untuk membentuk KI di daerah mereka, yakni Bombana, Muna, Kolaka, dan Bau-Bau,” pungkasnya. Meski kesannya sederhana dan hanya dua sampai tiga kali dalam setahun, namun kegiatan ini sangat positif. Pemuda inspiratif seperti inilah yang dibutuhkan supaya pendidikan di Sultra bisa berkembang lebih cepat. (b/*)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top