Sidang 6 September, Jaksa KPK Bacakan Tuntutan ke Umar Samiun – Kendari Pos Online
Iklan pajak

Konkep
UHO Cup Iklan Iklan 10 Iklan 23
HEADLINE NEWS

Sidang 6 September, Jaksa KPK Bacakan Tuntutan ke Umar Samiun

Umar Samiun pakai rompi tahanan KPK

KENDARIPOS.CO.ID — Segala proses pemeriksaan terhadap saksi dan juga terdakwa Samsu Umar Abdul Samiun alias Umar Samiun (US), dalam kasus dugaan suap terhadap mantan Ketua MK, Akil Mochtar sudah tuntas dilakukan pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat. Bupati Buton non aktif itu kini sedang menunggu, berapa tahun jaksa menuntutnya dalam perkara yang terjadi tahun 2011 itu. Dengan alasan butuh waktu, jaksa meminta waktu 6 September nanti untuk membacakan tuntutannya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK, Kiki mengungkapkan bahwa pihaknya membutuhkan persiapan dalam menyusun draf tuntutan. “Kita sudah minta kepada majelis waktu lalu untuk memberi kami waktu 2 pekan, terhitung sejak sidang terakhir pemeriksaan terdakwa, 23 Agustus lalu. Hakim menyetujui penundaan selama 2 pekan tersebut,” kata Kiki.

Kiki memastikan, tidak ada masalah atau kendala serius apalagi terkait dengan sulitnya jaksa menerapkan pasal tepat dalam perkara tersebut. “Ini bukan persoalan masalah atau tidak. Kita hanya ingin mencermati fakta persidangan dan kemudian dituangkan dalam tuntutan nantinya,” tuturnya.

Ditanyakan soal target persidangan kasus tersebut, Kiki mengungkapkan paling lama adalah akhir September mendatang. Asumsinya, setelah tuntutan, maka akan ada pembelaan dari terdakwa, kemudian replik duplik. Setelah semua berjalan lancar baru putusan dibacakan.

Sementara itu, protes diungkapkan oleh pihak Penasehat Hukum (PH) Umar Samiun,  Saleh SH. Menurutnya, jaksa KPK terlalu membuang waktu. Pasalnya dalam menyusun draf tuntutan kasus Umar Samiun tidak harus membutuhkan waktu lama. “Dakwaan sudah ada,  perjalanan fakta persidangan juga sudah jelas. Paling juga 2 lembar saja draf tuntutan,” ujarnya.

Meski begitu, Saleh mengaku sudah menyerahkannya kepada pihak Pengadilan. “Pengadilan sudah memutuskan. Kita serahkan sepenuhnya kepada pengadilan. Kita tetap optimis hakim bisa melihat fakta persidangan dimana semua dakwaan Jaksa KPK dapat dinilai kabur,” ungkapnya.

Dari dakwaan yang dialamatkan kepada kliennya yang mengatakan bahwa US memberikan hadiah dan dugaan melakukan gratifikasi, tidak terbukti. “Dari seluruh saksi dan bukti yang ada, tak satu pun yang membenarkan dua dakwaan Jaksa KPK tersebut. Dakwaan kabur,  kita harap hakim bisa melihat fakta persidangan yang ada,” pungkasnya.

Sementara itu, saat persidangan sepekan lalu, Umar Samiun sudah membeberkan dengan gamblang proses perjalanan masalah ini di depan hakim. Kala itu, jaksa sempat memutar rekaman keterangan US ketika bersaksi di sidang Akil Mochtar. Dengan jantan, US mengakui bahwa ia memang memberikan keterangan tersebut. Namun, keterangan yang dimaksud tersebut merupakan informasi yang diterimanya dari Arbab Paproeka melalui La Ode Agus Mukmin.

Dalam keterangannya di video tersebut, Umar Samiun mengaku mentransfer uang sebesar Rp. 1 Miliar ke rekening CV Ratu Samagat atas permintaan Arbab Paproeka yang belakangan diketahui dari pemberitaan bahwa rekening tersebut ada kaitannya dengan Akil Mochtar. “Saya tidak membantah atas apa yang sudah saya lakukan seperti mentransfer uang ke rekening itu. Tapi, tidak ada kaitannya dengan Akil Mochtar serta Pilkada Buton. Kalau sejak awal saya tahu rekening itu ada kaitannya dengan Akil Mochtar maka saya tidak akan lakukan itu (transfer uang, red),” kata Umar Samiun menanggapi barang bukti video kesaksian Umar Samiun dalam persidangan Akil Mochtar.

Akan tetapi, Umar Samiun menegaskan bahwa ada beberapa pernyataannya yang seharusnya diabaikan oleh penyidik KPK. Alasannya, keterangan-keterangan yang disampaikan dalam persidangan Akil Mochtar itu adalah keterangan yang didengarnya dari Arbab Paproeka melalui La Ode Agus Mukmin.

Keterangan yang menyatakan bahwa Umar Samiun mentransfer uang sejumlah Rp 1 Miliar itu semata-mata hanya untuk menghindari tekanan dari Arbab Paproeka yang tidak ada kaitannya dengan Pilkada Buton. “Awalnya Arbab minta Rp. 5 atau Rp 6 Miliar tapi saya waktu itu bilang ke Yusman (ajudannya) supaya kirim saja Rp 1 Miliar karena saya tau Arbab pasti mau memanfaatkan saya. Makanya saya kirim saja Rp. 1 Miliar supaya dia tidak ganggu saya di sengketa Pilkada Buton,” tegasnya.

Olehnya itu, dalam persidangan Akil Mochtar kala itu, Umar Samiun maupun Akil Mochtar juga telah meminta untuk menghadirkan Arbab Paproeka yang menjadi sumber permasalahan. Karena jika Arbab Paproeka saat itu langsung dihadirkan maka keterangan Umar Samiun langsung bisa diabaikan oleh penyidik karena keterangan yang sebenarnya adalah keterangan dari Arbab.

“Keterangan saya dalam persidangan itu berupa informasi yang saya terima dari orang lain. Istilah hukumnya adalah testimonium de auditu yang artinya mendengarkan dari orang lain. Keterangan dalam video yang diputar oleh JPU itu merupakan keterangan yang saya dengar dari Arbab melalui Agus Mukmin. Kalau didengar rekaman tersebut semua keterangan saya itu katanya, katanya dan katanya. Artinya, apa yang saya sampaikan itu merupakan keterangan yang saya dengar dari Arbab melalui Agus Mukmin,” tegasnya.

1 of 2

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top