Hewan Kurban Capai 9.500 Ekor, Kakanwil Kemenag Sultra : Pemberian Daging Utamakan Fakir Miskin – Kendari Pos Online
Iklan pajak

Konkep
UHO Cup Iklan Iklan 10 Iklan 23
HEADLINE NEWS

Hewan Kurban Capai 9.500 Ekor, Kakanwil Kemenag Sultra : Pemberian Daging Utamakan Fakir Miskin

KENDARIPOS.CO.ID — Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (Distanak) Sultra memastikan stok hewan kurban memadai. Untuk kurban sapi saja jumlahnya mencapai 7.000 ekor, sedangkan kambing sekira 2.500 ekor. Jumlah itu meningkat dua kali lipat dari jumlah kurban tahun lalu. Hanya saja, diprediksi hanya sekira 4.500 ekor sapi saja yang akan dikurbankan, sedangkan kambing hanya 2.000 ekor.

Kepala Distanak Sultra,
Muhammad Nasir mengungkapkan kesiapan hewan kurban itu tersebar di seluruh wilayah Sultra. Dengan jumlah yang hampir mencapai sepuluh ribu, menurutnya sudah cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan kurban masyarakat Sultra. “Saya pikir, itu sudah lebih dari cukup,” ujar Muh Nasir, Selasa (29/8/2017).

Terkait kesehatan hewan kurban, pihaknya sudah menginstruksikan seluruh dinas peternakan dan rumah potong hewan (RPH) di tingkat kabupaten/kota untuk bekerjasama dengan intansi kesehatan guna memeriksakan hewan sebelum disembelih. Selain itu, Distanak juga sudah menggelar bimtek pengelolaan hewan kurban kepada 50 orang yang bertugas mengurus hewan kurban. “Harapan kita, ilmu yang mereka dapat bisa dibagi ke masyarakat yang tidak sempat ikut,” ungkapnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, hewan kurban siap potong harus memenuhi standar ASUH (Aman Sehat Utuh dan Halal). “Ciri-cirinya, sapi harus gemuk dan aktif, tidak cacat alias harus utuh. Makanya kalau masyarakat bingung bisa diperiksakan dulu sebelum dibeli,” pesannya. Kepala Biro Kesejahteraan Masyarakat Setprov Sultra, Arfah menuturkan, khususnya Pemprov Sultra hingga Selasa, kemarin (29/8), sudah mengumpulkan 80 ekor sapi dan dua ekor kambing untuk dibagikan ke fakir miskin. Soal waktu penyembelian, Arfah menyerahkan sepenuhnya kepada masjid-masjid yang sudah ditunjuk sebagai pengelola hewan kurban. “Kenapa masjid, karena mereka sudah mengenal masyarakat yang pantas menerima daging kurban ini,” katanya.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sultra, Abdul Kadir menghimbau kepada seluruh panitia penyalur hewan kurban agar benar-benar melakukan pendataan terhadap penerima kurban itu. “Orang mampu tidak dilarang mendapat hewan kurban, hanya diutamakan fakir miskin dulu,” jelasnya.

Lebih dari itu, Ia juga meminta agar hewan yang dikurbankan telah sesuai ketentuan dalam hukum Islam. Misalnya, hewan tak boleh cacat dan berpenyakit, atau pisau yang digunakan untuk memotong haruslah tajam sehingga tidak menyiksa hewan terlalu lama. Dia juga mengajak seluruh umat Islam untuk memanfaatkan moment Idul Adha untuk berbagi. “Kalau belum bisa perorangan maka bisa berkelompok,” terangnya.

Masih menurut Abdul Kadir, hewan yang layak untuk menjadi kurban yaitu unta, sapi dan kambing, baik domba atau kambing biasa. Sedangkan usia hewan kurban tersebut secara syariat yakni kambing berusia satu tahun, sedangkan sapi berusia dua tahun. Kondisi fisiknya juga harus sehat dan sempurna dari ternak lainnya. Selain itu, fisik hewan kurban tidak boleh cacat. Misalnya, mengalami mata buta, kanan atau kiri, pincang dan sangat kurus atau hewan tersebut berpenyakitan.

Lebih jauh, soal distribusi hewan kurban dijelaskan Pengawas Syariah Lembaga Zakat Nasional BMH, Ust. Abdul Kholik, Lc, M.H.I. Menurut dia, memang tidak ada ketentuan yang bersifat definitif baik dalam Alquran maupun hadis tentang pembagian hewan kurban itu. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa kurban itu dibagi dua. Setengah untuk pekurban dan kelurganya setengah lagi untuk disedekahkan sebagaimana makna yang dapat disimpulkan dari surat al-Hajj: 28.

Ada pula yang berpendapat agar dibagi tiga sebagaimana tercantum pada ayat 37 dari surat al-Hajj. Pendapat ketiga mengatakan dibagi tiga pula sebagaimana pendapat kedua, namun dengan distribusi yang berbeda, yaitu sepertiga untuk di makan, sepertiga disedekahkan dan sepertiga untuk disimpan. “Jadi hakekatnya, pendapat ketiga ini adalah dua pertiga untuk pekurban dan sepertiga untuk sedekah,” jelasnya.

Pendapat ini, lanjut dia, didasarkan pada hadis Nabi:”Maka makanlah sewajarnya menurut kalian, berikanlah dan simpanlah (HR. Al-Turmudzi). Atas dasar hadis ini pula ada yang berpandangan, bahwa yang penting ada disedekahkan seberapapun tidak ada masalah. Yang jelas tambah dia, semua ulama sepakat bahwa sedekah ini tidak mempengaruhi keabsahan ibadah kurban. Begitu pula sasaran sedekah daging ini juga tidak terbatas pada orang yang fakir saja, sebagaimana dijelaskan Nabi.

Sekalipun demikian, sebagai seorang muslim sejati yang berkarakter amat peduli kepada saudaranya sesama muslim -karena ibaratnya satu tubuh-, tentu tidak akan tega makan dengan lahap sementara saudara seimannya yang sangat membutuhkan justru tidak mendapat bagian. Bahkan dalam rangka ini dalam suatu momentum Idul Adha, Nabi mengeluarkan kebijakan melarang kaum muslimin untuk memakan daging kurban dan menyimpannya lebih dari tiga hari. “Kebijakan ini bertujuan agar daging kurban dapat dinikmati seluruh kaum muslimin dan tidak ada tersimpan sementara masih banyak pihak yang membutuhkan,” imbuhnya. (b/ely)

 

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top