Kaghati Kolope, Layangan Khas Muna yang Kini Terlupakan, Dipuji Dunia Terlantar di Negeri Sendiri – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Muna

Kaghati Kolope, Layangan Khas Muna yang Kini Terlupakan, Dipuji Dunia Terlantar di Negeri Sendiri

La Ode Kosasi, pria asal Desa Liangkabori memperlihatkan Kaghati Kolope (layang-layang dari daun umbi hutan) yang baru saja dibuatnya, Minggu (20/8) lalu. Layangan ini mulai langka. Bukan saja karena masyarakat tak peduli, tapi juga bahan bakunya sulit ditemukan.Foto : Ery/Kendari Pos

KENDARIPOS.CO.ID–Kaghati Kolope menjadi pusat perhatian saat ditampilkan dalam acara The Association For International Sport for All (TAFISA) 2016 lalu. Ratusan orang dari berbagai penjuru dunia begitu takjub, melihat hasil sulaman daun bisa menjadi layang-layang. Pujian pun mengalir, bahkan digadang bisa masuk rekor dunia. Tapi itu dulu, kini kondisinya sangat mengenaskan. Bahkan anak-anak di Muna mungkin tak mengenalnya lagi.

Muh Ery, Raha

Jemari tangan La Ode Kosasi begitu lincah menyulam satu persatu daun kolope menjadi layang-layang. Hanya butuh waktu sekira satu jam bagi pria asal Desa Liangkabori ini untuk menghasilkan satu buah layangan yang menarik dan pernah menghebohkan dunia itu. Tapi itu cukup beralasan, mengingat dia sudah mahir membuatnya sejak usia 7 tahun. Ilmunya itu dia dapat hanya dengan melihat kebiasaan orang tuanya yang dulu memang gemar membuat layang-layang.

Setelah jadi, dia langsung mengujinya dengan menerbangkannya di halaman rumah. Dan ternyata bisa “mengudara”. “Sudah jarang orang buat layang-layang kolope ini. Malah, mungkin anak-anak sekarang tak kenal lagi,” kata La Ode Kosasi sambil menggulung tali yang dia gunakan untuk menerbangkan layangan.

Layang-layang bagi masyakat Liangkobori sudah dikenal sejak zaman dulu. Utamanya, bagi mereka yang berkebun. Pasalnya, untuk mengobati kejenuhan disetiap aktivitas berkebun, masyarakat membuat layang layang kolope. Selain, sebagai ajang hiburan juga digunakan sebagai alat untuk mengusir hewan yang dapat mengganggu tanaman. Biasanya, setiap musim kemarau, saat angin “bersahabat” untuk menerbangkan layangan. “Dulu, setiap berkebun, pasti ada yang bikin layang-layang kolope. Sekarang, sudah tidak ada lagi,” katanya.

Bukan tanpa alasan sehingga kaghati kolope sulit ditemukan lagi. Sebab, selain warga tidak peduli lagi, bahan bakunya juga makin sulit ditemukan. Untuk membuat layang-layang itu saja, La Osa sapaan karib La Ode Kosasi, butuh waktu beberapa pekan mencarinya. Maklum, serat nenas hutan sebagai tali penerbang layang-layang sudah jarang ada. “Tumbuhan nenas sudah mulai langka. Kalau daun kolope masih ada tanamannya. Hanya musim sekarang ini sudah gugur daunnya,” katanya.

1 of 2

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top