Subhanallah, Perawat Honorer Daerah Terpencil di Kolut, “Bertaruh” Nyawa Demi Selamatkan Pasien – Kendari Pos Online
Iklan pajak

Konkep
UHO Cup Iklan Iklan 10 Iklan 23
HEADLINE NEWS

Subhanallah, Perawat Honorer Daerah Terpencil di Kolut, “Bertaruh” Nyawa Demi Selamatkan Pasien

Para bidan honorer di Kolut yang sedang menuju kerumah pasiaen. Foto : Muh Rusli/Kendari Pos.

KENDARIPOS.CO.ID — Warga Torotuo Kecamatan Rante Angin di Kolaka Utara (Kolut) hanya bisa pasrah kalau ada salah satu keluarga mereka terserang penyakit. Lokasinya yang terisolir sehingga tak ada Puskesmas apalagi perawat yang ada di tempat itu. Syukurnya, ada Najemah, S.Kep, Ners perawat cantik bersama dua rekan seprofesinya mau mengabdi di desa berpenghuni 34 kepala keluarga (KK) tersebut.

Muhammad Rusli, Kolaka Utara

Sinar mentari begitu terik, kemarin. Padahal, jarum jam baru menunjukkan pukul 09.00 wita. Namun suasana alam yang kurang bersahabat itu tak menyurutkan niat Najemah, bidan cantik bersama dua rekan seprofesinya, Srinanengsih, S.Kep dan Yunira yang masih berstatus honorer untuk menelusuri jalan setapak menuju desa Torotuo, salah satu kampung paling terisolir di Bumi Patampanua (Kolut).

Najemah menggunakan baju kebesaran perawat, celana yang sedikit ketat plus sepatu kets sehingga memudahkan pergerakannya naik-turun lembah. Di punggungnya ada tas ransel berisi perbekalan dan obat-obatan. Kedua rekannya juga membawa bekal yang kurang lebih hampir sama. Pakaian mereka seperti itu memang sangat mendukung, mengingat kondisi jalan menuju kawasan puncak perbukitan Rante Angin, lokasi desa Torotuo sangat ekstrim. Akses setapak berdinding bukit dan jurang yang curam. Sehingga kalau tidak hati-hati
bisa sangat berbahaya buat keselamat mereka.

Namun, semua tantangan itu mereka hadapi dengan semangat pengabdian. Istilahnya, mereka rela bertaruh nyawa mendaki bukti dan menyeberangi jurang curam demi menyelamatkan pasien yang ada di kampung tersebut. Sungguh dedikasi dan pengabdian tanpa batas yang patut diteladani. “Masyarakat di sana (desa Tototuo) sangat membutuhkan perawatan medis. Kami lakukan semua ini demi kemanusiaan,” kata Najemah.

Memang tak bisa dibayangkan, jika Najemah dan kawan-kawan tak rutin datang di desa yang berpenghuni seratusan orang itu. Sebab, tak ada pelayanan medis di situ. Kalau ada warga yang sakit harus menunggu hari pasar di kecamatan untuk cek kesehatan dan membeli obat. Itupun hanya sekali sepekan dan medan yang dilalui juga sangat berbahaya untuk sampai di pasar tersebut. “Itulah salah satu alasan, sehingga kami terketuk untuk mengabdi di sini dengan segala konsekuensinya,” ujarnya.

Untuk sampai ke Torotuo, ada dua jalur yang bisa ditempuh, yakni bisa melalui rute lurus dari ibu kota kecamatan Rante Angin. Kira-kira bisa 5 jam ditempuh dengan jalan kaki. Bisa juga mengitari bukit perkampungan Desa Raodah Kecamatan Lambai menggunakan roda dua, tapi di ujung kampung harus berjalan kaki, kurang lebih sejam lamanya. Nah, alternatif kedua inilah yang digunakan Najemah bersama dua rekannya. “Mendaki terus jalannya semakin sempit dan sebagian jurang dan hutan. Jadi, kalau sampai rumah pertama simpan motor karena jalan sulit dan licin. Kami jalan kaki sekira dua kilometer jauhnya,” jelas perempuan berhijab ini.

1 of 3

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top