Sekali Berarti, Sudah Itu Mati, Oleh : Prof. Dr. Abdullah Alhadza, MA – Kendari Pos Online
Iklan pajak

Konkep
Zetizen Iklan Iklan 10 Iklan 23
Kolom

Sekali Berarti, Sudah Itu Mati, Oleh : Prof. Dr. Abdullah Alhadza, MA

KENDARIPOS.CO.ID — Salah satu frase dalam Puisi Chairil Anwar berbunyi : “Sekali berarti sudah itu mati”. Frase yang pendek, namun mengandung arti yang sangat padat dan sarat makna. Frase itu telah menjadi perbincangan dan kajian spektakuler bukan saja di kalangan sasterawan tetapi juga para ilmuan humaniora sepanjang perjalanan sejarah bangsa ini.

Chairil Anwar sebagai seorang kutu buku termasuk buku agama tentu, seperti juga RA Kartini, dapat diduga keduanya telah terilhami ayat suci Al Qur’an. RA Kartini mendapat ilham dari ayat Al Qur’an surah ayat Al Baqarah 257 yang berbunyi minad dulumati ilan nur, yang berarti dari gelap menuju terang ketika menulis surat kepada sahabatnya di negeri Belanda, sementara Chairil terinspirasi oleh ayat Al Qur’an Surat Ali Imran : 102 yang berbunyi Wa laa tamutunna illa wa antum muslimun di saat menulis puisinya yang diberi judul Diponegoro yang di dalamnya ditegaskan ungkapan Sekali berarti sudah itu mati.

Kalimat Kartini “Door Duisternis tot Licht” dalam salah satu suratnya tersebut memukau Mr J.H. Abendanon Menteri Pendidikan Belanda sehingga kemudian dijadikannya judul ketika menerbitkan kumpulan surat surat Kartini dalam bentuk buku yaitu “Door Duisternis tot Licht”. Judul buku itu kemudian diterjemahkan secara bebas oleh penyair Indonesia angkatan Pujangga Baru Armijn Pane dengan nama “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang kita kenal selama ini.

Kembali kepada ungkapan Chairil dalam puisinya “Sekali berarti sudah itu mati”. Ungkapan itu tidak lain dari pesan penyair yang bermakna janganlah engkau mati sebelum memberi arti bagi kehidupan bangsa ini. Sebagaimana juga arti dari ayat Al Qur’an Surat Ali Imran : 102 yang berbunyi dan janganlah kamu mati sebelum menjadi muslim yang sebenar benarnya (Wa laa tamutunna illa wa antum muslimun).

Apabila kata “berarti” dicarikan padananannya dalam bahasa Indonesia maka kata yang tepat adalah “berfungsi”. Sehingga frase tersebut dapat diformulasi menjadi “sekali berfungsi sudah itu mati”, atau dengan kata lain tunjukkanlah fungsimu sebelum kematian datang menjemput dirimu.

Sesuatu benda berhak menyandang nama atau predikat yang dilekatkan kepadanya jika ia dapat melaksanakan fungsi yang diharapkan darinya. Misalnya sebatang pensil dapat disebut pensil jika ia dapat digunakan untuk menulis. Apabila sebuah pensil tidak bisa lagi difungsikan untuk menulis, maka otomatis predikatnya sebagai pensil sudah gugur mungkin lebih tepat disebut pengorek telinga atau pengganjal pintu karena tinggal itulah fungsi di mana ia bisa digunakan. Suatu payung yang sudah koyak daunnya mungkin lebih tepat disebut tongkat lantaran tidak bisa lagi melindungi pemiliknya dari sengatan matahari atau guyuran hujan, demikian seterusnya.

Kehidupan seorang manusia bisa menyandang berbagai fungsi, seperti : sebagai suami atau isteri, sebagai ayah, sebagai guru, sebagai manajer, sebagai anggota legislatif, sebagai penegak hukum, sebagai dokter, sebagai bupati, gubernur atau presiden dan lain lain. Seorang guru dapat disebut guru manakala ia mampu melaksanakan fungsinya sebagai guru. Jika seorang guru cuma melaksanakan fungsinya setengah setengah maka ia cuma pantas disebut setengah guru. Seorang Aparatur Sipil Negara yang bekerja setengah hati dalam melayani masyarakat, hanya pantas disebut setengah ASN, di mana gaji dan pendapatan lainnya seharusnya dibayar setengah saja dan tentu masa pensiunnya pun perlu dipercepat sebesar 50 persen.

1 of 2

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top