Wiber, Komunitas Muda Pengajar Anak-anak Bermasalah Hukum, Dua Kali Sepekan Masuk Lapas – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Metro Kendari

Wiber, Komunitas Muda Pengajar Anak-anak Bermasalah Hukum, Dua Kali Sepekan Masuk Lapas

Tahanan anak-anak di Lembaga Pembinaan Khusus Anak LPKA tengah melakukan aktivitas belajar yang diselenggarakan oleh komunitas Wiber.

KENDARIPOS.CO.ID — Mengajar anak-anak putus sekolah itu sudah jamak. Wiber, memilih yang anti mainstream. Komunitas anak muda ini masuk sel, berbagi ilmu dengan para “bandit” kecil. Belajar adalah hak semua anak di negeri ini.

Adwin Barakati, Kendari

Akbar tekun menatap secarik kertas di tangannya yang berisi soal matematika yang wajib ia selesaikan. Sesekali, remaja berusia 17 tahun menulis beberapa angka yang ia reduksi dari soal itu. Sejurus kemudian, terpidana setahun tujuh bulan ini berseru dengan wajah girang. Pertanyaan yang mungkin tidak begitu rumit bagi mereka yang duduk di bangku sekolah, baru saja tuntas ia jawab.

Kegirangan itu tentu beralasan. Kesempatan “bertemu” ilmu baginya adalah sesuatu yang langka. Sejak menjadi penghuni Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kota Kendari-dulu disebut Bapas Anak, jarang sekali ia bisa mendapat kesempatan mengelaborasi kemampuan otaknya. Negara tidak menyediakan sekolah formal bagi mereka, anak-anak yang terjerat masalah hukum.

Kini, Akbar dan 22 rekannya yang menghuni LPKA sudah bisa menambah pengetahuan, tak melulu menghitung hari bebas. Dua kali dalam sepekan, mereka kedatangan tamu istimewa, yakni kelompok anak-anak muda inspiratif yang tergabung dalam Wadah Indonesia Berbagai (Wiber). “Mereka mengajar kami berhitung, belajar IPA dan ilmu lain yang hanya ada di sekolah umum,” kata Akbar, usai mengikuti sesi belajar Selasa sore (8/8) lalu.

Sore itu, memang jadi jadwal Wiber mengajar. Pihak LPKA sangat terbuka dan membantu komunitas ini berbagi ilmu. Lembaga ini menyediakan sebuah ruang yang cukup lapang, berukuran sekira 6X4 meter yang disekat tiga bilik. Pemisahan ini dilakukan untuk mengklasifikasikan peserta didik sesuai usia. Semacam kelas. Para penghuni sel anak ini dianggap setara dengan usia anak SMA. Suasana sore itu mirip taman belajar.

Komunitas bernama Wiber ini dibentuk seorang mahasiswi bernama Gebi, empat bulan lalu. Misinya, ikut berkontribusi terhadap kecerdasan bangsa. “Karena saya berpikir. Semua orang itu berhak mendapat pendidikan. Tak terkecuali mereka yang ada dalam tempat ini,”kata Rikard, salah satu anggota Wiber Kendari, usai mengajar anak binaan di LPKA yang terletak di jalan Kapten Pierre Tendean, Kecamatan Baruga, Kota Kendari

23 anak binaan dibagi tiga. Ada yang sekelas jumlahnya 10 orang, 8 orang dan 5 anak. Pembagian ini sesuai usia, dan tingkat penerimaan ilmu. Mereka terlihat tekun ketika Rikard dan rekan-rekannya menularkan ilmu pengetahuan. Ada yang sibuk menulis dan ada pula yang asyik mendengarkan penjelasan anggota Wiber. “Dua jam sekali belajar,” tambah Rikard.

Sore itu, anggota Wiber membawa materi matematika. Menurut Rikard, pelajaran yang diajarkan, sama seperti pelajaran pada umumnya, tergantung dari tingkat pendidikan sang anak. Jika sang anak binaan berada pada jenjang SMA, maka diajarkan hal yang sesuai, dengan sesederhana mungkin. “Agar semua anak paham yang kami sampaikan. Kan, tidak semua anak di sini sama pengetahuannya,” imbuh Dita teman Rikard yang saat itu pula bercerita tentang pengalaman mereka mengajar di LPKA Kendari.

Selain Rikard dan Dita, beberapa anggota Wiber sore itu juga hadir. Ada Wahyu, Ucok, Dian, dan Jiji yang ikut mengajar sore itu. Enam sekawan yang masih berstaus mahasiswa inilah yang dua kali sepekan menularkan pengetahuan kepada 23 anak binaan di LPKA. Dita menjelaskan, apa yang diajarkan kepada anak binaan adalah pelajaran yang ada dibangku, SD, SMP dan SMA.

Contohnya kata dia, Bahasa Indonesia, PPKN, Matematika dan Bahasa Inggris. Pelajaran ini, menurut dia sangatlah tepat, karena tentu pernah dikenal anak-anak itu saat sekolah. Selain pelajaran umum, untuk memacu semangat belajar sang anak binaan, komunitas Wiber juga mengajarkan permainan musik. “Jadi disini, kami mengklasifikasikan kelas. Ada juga kelas musik. Yang ngajar itu kak Rikard. Kalau kelas umumnya, kami ajarkan pengetahuan umum,” katanya dengan menyebutkan bahwa mereka baru menyelesaikan pembuatan jadwal untuk mata pelajaran yang akan disampaikan setiap pertemuan.

Dita mengatakan, apa yang diajarkan kepada anak-anak binaan adalah semata-mata untuk membuat mereka menjadi orang yang baik dan terdidik. Mungkin, harapannya, ketika keluar dari masa hukuman, mereka dapat berubah menjalani kehidupan yang baik. Menurut Dita, Wiber adalah komunitas sosial yang belum lama lahir. Inisiasinya adalah seorang wanita bernama Gebi.

Kepala LPKA, Rasid mengaku sangat terbantu dengan hadirnya Wiber mentransfer ilmu di lembaga pimpinannya itu. Bagaimana tidak, komunitas ini membawa pemikiran anak-anak binaan agar terhindar dari pikiran jahat. Menurut Rasid, sejalan dengan apa yang ditekankan presiden, bahwa kepramukaan dan pendidikan sangat ditekankan kepada anak binaan khusus. Maka dari itu Wiber adalah komunitas yang sangat bagus.
(***)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top