Ekonomi Sultra Tertinggi se Indonesia Pada Triwulan II 2017 – Kendari Pos Online
Jalan Sehat

pariwara
Iklan Jalan Sehat Kenpos Iklan 10 Iklan 23
Ekonomi & Bisnis

Ekonomi Sultra Tertinggi se Indonesia Pada Triwulan II 2017

KENDARIPOS.CO.ID — Di tengah hempasan inflasi, ternyata Sultra mampu bertahan. Hebatnya, dalam posisi sulit seperti itu, pertumbuhan ekonominya justru bisa menjadi yang terbaik secara nasional pada triwulan II ini. Angka pertumbuhannya sebesar 7,0 persen, lebih tinggi dari provinsi lain di Indonesia.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sultra, Minot Purwahono mengatakan, pertumbuhan ekonomi Sultra jauh lebih tinggi daripada angka nasional yang hanya sebesar 5,0 persen dan sekaligus yang tertinggi di Indonesia. “Capaian ini juga lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu,” ujar Minot, kamis(10/8).

Kendati secara umum pertumbuhannya meningkat, namun ada beberapa aspek yang melambat. Misalnya, aspek penawaran, perlambatan terjadi pada usaha pertambangan, penggalian dan konstruksi. Hal ini akibat tingginya curah hujan yang mengganggu aktivitas produksi.

Faktor lainnya, sambung Minot, adalah tingginya based point effect pada usaha pertambangan dan penggalian di triwulan pertama, setelah di akhir tahun 2016, salah satu perusahaan tambang terbesar mengurangi produksi karena stok yang masih banyak. Namun, membaiknya pertumbuhan usaha pertanian karena memasuki musim panen plus terdongkraknya produksi nikel olahan justru menjadi tameng penahan.

Sedangkan dari sisi permintaan, perlambatan disebabkan menurunnya konsumsi pemerintah, investasi dan ekspor. Gaji 13 dan 14 untuk pegawai negeri sipil, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian RI yang dibayarkan secara terpisah di bulan Juni dan Juli turut memicu perlambatan konsumsi pemerintah.

“Beda dengan tahun lalu, gaji 13 dan 14 dibayarkan bersamaan di bulan Juni,” jelasnya. Sementara itu, penurunan frekuensi penanaman modal dalam negeri pada industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik jadi penyebab menurunnya investasi Sultra. Namun, tingginya konsumsi rumah tangga selama bulan Ramadan dan Idul Fitri ternyata mampu menahan laju perlambatan yang terjadi.

Di sisi lain, inflasi Sultra pada bulan Juli tercatat sebesar 0,99 persen, menurun jika dibandingkan inflasi bulan sebelumnya yang tercatat sangat tinggi mencapai 3,24 persen. Secara spasial, penurunan inflasi pada bulan Juli disebabkan oleh inflasi Kota Kendari. Sementara Kota Baubau mengalami peningkatan dan merupakan kota dengan tingkat inflasi tertinggi di Indonesia pada periode Juli. Turunnya tekanan Inflasi bulan itu didorong oleh penurunan harga komoditas bahan makanan, utamanya sayur-sayuran seiring dengan mulai nomalnya produksi.

Selain itu, bahan bakar rumah tangga juga mengalami deflasi dan jadi salah satu penyebab penurunan tekanan. Lebih jauh, tekanan inflasi pada kelompok volatile food juga mengalami penurunan yang signifikan dan jadi indikasi utama penurunan yang terjadi di periode Juli. Itu hanya terjadi di Kota Kendari karena didorong deflasi komoditas sayuran dengan andil 0,07 persen setelah sebelumnya menyumbang angka inflasi mencapai 1,85 persen.

“Sepanjang Juli, sayuran yang alami deflasi cukup dalam adalah bayam, kangkung, sawi hijau, jantung pisang dan terong panjang karena pasokan komoditas yang kembali normal di Kota Kendari. Sementara Kota Baubau justru mengalami peningkatan,” terangnya lagi.

Selanjutnya, inflasi kelompok inti dan administered price bulan Juli juga tercatat menurun jika dibanding dengan periode sebelumnya. Penurunan inflasi inti disebabkan oleh turunnya harga makanan jadi dan sandang karena kembali normalnya permintaan masyarakat pasca Idul Fitri. Sedangkan penurunan tekanan inflasi untuk kelompok administered prices justru didorong oleh deflasi bahan bakar rumah tangga dan turunnya tarif listrik karena pencabutan subsidi listrik untuk pelanggan 900 volt ampere telah berakhir.

Menyikapi perkembangan inflasi pada Juni yang masih didorong oleh komoditas sayuran, Tim Pengendalian Inflasi Daerah Kota Kendari dan BI menyelenggarakan pelatihan budidaya tanaman hortikultura di lahan terbatas, untuk menggenjot produksi sayuran dan mengurangi permintaan pasar.

Sementara untuk mengantisipasi inflasi jelang Idul Adha pada awal September mendatang, TPID Sultra akan terus mencermati perkembangan harga di pasar khususnya harga daging sapi dan komoditas pangan lainnya. “TPID juga akan segera mengambil langkah antisipatif yang diperlukan untuk mengatasi peningkatan tekanan harga di pasar,” tandasnya. (b/feb)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top