Alasan Sakit, Akil Mochtar Batal Bersaksi di Sidang Umar Samiun – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Hukum & Kriminal

Alasan Sakit, Akil Mochtar Batal Bersaksi di Sidang Umar Samiun

Bupati Buton Non Aktif, Umar Samiun mengenakan rompi tahanan KPK.
RAMADHAN/KENDARI POS

KENDARIPOS.CO.ID — Sidang lanjutan kasus dugaan suap Bupati Buton non aktif Samsu Umar Abdul Samiun (US) kembali digelar di pengadilan Tipikor, Jakarta, kemarin. Sidang akhir yang seharusnya beragendakan pemeriksaan terhadap Akil Mochtar ternyata tidak terwujud. Alasannya, yang bersangkutan masih sakit.

Tidak hadirnya Akil yang dianggap sebagai kunci dalam perkara tersebut membuat kubu US kecewa berat. Padahal, andai terpidana seumur hidup itu bisa hadir, ia menjadi kunci kasus ini. Ditemui usai persidangan, kuasa hukum US, Muhammad Saleh mengungkapkan kekecewaanya karena Akil kembali tidak bisa dihadirkan jaksa di persidangan.

Menurutnya, Akil adalah saksi kunci yang dapat menjawab persoalan dugaan suap yang dialamatkan kepada kliennya. “Didalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Akil mengakui bahwa tidak pernah meminta uang baik melalui Arbab sebagai perantara atau pun secara langsung kepada US. Hal ini yang perlu kita dengarkan sebagai fakta persidangan,” tuturnya usai sidang, Rabu (9/8/2017)

Dalam pernyataan di BAP, apa yang disampaikan Akil memiliki kesamaan dengan keterangan mantan Hakim MK lainnya, Hamdan Zoelva. “Dalam keterangan Akil juga sudah menyebutkan bahwa keputusan sengketa Pilkada Buton di MK telah diputuskan dengan cara musyawarah mufakat, bukan karena dugaan suap. Kamio harap majelis hakim dapat melihat fakta-fakta yang telah dibeberkan selama persidangan,” katanya.

Selain itu, setelah kesaksian Akil di BAP yang dibacakan oleh JPU, persidangan pun dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan ahli. Dalam sidang tersebut, US mengajukan 3 ahli yakni Prof. Andi Hamzah yang merupakan ahli dalam bidang pidana, Prof. Alopsen P Gultom yang merupakan ahli dalam bidang perbankan serta Prof. Rahayu Surtiati yang merupakan ahli bahasa.

1 of 2

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top