Alasan Berstatus Hutan Lindung, Jembatan di Desa Maroko Kolut Belum Bisa Dibangun – Kendari Pos –
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Kolaka Utara

Alasan Berstatus Hutan Lindung, Jembatan di Desa Maroko Kolut Belum Bisa Dibangun

MUHAMMAD RUSLI/KENDARI POS
Sarana penyeberangan darurat warga Maroko belum akan dibangun permanen. Plh Bupati Kolut, H. Iskandar masih mengupayakan penurunan status di kawasan hutan lindung tersebut agar menjadi area penggunaan lain

KENDARIPOS.CO.ID — Sarana penyeberangan darurat warga Dusun IV Desa Maroko, Kecamatan Rante Angin di perbatasan Tinukari Kecamatan Wawo menggunakan tali sling belum dapat dibenahi dengan infrastruktur lebih baik. Alasan pemerintah kabupaten (Pemkab) Kolaka Utara (Kolut), kawasan tersebut masuk dalam area hutan lindung (HL). Makanya, perlu penurunan status kawasan jika hendak membangun jalur penghubung permanen.

Pelaksana Harian (Plh) Bupati Kolut, H. Iskandar saat mengunjungi lokasi penyeberangan tersebut bersama jajarannya, sesuai titik koordinat khususnya wilayah Dusun IV Desa Maroko, memang berada dalam kawasan HL. Iskandar juga telah berkomunikasi dengan kepala desa saat ini termasuk pejabat sebelumnya. Diakui, memang keberadaan jalur penyeberangan itu tak pernah diusulkan untuk pembuatan jembatan karena dalam area HL. “Sekarang kita tidak bisa berbuat apa-apa sebelum berubah status menjadi area penggunaan lain (APL),” tegasnya, senin (7/8).

Usulan perubahan status sebenarnya sudah diupayakan saat ia menjabat sekretaris kabupaten (Sekab) dan telah masuk ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sejak tahun 2010. Namun hingga kini belum ada keputusan. “Ketua Dharma Wanita Pusat juga sudah mempertanyakan langsung keberadaan penyeberangan itu melalui pesan WhatsApp, senin(7/8). Setelah ibu (istri Iskandar) menjelaskan fakta, katanya akan dibantu untuk penurunan status HL menjadi APL,” ungkapnya.

Sarana penyeberangan menggunakan tali sling untuk melintasi sungai diklaimnya baru tiga tahun belakangan ini. “Kami tidak alergi kritik. Tapi saya sayangkan jika penyeberangan ini diinformasikan secara berlebihan tanpa fakta di lapangan,” papar Iskandar. Ia juga mengaku, penyeberangan darurat tersebut hanya sebagai alternatif untuk mempersingkat jarak tempuh dari dusun IV ke pusat desa. Sebab sudah ada jalan lain yang bisa dilalui kendaraan roda dua dan hanya berslisih jarak satu kilometer. “Tidak benar jika tak ada akses lain. Ada, hanya jaraknya memang lebih jauh,” sambung Iskandar.

Telah ada dua usulan pembuatan jembatan yang siap direalisasikan jika status hutan telah berubah. Ada bantuan dari pihak TNI-AD dan Kementerian Pekerjaan Umum. Sekretaris Desa Maroko, Erwin yang dikonfirmasi terpisah membenarkan, tali penyeberangan yang ada saat ini dipakai warga baru berlangsung tiga tahunan. “Tali sling itu dibeli di Pomalaa, Kolaka seharga Rp 3 juta dari hasil swadaya masyarakat,” kata mantan Kepala Desa Maroko tersebut.

Pihaknya mengakui enggan mengusulkan pembuatan jembatan dan memilih membuat penyeberangan secara swadaya karena memang masuk dalam kawasan HL. Seperti diberitakan sebelumnya, warga Desa Maroko harus mengambil risiko menyeberangi sungai menggunakan tali sling. (b/rus)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top