Hebat! Cegah Trafo Overload, Mahasiswa UHO Ciptakan SMTD – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Edukasi

Hebat! Cegah Trafo Overload, Mahasiswa UHO Ciptakan SMTD

Wa Ode Sitti Febriani/Kendari Pos
Ki-ka: Salah satu mahasiswa yang menciptakan SMTD, Muhammad Faidul, dosen pembimbingnya, Hasmina Tari Mokui, ME., Ph.D., dan Ketua Tim SMTD, Baharudin, menunjukkan Smart Monitoring Transformator Distribution, minggu (6/8).

KENDARIPOS.CO.ID — Prihatin terhadap masalah klasik Perusahaan Listrik Negara (PLN), tiga mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) pun menciptakan Smart Monitoring Transformator Distribution (SMTD). Karya inovatif ini mampu mengontrol kondisi trafo secara real time, mulai dari data arus, tegangan, suhu hingga tegangan antar fasa. Hebatnya, data bisa diakses via online sehingga tak perlu repot turun lapangan untuk mengecek trafo di berbagai titik.

Ketua Tim, Baharudin (Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik) mengatakan, seringkali trafo overload karena jumlah pengguna listrik dalam satu kawasan terus bertambah dan baru ketahuan saat trafo sudah terbakar (meledak). Dengan SMTD, sehatnya trafo bisa dikontrol jarak jauh bahkan setiap detik pun bisa. “Jadi tidak tunggu meledak dulu,” guraunya.

Sambungnya, alat tinggal disimpan pada trafo. Ide SMTD telah muncul sejak tahun 2015, namun baru diikutkan pada Program Kreativitas Mahasiswa-Penerapan Teknologi (PKM-T) tahun 2016. Lalu pada bulan Maret tahun ini, proposal dinyatakan lolos verifikasi. Juri dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengatakan bahwa proposal yang masuk hampir 60 ribu dan yang di-ACC hanya 4 ribu proposal, salah satunya dari UHO.

“Kami bangga karena ini satu-satunya dari UHO dan jadi produk teknologi pertama yang masuk seleksi Pimnas,” ungkap Bahar.

Salah satu peserta, Barakah Aswad dari Jurusan Teknik Elektronika Konsentrasi Teknologi Komputer Program Pendidikan Vokasi menambahkan, kendala PLN hingga saat ini adalah data manajemen hingga perawatan trafo yang masih dilakukan secara manual, bahkan hanya 2 kali setahun mengambil data trafo, tentu kurang efektif. Sedangkan SMTD memberikan data real time. “Suka-suka kita, karena tinggal buka laptop, online lalu akses. Dari segi waktu dan dana jelas sangat membantu,” kata Barakah yang telah bekerja sebagai pegawai PLN sejak beberapa tahun lalu.

Menurutnya, PLN telah memiliki aplikasi khusus untuk pengecekan trafo namun datanya tetap harus diambil secara manual. Artinya, langsung ke lapangan apalagi per orang dibayar Rp 20-80 ribu per trafo. Alhasil, data manual seringkali kurang valid karena medan yang cukup sulit dijangkau, jadi kurang efisien waktu sekaligus biaya. “Ini fakta,” singkat Barakah.

Adapun mekanisme kerja SMTD, sambungnya, seperti telepon seluler karena dapat diakses dengan memanfaatkan layanan provider. Prinsipnya, dimana ada listrik maka disitu pasti ada signal. Ketiganya memilih jaringan GSM karena jangkauan yang lebih luas.

Ia berharap, SMTD bakal diproduksi secara besar-besaran kelak (pasca PKM) dan tak hanya ditaruh dalam lemari sebagai kenang-kenangan. “Setidaknya ada produk yang keluar dari sini dan bermanfaat untuk masyarakat,” ujarnya.

Salah satu peserta dari Jurusan Teknik Elektro, Muhammad Faidul, menyampaikan keunggulan SMTD adalah punya fitur radio frekwensi (GPS) untuk memudahkan pencarian lokasi selain fitur-fitur hebat lainnya. Disini, trafo diibaratkan seperti manusia yang harus dijaga kesehatannya. Apalagi harga 1 unit trafo amat mahal dan sayang jika rusak karena kurang terjaga. “Sebenarnya alatnya sangat sederhana, tapi yang bikin spesial adalah fungsinya,” bebernya.

Di sisi lain, dana yang diturunkan oleh Kemenristekdikti hanya Rp 8,25 juta, jelas sangat minim jika melihat alat yang harus didatangkan dari luar pulau bahkan luar negeri. Sambil menunggu cair, pembimbingnya, Hasmina Tari Mokui, ME., Ph.D., bersedia menalangi karena melihat semangat ketiga mahasiswanya. “Saat mendengar idenya, saya langsung feeling ini akan sukses, insya Allah. Kebetulan riset saya memang fokus di kontrol dan monitoring sistem termasuk ketenagalistrikan,” ungkap Tari, sapaan akrabnya.

Ini kali pertama ia membimbing dan ternyata tembus Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) yang bakal berlangsung pada tanggal 23-28 Agustus di UMI Makassar. Ia mengapresiasi semangat yang ditunjukkan ketiga mahasiswanya, kendatipun sulit mempertemukan waktu namun semua punya solusi. “Semoga mereka menang dan SMTD diproduksi. Kabar baiknya, paten sedang dalam proses pengurusan. Jika masih ada mahasiswa yang ingin ikut jejak mereka maka saya siap membimbing. Kalau boleh ya lintas fakultas lebih bagus,” tutupnya. (feb/b)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top