Tiga Tersangka Tambahan Dugaan Bibit Fiktif Dishut Konut Tak Ditahan – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Hukum & Kriminal

Tiga Tersangka Tambahan Dugaan Bibit Fiktif Dishut Konut Tak Ditahan

KENDARIPOS.CO.ID — Penyidik sudah menetapkan tersangka tambahan dalam dugaan pengadaan bibit fiktif di Dishut Konut tahun 2015. Namun tiga tersangka yang ditetapkan belakangan tak ditahan. Ketiga tersangka itu yakni Ahmad bin Tulangkuse sebagai rekanan proyek, Willy Jumarni dan Zainal sebagai pemeriksa barang.

Kasubbid PID Humas Polda Sultra, Kompol Dolfi Kumaseh mengatakan tersangka memang tidak ditahan, namun penyidik meyakinkan ketiganya tidak akan melarikan diri. Pada intinya kewenangan penahanan itu ada pada penyidik. Saat ini proses perampungan berkas kepada tiga tersangka dan pemenuhan petunjuk jaksa dari dua tersangka lainnya masih dilakukan penyidik. Dua tersangka lain yakni Amiruddin Supu, mantan Kadishut Pemda Konut dan Muhammadu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). “Kami akan selesaikan berkasnya, lalu akan dikirim secepatnya,” ujar Kompol Dolfi Kumaseh, Jumat (4/8).

Selain itu, berkas penyidikan tersangka Amiruddin Supu dan Muhammadu belum dilimpahkan ke jaksa peneliti. Sebab masih dilakukan perampungan sesuai petunjuk jaksa peneliti Kejati Sultra. Apalagi kasus ini saling berkaitan. Bahkan tim penyidik masih akan memeriksa Ahmad bin Tulangkuse, Willy Jumarni dan Zainal untuk merampungkan berkas, Amiruddin Supu dan Muhamaddu.

Kompol Dolfi Kumaseh menambahkan masih ada beberapa saksi-saksi yang akan diperiksa. Jika berkasnya lengkap maka secara bersamaan berkas Amirudin Supu dan Muhamaddu akan dikirim ke jaksa. “Masih ada beberapa keterangan yang akan kami minta pada saksi-saksi. Ini demi memenuhi petunjuk jaksa,” tmabah Kompol Dolfi.

Untuk diketahui, hasil audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Sultra menemukan kerugian negara sebesar Rp 700 juta. Modus kasus pengadaan bibit ini cukup menarik. Khusus pengadaan bibit dan penanaman jati, terjadi perbedaan besaran anggaran dalam kontrak dan daftar pagu anggaran (DPA). Dalam kontrak tertera anggaran sebesar Rp 879 juta, sementara dalam DPA berjumlah Rp 1,176 miliar.

Sehingga ditengarai, selisih anggaran dalam kontrak dan DPA diselewengkan. Lalu ada ketidakjelasan mekanisme pencairan dana, yaitu uang telah dicairkan 100 persen meski sebenarnya pekerjaannya belum selesai. Khusus pengadaan bibit eboni dan bayam jelas sudah diduga kuat fiktif. Pasalnya, harusnya yang diadakan eboni dan bayam masing-masing sebanyak 2.750 bibit. Namun, kenyataannya hanya diadakan bibit eboni sebanyak 2.750. Bibit bayam tidak lagi diadakan. Sementara bibit jati yang seharusnya diserahkan dan dinikmati masyarakat, malah ditanan pada tiga lahan milik pejabat Konut. (ade/c)

 

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top