Subhanallah..Ini Kisah Spritual Mereka yang Hijrah dari Dunia Hitam Menuju Jalan Tuhan – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Muna

Subhanallah..Ini Kisah Spritual Mereka yang Hijrah dari Dunia Hitam Menuju Jalan Tuhan

La Naje saat membawakan ceramah agama di Masjid.

Aksi-aksi kekerasan jalanan lumayan dikenal di Raha, Muna. Perlahan, cerita itu memudar. Pentolannya sudah banyak yang hijrah. Penjara jadi pesantren. Dulu tak tahu Alif, kini salat lima waktu wajib di masjid.

Muhammad Ery, Raha

Siapa yang tak kenal dengan sosok lelaki bernama panggilan Naje di Raha. Orang-orang dewasa di kota itu pasti punya ingatan mengenai pria yang ternyata bernama lengkap Muhammad Nazamudin Yasin ini. Setiap kali ada aksi kekerasan jalan di era tahun 1993-2014, namanya pasti muncul atau dikait-kaitkan. Entah jadi pelaku utama, atau sekadar pemicu.

Dunia hitam adalah jadi kehidupannya. Minum alkohol, memalak, hingga melakukan aksi kekerasan dengan senjata tajam dilakoninya. Tidak ada kosa kata takut dalam hidupnya. Himpitan ekonomi jadi dalil pembenarnya berbuat kriminal. “Dulu, rumah saya di Pasar Sentral (sekarang jadi alun-alun Raha), bagaimanakah itu kalau kita hidup di pasar, cepat sekali tergoda nakal,” kata Naje, saat ditemui di Masjid Baitul Makmur, Raha, ba’da Jumat, Jumat (4/8/2017)

Naje kini hijrah. Penampilannya berbeda. Gamis adalah pakaian wajibnya, dakwah jadi rutinitasnya. Janggut lebat tumbuh di dagunya. Ia tinggal di Jalan Kandea, Raha dengan lima anak dan satu istri. “Saya sekarang jauh lebih tenang. Nikmat sekali hidayah yang Allah berikan ini. Barangkali apa yang terjadi di masa lalu adalah cara Tuhan membimbing saya untuk sampai ke fase ini,” katanya, tenang.

Dengan alasan agar bisa jadi inspirasi, Naje pun mau berbagi mengenai kisah kelamnya di masa lalu. Katanya, dunia hitam mulai ia kenal sejak tahun 1993. Ditangkap polisi, diadili hakim hingga masuk penjara selalu ia lalui. Tidak hanya ditahan di rumah tahanan (Rutan) di Raha, bahkan pernah dipindahkan ke Lapas Bau-bau pada tahun 1996 sampai 1999 atas perbuatan kriminalnya.

Keseringan masuk sel ternyata membuatnya sadar kalau ada yang harus ia ubah dalam hidup. Penjara ternyata jadi pesantren kehidupan baginya. Di dalam tahanan, ia mengenal huruf “Alif”, alfabet pertama dalam aksara Hijaiyah. “Kalau tidak masuk penjara, saya mungkin tidak akan pernah tahu Alif itu. Saya juga belajar mengaji di penjara hingga akhirnya bisa berdakwah. Allahu Akbar,” kenang Naje.

1 of 4

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top