Ikan Picu Inflasi Kota Kendari, Baubau Tertinggi Nasional – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Ekonomi & Bisnis

Ikan Picu Inflasi Kota Kendari, Baubau Tertinggi Nasional

Wa Ode Sitti Febriani/Kendari Pos
Ikan Cakalang yang dijajakan pada salah satu pasar tradisional di Kendari.

KENDARIPOS.CO.ID — Pasca mengalami lonjakan inflasi akibat harga sayur naik dua kali lipat, kini kondisi kembali stabil. Harga komoditi mulai mengalami penurunan di sejumlah pasar. Kendati demikian, sepanjang bulan Juli Kota Kendari tetap dalam kondisi inflasi 0,46 persen. Penyebabnya adalah harga ikan yang cukup mahal.

Saat merilis berita resmi statistik Selasa (1/8), Kepala BPS Provinsi Sultra, Atqo Mardiyanto mengatakan, dari sepuluh pemicu tertinggi inflasi Kota Kendari, enam diantaranya adalah ikan laut. Yakni, ikan ekor kuning, ikan layar (benggol), ikan rambe, ikan cakalang, ikan katamba dan ikan bawal.

“Karena cuaca ekstrim, harga ikan mengalami kenaikan. Jika tidak ditemukan solusi maka Kota Kendari akan inflasi terus,” tegasnya.

Sebaliknya, lanjut Atqo, dengan stabilnya harga ikan dan sayuran akan berpengaruh besar terhadap angka inflasi Kota Kendari. Pasalnya, harga beras dan komoditi lain cenderung lebih terkontrol.

Selain itu, harga buah tomat yang dalam beberapa waktu terakhir naik juga memicu inflasi. Ditambah komoditi bawang merah, cabai rawit bahkan sepeda motor.

Jika diteliti, penurunan angka inflasi Kota Kendari pada bulan Juli mengalami penurunan yang cukup tajam, dari 3,58 persen di bulan Juni menjadi 0,46 persen. Disini, beberapa komoditas mengambil peran penting dengan sumbangan deflasi. Yang mengalami penurunan harga adalah sayur bayam, kangkung, sawi hijau, bahan bakar rumah tangga, kacang panjang, bawang putih, jantung pisang, terong panjang, kelapa serta ayam hidup.

Secara umum, dari 82 kota di Indonesia yang menghitung inflasi, sebanyak 59 kota tercatat inflasi dan 23 lainnya justru deflasi. Kota Baubau mengalami inflasi tertinggi nasional mencapai 2,44 persen. (feb/b)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top