Tari Lutunani, Simbol Penjaga Merah Putih di Wakatobi, Tampil Saat Menyambut Tamu Istimewa – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Wakatobi

Tari Lutunani, Simbol Penjaga Merah Putih di Wakatobi, Tampil Saat Menyambut Tamu Istimewa

Tari Lutunani ditampilkan pada rangkaian Festival Pulau Tomia. Foto : Asty/Kendari Pos.

KENDARIPOS.CO.ID Wakatobi memiliki kekayaan budaya yang masih dilestarikan hingga saat ini. Salah satunya, Tari Lutunani. Tarian warga Tomia ini hanya ditampilkan saat menyambut tamu istimewa atau ada hajatan besar.

Asty Novalista – Wakatobi

Tak lengkap rasanya keberadaan Kabupaten Wakatobi tanpa ada Pulau Tomia. Sebab, pulau ini memiliki keragaman hayati dan budaya yang tidak dimiliki pulau lain. Tari Lutunani menjadi salah satu ciri khas daerah ini. Tarian diperagakan tiga orang pemuda. Dalam sejarahnya, tarian ini ada di Tomia jauh sebelum Indonesia merdeka.

Dalam prakteknya, tari Lutunani menggunakan kain merah putih. Oleh para peraganya, kain tersebut dijaga sebagai simbol pertahanan terhadap daerah. Namun seiring perkembangan zaman, tarian ini ditampilkan saat menyambut kedatangan tamu penting dari kerajaan atau kesultanan dan atau Lakina Kaledupa saat itu. Tapi saat ini, tarian digunakan saat menyambut tamu penting kenenagaraan atau kalau ada hajatan besar.

Tari Lutunani juga biasa ditampilkan untuk mengisi acara-acara di masyarakat. Seperti untuk mengawal pengantin dan sebagainya. Tari ini hanya diperankan oleh tiga orang pemuda. Seorang Lutunani memegang senjata yang disebut pengisi dan hanya dilakukan oleh kalangan kaomu (bangsawan). Sementara, seorang Alhefisiri memegang kain merah putih (salah satu peran yang paling penting). Pemegang kain ini dilaksanakan oleh kaum kebanyakan atau disebut oleh masyarakat setempat (papara). Terakhir, yang menjadi penyempurna tarian ini adalah seorang tamburu yang menabuh gendang (parinta). Tamburu hanya dilakukan oleh kalangan walaka (masyarakat bawah).

Menariknya, seluruh gerakan Lutunani untuk melindungi kain merah putih yang dipegang erat Ahlefisiri. Artinya, kain merah putih sebagai perlambang azali. “Maknanya adalah disitulah asal-usul embrio seorang manusia lahir, tumbuh dan berkembang bersama berkat dan martabatnya,” ujar H Qunudin, tokoh adat Kecamatan Tomia saat ditemui akhir pekan lalu.

Gerakan dan semangat Lutunani yang seirama dengan tabuhan gendang Tamburu dalam melindungi kain merah putih memberikan tontonan menarik. Lutunani diibaratkan sebagai seorang pemimpin Meantu’u dalam menjalankan pemerintahan berdasar atas konsep dan pengawasan seorang Bonto (dilakukan oleh Tamburu). Memang, kalau merujuk struktur pemerintahan pada zaman ke-Patua-an (Kesultanan Buton di Tomia), menganut sistem ala Madinah. Dalam adat bahasa Tomia disebut ‘Hokumi Kene Syara’. Hokumu bekerja untuk mengurus segala hal yang berhubungan dengan syariat dan kaidah.

Sementara, Syara untuk mengurus segala hal yang berhubungan dengan pemerintah (kesultanan) dengan pembagian kerja yang sudah diporsikan. Diantaranya, Meantu’u (kepala pemerintahan), juru thulusi (staf atau sekretaris), kontabitara (penyampai informan atau juru bicara dan Sulhujaju sebagai pengendali keamanan yang dipimpin Lutunani. Lutunani memiliki peran penting yakni bertanggung jawab penuh terhadap keamanan suatu negeri, khususnya di pulau Tomia.

Nah, kembali soal tarian, pada Lutunani ini, tergambar harapan masyarakat kepada pemimpinnya. Diantaranya, pemimpin adalah pengayom, pelindung dan panutan. Serta seorang pemimpin diyakini sebagai penyalur barokah terhadap masyarakat yang dipimpinnya.

Pada era sekarang, tari Lutunani dilakukan untuk menyambut kedatangan tamu penting di Pulau Tomia, seperti bupati Wakatobi dan lainnya. Tamu yang biasanya melakukan perjalanan via kapal laut ini disambut tari Lutunani di salah satu dermaga Tomia. “Kini Alhefisiri dalam tarian ini yang diperankan oleh pemuda asal Tomia tak lagi memegang kain merah putih melainkan bendera merah putih,” jelasnya.

1 of 2

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top