Waspadai Beras Oplosan di Sultra, Plt Gubernur : Kalau Ada Temuan Laporkan – Hacked by TryDee
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
HEADLINE NEWS

Waspadai Beras Oplosan di Sultra, Plt Gubernur : Kalau Ada Temuan Laporkan

KENDARIPOS.CO.ID — Warga Sultra tak perlu risau soal informasi beredarnya beras oplosan. Satuan tugas (Satgas) Pangan Sultra memastikan belum ada temuan terkait hal itu. Kendati begitu, masyarakat diminta proaktif menyampaikan kepada satgas atau instansi terkait, kalau ada temuan di lapangan. Ketua Satgas Pangan Sultra, HM Saleh Lasata yang mengungkapkan hal itu. Menurutnya, sejauh ini belum ada temuan maupun laporan dari masyarakat terkait beredarnya beras oplosan tersebut. Walau begitu, pihaknya akan tetap berkoordinasi dengan instansi terkait supaya intens menggelar operasi pasar.

“Satgas Pangan dan masyarakat harus bersama-sama mengawasi, jangan sampai muncul beras oplosan,” ujar Plt Gubernur Sultra ini, Selasa(25/7). Dia menjelaskan, bukan hanya peredarannya yang perlu diwaspadai, namun produsen beras juga harus diawasi. Pasalnya, banyak pemodal besar yang bekerjasama dengan petani. Sehingga bisa jadi mesin atau alat-alat produksi beras itu sudah lebih canggih dari yang dikenal masyarakat dan pemerintah selama ini.

Belum lagi lanjut dia, proses pengiriman beras ke luar daerah yang terbuka lebar jelas dibaca sebagai peluang besar bagi oknum pengusaha beras oplosan untuk memasukan dagangannya ke Sultra. “Pemodal di Sultra ini juga sudah pengusaha besar. Dan memang perlu kita waspadai,” katanya. Hingga saat ini Ia memang belum menerima laporan dari masyarakat akan adanya beras oplosan itu. Namun itu tidak menjamin Sultra aman. Sehingga Satgas akan tetap mewaspadainya. “Pokoknya nanti kita cek sama-sama. Memang itu salah satu tugas utama Satgas,” jelasnya.

Wakil Ketua DPRD Sultra, Nursalam Lada mengungkapkan kekhawatiran yang sama. Menurutnya, beras oplosan itu kini menjadi isu hangat di daerah Jawa. Terlebih polisi sudah menemukan buktinya beberapa waktu lalu meski pihak perusahaan belum mengakuinya. “Bila itu ada di Sultra jelas sangat merugikan konsumen,” ujarnya, kemarin. Makanya dia mendesak pemerintah untuk menggelar operasi pasar atau melakukan penyelidikan. “Ini penting. Jelas masyarakat kita juga resah. Jangan sampai itu ada di Sultra,” pintanya.

Badan Urusan Logistik (Bulog) Sultra memastikan tidak ada beras oplosan. Mereka hanya melakukan reproses untuk mempertahankan agar beras yang ada di gudang masih layak dikonsumsi. Hal itu ditegaskan Kadivre Bulog Sultra, Ld Amijaya Kamaluddin. Menurutnya, upaya reproses dilakukan untuk merawat beras agar mutunya tidak cepat mengalami penurunan. Alaminya, beras akan turun mutunya dalam waktu 1-2 bulan setelah pengadaan. Namun dengan reproses beras yang disimpan mutunya kadang bisa bertahan dalam enam bulan.

“Kalau beras yang tidak layak konsumsi ditemukan dalam gudang bulog, itu adalah beras turun mutu yang belum melalui reproses. Kami melakukan reproses guna memastikan beras yang ada masih dalam keadaan layak. Pasalnya, kami harus menjadi ketersediaan beras selama setahun, apalagi pengadaan hanya dilakukan saat panen,” ungkapnya, kemarin.

Kata dia, dalam mempertahankan mutu beras ini, Bulog menggunakan alat khusus. Kalau berbau maka beras digulirkan dengan alat untuk menghilangkannya, kalau berdebu maka beras diblower. “Ini reproses yang kita lakukan agar beras yang kita salurkan masih dalam kondisi layak dikonsumsi,” terangnya.

Kata dia, bisa dibayangkan jika Bulog tidak melakukan reproses terhadap beras yang disimpan untuk menjaga ketahanan pangan selama satu tahun. Apalagi, pengadaan beras hanya dilakukan saat musim panen, bukan setiap bulan. Kemudian dalam proses distribusi pihaknya juga menggunakan prinsip first in fisrt out.

“Artinya beras yang pertama masuk itu yang pertama keluar. Selain itu, sebelum beras didistribusi kita melakukan sortir untuk memastikan beras yang disalurkan masih dalam keadaan layak konsumsi,” ucapnya. Dia mengungkapkan, terkait beras sejahtera (rastra) yang disalurkan kepada masyarakat dianggap tidak layak, itu karena adanya perbedaan antara harapan dengan kenyataan. Kalau sebelumnya kualitas lebih bagus dibanding saat ini, hal tersebut karena tahun lalu beras impor yang disalurkan. “Saat ini pemerintah tidak mengizinkan adanya impor beras. Olehnya itu, kita memanfaatkan beras lokal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap beras,” tutupnya. (b/ely/myu)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top