Perjuangan Tim “Nusantara Sehat” Tumbuhkan Minat Baca di Muna, Buka Taman Baca hingga Datangkan Buku dari Jawa – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Muna

Perjuangan Tim “Nusantara Sehat” Tumbuhkan Minat Baca di Muna, Buka Taman Baca hingga Datangkan Buku dari Jawa

Ida Made Hrisikesa saat mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak pesisir di Desa Tampunabale Kecamatan Pasikolaga Kabupaten Muna. Foto : Muh Ery/kendari pos

Kehadiran Ida Made Hrisikesa bersama empat rekannya di Desa Tampunabale Kecamatan Pasikolaga Kabupaten Muna, sebenarnya dalam rangka memberikan edukasi tentang pola hidup sehat kepada masyarakat, khususnya di kalangan anak-anak. Namun, lima pemuda yang mengabdikan diri sebagai petugas “Nusantara Sehat” ini terpaksa sedikit merubah tujuan karena melihat rendahnya minat baca anak-anak pesisir tersebut. Salah satunya dengan membuka taman baca impian.

Muh Ery, Raha

Saban sore, gedung berukuran 5×7 meter itu selalu dipenuhi anak-anak. Mereka terlihat begitu antusias membolak-balikan buku bacaan yang dipegang. Sesekali terkikik sambil memperlihatkan isi buku yang dipegangnya kepada teman di sampingnya. Mereka baru terdiam saat seorang pemuda masuk dan menyapa mereka. Namanya, Ida Made Hrisikea, orang yang mereka anggap sebagai “guru” kedua.

“Selamat sore anak-anak,” sapa Ida yang dijawab serempak oleh puluhan anak-anak tersebut. Suasana seperti itu akan selalu ditemukan di taman baca yang memang sengaja dibangun Ida dan kawan-kawan untuk menumbuhkan minat baca anak-anak pesisir bagian timur Kota Raha tersebut.

“Rencana awal sebenarnya kami ingin memberikan edukasi tentang kesehatan. Namun karena mereka belum bisa membaca makanya dibangun taman baca impian Pasikolaga ini,” jelasnya. Lewat taman baca inilah, selain menumbuhkan semangat membaca, sesekali juga memberikan edukasi tentang pola hidup sehat yang menjadi tugas utama mereka dalam mengawal misi kemanusiaan sebagai petugas “Nusantara Sehat”.

Tak hanya sekadar membuka taman baca, Ida dan kawan-kawan juga rela merogoh kantong mendatangkan buku dari Jawa. Kendati begitu tak menyurutkan semangat mereka. Memang sungguh berat. Alih-alih memperkenalkan hidup sehat pada anak-anak pesisir, untuk membaca saja susah. Makanya cukup sulit untuk memberikan edukasi. Cukup bisa dimaklumi, sebagai daerah pesisir, pengetahuan mereka anak-anak termasuk orang tuanya masih sangat terbatas. Kondisi inilah, membuat Made sapaan akrabnya, harus putar otak.

Bersama lima koleganya, dirinya merundingkan untuk membentuk wadah sarana edukasi anak dalam menumbuhkan minat baca. Akhirnya, dibangun lah taman baca impian Pasikolaga pada 2 Mei 2017, bertepatan dengan hari pendidikan nasional. Made mulai bisa sumringah. Ditambah lagi pemerintah desa ikut membantu menyediakan gedung yang tak terpakai. Dari awalnya hanya beberapa anak, kini sudah hampir seratusan. “Setiap sore kami ajarkan mereka membaca dan sesekali tentang pola hidup sehat,” jelas Made saat ditemui usai memberikan edukasi kepada anak-anak, Selasa (25/7).

Sebelum ada taman baca, promosi kegiatan pendidikan kesehatan keluarga di desa tersebut, tak berjalan sesuai harapan. Pemicunya, wawasan anak di Tampunabale sangat terbatas. Sehingga, dirinya merangkul pemuda di daerah setempat memperkenalkan pendidikan lebih luas lagi. “Di tempat ini, anak-anak dan remaja berkumpul. Ini untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui bacaan. Sehingga, selain ada kegiatan membaca, saya bisa memberikan kegiatan penyuluhan tentang kesehatan,” katanya.

Soal buku, tak ada kendala. Pria asal lombok ini mendatangkan buku koleksi pribadinya sebanyak 64 buah. Dia juga pesa buku melalui kenalannya di Jawa maupun Lombok. Di taman baca berukuran 5×7 meter ini, kini mengoleksi buku bacaan sekira 300 buah lebih. Mulai dari buku cerita dongeng, gambar serta buku lainnya lagi. Sehingga, antusias para anak terus terpacu. Hal itu pula, membuat kondisi taman baca impian terasa berbeda dengan sekolah di pendidikan formal. “Anak-anak di sini senang. Semua buku bacaan menarik minat baca mereka. Bahkan, mereka ingin membawa pulang. Sebab, mereka baru melihatnya,” jelasnya.

Dalam membagi tugas antara memberikan penyuluhan kesehatan dan mendampingi anak di taman baca, Made punya cara strategis. Dengan jumlah mereka sekira 6 orang, dalam menjalankan misi itu, taman baca dibuka setiap hari Senin, Rabu dan Kamis. Waktunya pun antara pukul 15.30 hingga 17.30 Wita. Selain, mempernalkan bacaan, anak-anak yang masih duduk di bangku SD hingga SMP itu, diberikan pelajaran tambahan yakni bahasa Inggris. “Paling banyak anak SMP. Kini di taman bacaan ini berjumlah 80 orang,” terangnya.

Lelaki yang menawatkan sarjananya di Universitas Mataram itu, juga mengaku kesulitan mengajak anak-anak menuju lokasi taman baca. Pasalnya, anak yang masih duduk di kelas 1 hingga 3, lebih memilih bermain bersama temannya. Mereka jarang datang. Namun, kesabaran dan ketekunannya untuk membimbing tak pernah menyerah. Pendekatan persuasif mengajak terus disuarakan.

1 of 2

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top