Riko, Bocah 8 Tahun di Baubau Tulang Punggung Keluarga, Ibu Lumpuh, Ayahnya Meninggal – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
HEADLINE NEWS

Riko, Bocah 8 Tahun di Baubau Tulang Punggung Keluarga, Ibu Lumpuh, Ayahnya Meninggal

Riko, menerima bantuan.

Sulit mencari padanan kata demi melukiskan bagaimana hidup menguji seorang Riko. Doa ibunya pasti menembus langit, mengetuk selasar surga. Bocah ini merawat perempuan yang sudah melahirkannya itu dengan ketulusan tak berperi.

Akhirman, Baubau

Ruang berukuran tak lebih dari 3×4 meter itu lebih layak disebut gubuk. Kondisinya reyot. Dindingnya dibangun dari jelajah kusam yang sudah dimakan usia. Tiang-tiang penyanggahnya tak lebih besar dari betis orang dewasa kebanyakan, itupun dari kayu yang mudah keropos. Lantainya dari bilah-bilah bambu dan potongan kayu kecil yang diikat. Tingginya hanya sekitar semeter dari permukaan tanah. Atapnya dari rumbia yang sudah mulai bolong.

Di tempat itulah, Riko (8), dan adiknya bernama Wulan (7) serta Wa Eko (27) melewati hari demi hari, berjuang melawan kemiskinan yang sungguh sangat berat mereka jalani. Secara administrasi, keluarga ini tercatat sebagai warga sebuah dusun di Kelurahan Palabusa, Kecamatan Lea-Lea, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Hidup adalah ladang amal dan pahala bagi Riko. Usianya boleh 8 tahun, tapi tanggung jawab yang ia pikul melebihi umurnya. Saat teman sebayanya bermain, ia harus mencari nafkah. Ibunya, sudah tak bisa melakukan apa-apa karena didera kelumpuhan sejak dua tahun terakhir. “Saya jual ikan keliling om, kalau pulang sekolah. Hasilnya untuk kami makan,” kata Rico yang Selasa (18/7) sore itu baru saja pulang berkeliling kampung.

Dengan usia yang masih amat belia, murid kelas III SD itu tak punya pilihan lain kecuali mencari nafkah. Ada Wulan, adiknya yang harus ia tanggung hidupnya. Termasuk sang ibu, yang sekarang tak bisa lagi berbuat apa-apa. “Bapakku sudah meninggal mi tiga tahun lalu,” kata bocah ini sembari menyebut La Ute sebagai nama ayahnya, dengan malu-malu.

Sore itu, ketika Kendari Pos berkunjung ke “istana” keluarga ini, beberapa anak sebaya Riko sedang bermain. Sesungguhnya, bocah ini sangat ingin ikut. Tapi ia punya urusan yang maha penting, menyuapi ibunya. Kebetulan, sore itu ada tetangga yang memberi mereka nasi dan lauk. Ditemani adiknya, Wulan, keduanya menyuapi makan ibunya dengan penuh kasih sayang.

“Saya sangat bangga memiliki anak yang baik. Mereka (Riko dan Wulan) adalah harta satu-satunya dan sangat berharga bagi saya. Mereka telah menemani dan merawat saya yang tidak bisa berbuat apa-apa ini,” kata Wa Eko dengan suara tertatih dan mata berkaca-kaca. Hanya doa yang selalu ia panjatkan agar Tuhan tetap menjaga hati dan memberi kesabaran buat anak-anaknya. Doa ibu, konon bisa menembus langit dan sampai di pangkuan sang pemilik jagad ini.

Riko memang bocah yang tangguh. Usianya berbanding terbalik dengan logika berpikirnya yang hampir setara dengan orang dewasa. Ia paham betul posisinya yang terlahir sebagai laki-laki sekaligus anak pertama. Tidak hanya mencari uang untuk biaya hidup keluarga, ia pengayom dan penyayang kepada adik dan ibuhnya. Semua itu terlihat ketika adiknya, Wulan sedang tidak enak badan.

Berbagai pekerjaan rumah yang biasa dilakukan Wulan, ia ambil alih. Mulai dari cuci piring, memberi makan ibunya, hingga menyapu pekarangan rumah. Hebatnya, meski serba terbatas, Riko dan Wulan tetap berusaha bisa bersekolah. Saban pagi, kedua yatim ini menuju SDN 1 Bataraguru, menuntut ilmu. Bedanya, jika anak-anak lain berangkat dengan bekal makanan atau uang jajan, keduanya dengan tangan kosong. Bahkan tak tahu nikmatnya sarapan.

1 of 2

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top