Bohongi Konsumen, Polisi Grebek Seribu Ton Beras Oplosan – Kendari Pos
Space Iklan Garis Batas
Pariwara
Pariwara
Pariwara
pariwara
Space Iklan
Nasional

Bohongi Konsumen, Polisi Grebek Seribu Ton Beras Oplosan

KENDARIPOS.CO.ID — Bareskrim Polri mengamankan seribu ton beras oplosan di gudang milik PT Indo Beras Unggul atau PT IBU di Kedung Waringin, Bekasi, Jawa Barat pada kamis sore (20/7) pukul 15.30 WIB. Penggerebekan dilakukan gabungan dari personil Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Ditipideksus) Bareskrim Polri, Satgas Pangan Polri, Kementerian Pertanian (Kementan) serta Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Di gudang pangan bekapasitas 2000 ton milik PT IBU tersebut, ditemukan 199,275 ton beras siap edar dalam pecahan paket 5 dan 10 kilogram, serta 971,775 ton beras siap edar dalam pecahan 25 kilogram. Dikemas dengan merek “Maknyuss” dan “Cap Ayam Jago”

PT IBU diduga kuat sengaja mencampur kualitas beras dan melakukan kecurangan dengan pembohongan publik melalui label. Peraturan yang dilanggar adalah UU tentang Pangan dan UU tentang perlindungan konsumen.

Kepala Biro Penmas Divhumas Polri Brigjen Rikwanto mengungkapkan bahwa PT IBU membeli gabah kering dari petani dalam kualitas tertentu. Gabah kemudian diolah menjadi beras dengan cara dioplos. PT IBU kemudian memberikan kemasan dan label seolah-olah beras tersebut adalah beras Premium. “Ada label yang tidak benar di kemasan beras, sudah kami pasang police line, siapa yang bertanggung jawab akan segera kami periksa,” katanya di Mabes Polri.
Polisi mengamankan barang bukti sebanyak 1100 ton beras. Rikwanto menyebut sudah ada beberapa orang yang diamankan. Jenis beras yang terdapat di gudang tersebut bermacam-maca, mulai dari beras Super Pandan, Cianjur, Rojolele, Segon, Bangkok, Ulen, Pandan Wangi, Slip Super, Lele Jumbo, Ayam Jago Merah dan beberapa jenis lainnya. “Berasnya kualitas rendah, dicampur-campur,” ungkapnya.

Kabareskrim Polri, Komjen Pol. Ari Dono Sukmanto menyebut PT IBU sebagai anak perusahaan PT. Tiga Pilar Sejahtera (TPS) yang bergerak di bidang beras kemasan, diduga telah melakukan pembohongan publik dengan memasang label kemasan yang tidak sesuai dengan isinya.

Pembohongan tersebut salah satunya menyangkut informasi nilai gizi yang tidak sesuai dengan beras dalam kemasan. Nilai karbohidrat ditemukan lebih tinggi sementara nilai protein lebih rendah dari angka yang tercantum di label.

Ari menjelaskan, Selain melanggar tindak pidana persaingan curang sebagaimana termaktub dalam pasal 382 BIS KUHP, dua anak perusahaan itu diduga juga melanggar Undang-undang Pangan No. 18 Tahun 2012 Tentang Pangan yaitu pasal 141 dan 89 dan Undang-undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

Ari bahkan mencurigai pemalsuan label dan komposisi Gizi yang tidak ini bukan hanya sebatas permainan bisnis semata. “Saya curiga ini sekedar permainan bisnis atau merupakan usaha sejenis melemahkan bangsa ini dikemudian hari,” Sebutnya

Ari menegaskan, fakta temuan hasil laboratorium itu akan terus didalami agar kekhawatiran dan tingkat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah khususnya program swasembada beras, justru meningkat. “Tentu saja ini akan terus didalami serta menjadi masukan agar konsumen tak lagi dibohongi dari sisi nilai gizi dan mutu beras yang dikonsumsi,” tegas Ari.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengungkapkan, dari seluruh beras yang diamankan, jenis IR 64 yang rencananya akan dijadikan beras premium dan dijual dengan harga tiga kali lipat. Dia menuturkan, bila dilihat dari kuantitas beras yang ditimbun, pemerintah mengalami kerugian lebih dari Rp 15 triliun.

Dia merinci, jenis beras IR 64 adalah beras yang disubsidi pemerintah dengan harga Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per kilogram. Seluruh beras itu biasanya dijual ke pasaran tiga kali lipat atau sebesar Rp 20.400 per kilogram. Sehingga ada selisih Rp 14.000. “Hitung saja sendiri. Belinya Rp 7.000,00, dijualnya Rp 20.000,00. Ada selisih Rp 13.000,00. Sementara itu, produksi kita mencapai 40 juta ton,” ujarnya di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, kemarin (21/7) sore.

Dia juga menyayangkan PT Indo Beras Unggul (IBU) yang mengambil untung berlebih. Menurut Amran, keuntungan yang didapat bisa lebih dari 100 persen. “Petani tidak dapat apa-apa, konsumen juga menjerit. Kita sudah memasang HET, dan intinya adalah bagaimana membuat petani tetap untung. Konsumen pun diharapkan mendapat harga yang layak, dan pengusaha untung, tapi (untungnya) jangan 200 persen juga,” jelas Amran.

Dia juga menuturkan tidak ada pembagian beras menjadi medium maupun premium. Sebab, PT IBU mengklaim bahwa beras produksi mereka merupakan beras premium meski sebenarnya diambil dari beras berkualitas medium.

Dalam menstabilkan harga jual di tingkat konsumen, pemerintah telah memasang acuan harga eceran tertinggi (HET). Adanya HET agar petani mendapat untung sehingga sustain serta produktif, kemudian konsumen mendapat harga layak dan penjual juga untung. “Tapi jangan untungnnya 200 persen, itu enggak boleh. Intinya sebenarnya premium itu dengan medium sumbernya satu, itu IR 64. Makanya kita tulis oke terlanjut katakan medium premium, oke harganya Rp 9.000 selesai,” ujarnya.

Maka, jika PT IBU menyampaikan bahwa beras yang dijualnya merupakan beras medium ataupun premium, maka tetap saja beras tidak boleh dijual dengan harga di atas HET. Sebab, beras medium atau pun premium tetap beras tersebut asalnya dari beras IR 64.

“Itu kan terlanjur ada namanya, kita pasang juga premium medium HET Rp 9.000, karena IR 64 itu setara. Tapi itu aja diputer ganti nama ganti karung, ganti baju, ibarat ilustrasi ini orang dari kampung di bawa ke salon, baru dikasih tahu,” tuturnya.

Kasus penggerebekan gudang beras milik PT IBU juga ikut menyeret induk usahanya, PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. Dalam sehari, harga saham emiten berkode AISA itu anjlok hingga 400 poin atau 24,92 persen, menjadi Rp 1.205 per unit. Padahal pada pembukaan perdagangan kemarin (21/7), saham AISA masih dihargai Rp 1.605 per unit. AISA sendiri tercatat memiliki saham PT IBU secara tidak langsung melalui entitasnya, PT Dunia Pangan.

“Adanya kasus tersebut tentu menjadi berita negatif bagi perusahaan,” kata Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada. Menurutnya, jatuhnya harga sama AISI persis seperti masalah yang menimpa PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), dan saham Grup Media Nusantara Cutra (MNC).

Saham APLN dikaitkan oleh pelaku pasar dengan kekalahan mantan calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaha Purnama atau Ahok. Kekalahan Ahok dianggap sebagai hambatan proyek reklamasi di Jakarta yang dikerjakan oleh APLN. Sementara saham MNC sempat jatuh ketika CEO Grup MNC, Hary Tanoesoedibjo, menjadi tersangka ancaman melalui SMS.

Reza menuturkan, pelaku pasar melakukan justifikasi dan menganggap emiten AISA buruk karena cucu usahanya terjerat kasus hukum. Sentimen tersebut akan terus ada hingga manajemen melakukan public expose mengenai kelangsungan operasional perusahaan. “Asumsinya, jika PT IBU ditutup operasionalnya, apakah nanti AISA akan mengalihkan produksinya ke tempat lain? Kan masih ada PT Tani Unggul Usaha, PT Swasembada Tani Selebes, maupun anak dan cucu usaha lainnya,” ujar Reza. Dia pun merekomendasikan jual pada saham AISA dengan level support 1.150-1.165 dan level resistance 1.390-1.400.

Manajemen AISA sendiri langsung menyampaikan keterbukaannya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Manajemen menyebutkan bahwa PT IBU membeli gabah dari petani lokal dan tidak menggunakan beras subsidi untuk program Beras Sejahtera (Rastra) Bulog, maupun beras untuk bantuan bencana. Manajemen mengaku sudah memproduksi beras sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), ISO 22000 tentang food safety dan Good Manufacturing Practices (GMP). Selain itu, disebutkan juga bahwa beras produksi PT IBU telah mengikuti pelabelan yang berlaku serta mencantumkan kode produksi sebagai informasi umur stok hasil produksi.

“Kami sangat kooperatif dan transparan kepada semua pihak yang berwenang,” ujar Direktur AISI Jo Tjong Seng dalam keterbukaannya ke bursa. Dia pun menyebut bahwa saat ini manajemen tengah malakukan verifikasi soal penggerebekan yang terjadi pada PT IBU. (tau/dee/rin)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top