Melalui Program Klaster, BI Sultra Genjot Produksi Bawang Merah – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Ekonomi & Bisnis

Melalui Program Klaster, BI Sultra Genjot Produksi Bawang Merah

Bawang merah di pasar Lawata.

KENDARIPOS.CO.ID — Meski produksi bawang merah yang dihasilkan melalui program klaster Bank Indonesia (BI) belum menggembirakan, namun bank sentral tersebut akan tetap menggenjot program itu hingga memenuhi hasil yang diharapkan. Program tersebut sudah diuji coba di Desa Aunupe, Wulasi, Konawe Selatan (Konsel) seluas 1 hektar.

Kepala Unit Akses Keuangan dan UMKM BI Sultra, Prayogo M Utomo mengatakan, pengembangan produksi bawang merah di Wulasi merupakan pengalaman pertama bagi para petani. Apalagi mereka menghadapi kondisi cuaca yang kurang bagus, sehingga hasilnya masih jauh dari yang diharapkan. Hanya saja, tidak disebutkan secara pasti hasil panen bawang merah yang seluas satu hektar tersebut.

“Kami masih menunggu waktu yang tepat untuk kembali membudidayakan klaster bawang merah di Wulasi. Rencananya, kami akan menerapkan teknologi organik MA11. Kami sudah melatih beberapa petani untuk pelaksanaan program yang akan mengkolaborasikan produksi bawang merah dengan peternakan,” ungkapnya.

Dijelaskan Prayogo, untuk pengembangan program klaster bawang merah di Wulasi, para petani hanya menyediakan lahan, sementara penyediaan benih menjadi tanggung jawab BI. Pihaknya berharap uji coba kedua pengembangan klaster tersebut akan membuahkan hasil yang diharapkan. “Semoga hasil tanam berikutnya memiliki hasil yang menggembirakan,” ujarnya.

Dia juga menyampaikan, saat ini pihaknya juga akan segera mengembangkan program klaster bawang di Kolaka Utara. Rencananya, program tersebut akan dilaksanakan awal Agustus 2017 mendatang. Program tersebut juga akan dilakukan bersamaan dengan penerapan teknologi organik MA 11.

“Program pengembangan klaster ini pada dasarnya merupakan program yang dicanangkan BI Pusat. Ada tiga yang dipertimbangkan dalam program ini. Mulai dari komoditi yang mempengaruhi naik turunnya inflasi, berdampak pada ketahanan pangan, dan produk unggul daerah yang berkualitas ekspor,” tutupnya. (myu/b)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top