Masuk Lima Besar se-Indonesia, IPM Kota Kendari Meningkat – Kendari Pos Online
Iklan Jaksa

Biro Umum
Metro Kendari

Masuk Lima Besar se-Indonesia, IPM Kota Kendari Meningkat

KENDARIPOS.CO.ID — Salah satu indikator untuk mengukur kemajuan suatu daerah adalah melihat pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia-nya (IPM). Kota Kendari misalnya sudah membuktikan itu. Sebagai ibu kota provinsi, Kota Kendari yang dinakhodai Asrun-Musadar sudah menunjukan peningkatan IPM yang sangat signifikan. Bahkan karena peningkatan sumber daya manusia itu, Kendari yang dulunya di pandang kecil di kawasan timur Indonesia kini sudah dikenal luas nasional bahkan internasional.

Nurbaety Setram, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kendari mengungkapkan hal itu. Dia merinci IPM Kota Kendari selama lima tahun terakhir menunjukkan angka yang sangat menggembirakan. Jika pada tahun 2012 status IPM Kota Kendari masih kategori tinggi yakni 79,97 persen, maka tahun 2013 sampai sekarang status IPM berada pada kategori sangat tinggi.

IPM Kota Kendari dari tahun 2013 sampai 2016 selalu menunjukkan peningkatan yakni 80,91 (2013), 81,30 persen (2014), 81,43 persen (2015) dan tahun 2016 menjadi semakin tinggi yaitu 81,66 persen.
“Patut kita syukuri dan banggakan sebab sejak tahun 2013, pembangunan manusia di Kota Kendari menunjukan capaian yang luar biasa, dan termasuk lima besar IPM tertinggi kabupaten dan kota se-Indonesia,” ujar Nurbaety Setram, Kamis (20/7).

Lima kota dimaksud adalah Kota Yogyakarta, Jakarta Selatan, Banda Aceh, Denpasar dan Kota Kendari. Sementara IPM Provinsi Sultra tahun 2016 tercatat 69,31 dan berada pada kategori sedang. Perkembangan pembangunan di Kota Kendari juga terlihat dari laju pertumbuhan ekonomi setiap tahun yang cenderung meningkat. Pada tahun 2015 laju pertumbuhan ekonomi Kota Kendari tercatat 8,92 persen meningkat menjadi 9,00 persen tahun 2016.

Sementara persentase penduduk miskin di Kota Kendari cenderung menurun yaitu sekitar 5,59 persen dari total penduduk Kota Kendari tahun 2015 menjadi 5,51 persen pada tahun 2016.
Pengukuran kemiskinan yang dilakukan oleh BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach).

Nurbaety menjelaskan IPM mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. “Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar, mencakup umur panjang dan sehat, pengetahuan, dan kehidupan yang layak,” urainya.

Sementara untuk mengukur dimensi kesehatan digunakan angka harapan hidup waktu lahir (AHH). Selanjutnya untuk mengukur dimensi pengetahuan digunakan gabungan indikator harapan lama sekolah (HLS) dan rata-rata lama sekolah (RLS). Adapun untuk mengukur dimensi hidup layak digunakan indikator kemampuan daya beli (Purchasing Power Parity). “Kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari rata-rata besarnya pengeluaran per kapita sebagai pendekatan pendapatan yang mewakili capaian pembangunan untuk hidup layak,” tutupnya. (m1/b)

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.


Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top