Kisah Brigadir Muhammad Saleh, “Pahlawan” Pendidikan dari Pelosok Bombana, Bangun Sekolah Angkat Istri Jadi Guru – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Bombana

Kisah Brigadir Muhammad Saleh, “Pahlawan” Pendidikan dari Pelosok Bombana, Bangun Sekolah Angkat Istri Jadi Guru

Foto bersama depan sekolah yang dibangun Brigadir Muhamad Saleh.

Berbekal sepetak tanah hibah, sebuah sekolah swasta itu berdiri di pelosok Bombana. Idenya lahir dari anggota Polri bernama Muhammad Saleh. Istrinya ia “wakafkan” jadi pengajar sekaligus kepala sekolah

Nuryadi, Bombana

Tiga hari setelah penanggalan 2015 dimulai, tepatnya 4 Januari, lelaki itu menuju tempat pengabdiannya yang baru. Pimpinannya, menugaskan pria bernama lengkap Brigadir Muhammad Saleh ini menjadi Bintara Pembinaan dan Keamanan Ketertiban Masyarakat (Babinkabtimbas) di Desa Tunas Baru, Kecamatan Rarowatu Utara. Berbekal selembar Surat Keputusan (SK) penugasan, ia tiba sebelum siang.

Hal pertama ia lakukan adalah menggelar pertemuan dengan aparat desa dan tokoh masyarakat setempat. Agendanya, selain mengenalkan diri, juga menginventarisasi persoalan-persoalan ketertiban dan keamanan di wilayah itu. Sejam berlalu, tak ada yang dianggap mengkhawatirkan.

“Mendadak, di sela rapat, ada seorang pria bernama Sakka angkat tangan. Kebetulan beliau itu kepala dusun. Saya pikir ada problem keamanan yang mau disampaikan. Ternyata cuma mau pamit, jemput anaknya dari sekolah di desa sebelah. Kira-kira jaraknya sekitar 8 kilometer lah dari Tunas Baru,” kenang Saleh akan masa-masa pertamanya bertugas di kampung itu.

Anggota Polri kelahiran Raha, 2 Februari 1985 ini tidak langsung mengizinkan Sakka pergi, tapi menanyakan kenapa harus jauh-jauh menyekolahkan anak. Ternyata di kampung itu belum ada sekolah dasar (SD). “Bagi saya, itulah persoalan. Karena kalau orang tua hanya urus antar jemput anak, pekerjaan mereka di ladang dan sawah pasti terganggu,” katanya, melanjutkan kenangan tentang peristiwa 30 bulan silam.

Bintara Polri angkatan tahun 2005 ini langsung membuat keputusan penting. Kepada para tetua desa, Saleh usul agar di kampung itu didirikan sekolah. Semua setuju. Ia kemudian dimandat untuk mencari tahu syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi agar bisa mendirikan sekolah.

Sehari setelah rapat, lelaki berusia 34 tahun ini kemudian berkunjung ke Dinas Pendidikan Bombana, dan mendapat informasi bahwa salah satu syarat bangun sekolah yakni harus ada lahan. Kepala Desa Tunas Baru menjawab itu dengan menghibahkan sepetak tanah miliknya. “Saya lalu susun proposal pendirian sekolah dan dikirim ke Kementerian Pendidikan. Nama sekolahnya saat itu, SD Swasta Tunas Baru,” katanya.

Brigadir Muh Saleh sesekali ikut mengajar di SD Swasta Tunas Baru, sekolah yang ia bangun. Dalam gambar terlihat Saleh tekun mengajari anak-anak Bombana di sekolah. Foto : NURYADI/KENDARI POS

Namun saat di Dinas Pendidikan Bombana, nama itu diubah jadi SDS Anak Sholeh karena ide pembentukan sekolah lahir dari Muhammad Saleh. Dua minggu berlalu, proposal Brigadir Saleh mendapat jawaban dengan keluarnya Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) dan izin operasi sekolah dari Kementrian Pendidikan.

“Dan kini sudah tiga kali kali menerima siswa baru, tahun ajaran 2015, 2016 dan 2017,” katanya, Senin (17/7) lalu. Pagi itu, polisi berdedikasi ini datang untuk melihat suasana hari pertama belajar di tahun ajaran baru 2017/2018. Ia senang, apalagi atasannya, Kapolres Bombana, AKBP Bestari Harahap ikut hadir dan menyampaikan apresiasi atas dedikasi anak buahnya itu.

Padahal tiga tahun lalu, urusan ini bukan perkara gampang. Ia ingat persis, meski sudah punya izin operasi, tapi sekolah impiannya itu terbentur tempat dan pengelola. Suami Erniwati, S.Pd ini pun akhirnya menggunakan rumah penduduk yang ditinggal pemiliknya merantau. Kondisinya tidak layak. Selain berlantai tanah, sebagian tidak berdinding.

“Saya perbaiki. Kemudian urusan guru dan pengelola, istri yang atur. Kebetulan beliau jebolan Diploma Tiga Keguruan,” katanya. Dan tahun ajaran 2015, SDS Anak Sholeh itu resmi menerima murid baru. Kala itu, ada 9 anak yang jadi murid perdana. Setelah 9 bulan di rumah warga, Saleh mencari lokasi lain karena pemilik rumah pulang, dan berniat memakai rumahnya.

Ia lalu berkoordinasi dengan Baharuddin Tola, Kades Tunas Baru. Solusi darurat, seluruh murid hijrah di aula balai desa. Delapan bulan di balai desa, sebuah ruang kelas baru (RKB) akhirnya bisa dibangun di tanah hibah dengan luas 30 x 50. Sekarang gedung semi permanen dengan ukuran 9 x 6 meter sudah berdiri. Menyemai asa, mencetak generasi unggul.

Bangunan itu dibagi tiga kelas belajar, untuk kelas I,II dan III. Tenaga pengajarnya kini tidak lagi menjadi masalah. Ernawati mengajak kerabatnya bernama Susi Susanti termasuk seorang warga lokal bernama Dewi untuk membantunya mengajar. Honor mereka dapat dari pengelolaan dana BOS yang baik.

1 of 2

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top