Jalur Asinua-Latoma di Konawe Rusak Parah, Warga Pertanyakan Kinerja DPRD dan Pemprov Sultra – Kendari Pos Online
Jalan Sehat

pariwara
Iklan Jalan Sehat Kenpos Iklan 10 Iklan 23
Konawe

Jalur Asinua-Latoma di Konawe Rusak Parah, Warga Pertanyakan Kinerja DPRD dan Pemprov Sultra

Kondiis jalan di Asinua-Latoma. Foro Helson/Kendari Pos.

Kadar sabar orang Latoma di Konawe amat tinggi. Mereka dijajah dengan ketertinggalan walau Indonesia sudah lama merdeka. Keluhan tak putus disuarakan, hingga jeritan tak lagi terdengar.

Helson Mandala Putra, Konawe

Nafas Rusdi ngos-ngosan. Keringat mengucur dan membasahi kaos berkerah yang melekat di badannya. Lelaki asal Desa Latoma itu terlihat kelelahan menuntun motornya agar keluar dari kubangan lumpur. Dua roda motornya sudah tak terlihat lagi warna aslinya, berubah jadi kekuningan. Penuh lumpur. Sedari tadi, gas di tangannya ditarik hingga meraung.

Begitu lolos dari kubangan, ia tersenyum. Tapi tantangan yang bakal ia hadapi untuk sampai ke kampungnya di Latoma masih belasan kilometer lagi. “Ini sudah mendingan boss, kalau hujan lebih baik tidak usah lewat karena sama ji kita berenang. Kalau tidak hujan begini, bisa ji dilewati meski setengah mati,” kata pria itu yang mengaku baru saja dari Asinua, untuk urusan keluarga.

Jalur Asinua-Latoma yang dilintasi Rusdi dan ratusan warga di daerah itu memang parah kerusakannya. Itu bahkan sudah berlangsung bertahun-tahun. Padahal itu adalah satu-satunya akses menghubungkan dua kabupaten berbeda, Kolaka Timur dan Konawe. Ini adalah urusan Pemprov Sultra. Di jalur yang ditaksir hingga 20 kilometer itu, ada beberapa titik yang ekstrim.

Siapapun yang melintas pasti geleng kepala melihatnya. Kubangan lumpurnya juga mempunyai panjang yang bervariasi, mulai puluhan hingga ratusan meter. Bahkan, beberapa titik nyaris tak bisa dilewati, terlebih ketika hujan mengguyur area tersebut. Kendari Pos, dua hari lalu menyambangi kawasan itu dan melihat langsung bagaimana sulitnya medan itu dilintasi.

Seorang pengendara mobil bersama dua kawannya yang mengangkut bahan makanan, harus turun dari roda empat jenis pick up berhandle double yang mereka tumpangi. Pacul dan sekop mereka keluarkan dari bak mobil, lalu bersama menggerus tumpukan material berlumpur untuk diratakan. Setelah dirasakan cukup, kendaraan digas dan melesat meski masih sempat bergoyang dimainkan licinnya jalan.

“Kalau jalannya kami lihat susah untuk dilewati, kami timbun dulu lumpurnya. Bukan hanya saya, hampir semua warga yang sering melintas di jalur ini pasti bawa pacul atau alat lain yang bisa dipakai menimbun lumpur. Kalau saya selalu bawa pacul memang untuk jaga-jaga,” ujar pengguna jalan yang mengaku bernama Latif itu sebelum pergi, usai melakukan perbaikan jalan yang berlumpur.

Nah, di lokasi terparah yang panjang kerusakannya mencapai 500 meter. Beberapa pengendara roda dua yang melintas tampak kewalahan. Bila naik motor berdua, maka salah seorang mesti turun lalu berjalan kaki di tengah lumpur hingga sampai ke jalan yang kondisinya kering. Kuda besi tidak sanggup ditunggangi dua orang bila melewati jalur itu. Bahkan, ada pengendara yang memilih menuntun kendaraannya ketika melintas, karena takut jatuh ketika hendak beradu dengan lumpur.

Seorang tokoh masyarakat Asinua-Latoma, Muin S. mengaku kecewa dengan kinerja anggota DPRD Sultra maupun Pemprov Sultra yang tak peduli dengan kondisi mereka. Padahal, Dapil Konawe-Konawe Utara punya 6 anggota legislatif di DPRD Sultra yakni Hery Asiku dari Golkar, Litanto dari PDIP, Syamsul Ibrahim dari PAN, Yati Lukman dari Nasdem, Isyatin Syam dari Demokrat dan Nirna Lachmudin dari Hanura. Keenamnya dianggap gagal memperjuangkan suara masyarakat di daerah itu.

“Kami melihat sejauh ini, kontribusi mereka belum ada sama sekali,” kata mantan Kepala Desa (Kades) Asinua Jaya itu. Kekecewaan itu lebih besar lagi pada mereka yang mengaku sebagai putra daerah Asinua-Latoma, yang belum memberikan kontribusi apapun di daerah mereka. “Jangankan kontribusi, perhatian mereka masih nihil bahkan berkunjung dalam artian sebagai anggota legislatif itu tidak pernah sama sekali, padahal sudah hampir selesai periode mereka,” ujar Muin.

1 of 2

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan LA
Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Kendari Pos dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © Kendari Pos 2016 The Mag Theme. Theme by FAJAR.CO.ID

To Top