Derita Warga Maroko di Kolut, Menggantung Hidup di Utas Tali Sling – Kendari Pos Online
Space Iklan Garis Batas
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
Kolaka Utara

Derita Warga Maroko di Kolut, Menggantung Hidup di Utas Tali Sling

Warga Desa Maroko di Kolut saat menyeberangi sungai menggunakan tali sling. Foto : Muh Rusli/Kendari Pos.

KENDARIPOS.CO.ID — Saban pagi, Muliana harus memulai harinya dengan berjalan kaki. Jauhnya tak tanggung-tanggung, empat kilometer. Tapi, demi cita-citanya yang tinggi, gadis kecil asal Dusun IV (empat) Desa Maroko, Kecamatan Rante Angin, Kolaka Utara tak pernah patah semangat. Bersama dua rekannya, Erni dan Ita, beriringan mereka menuju sekolah. Ketiga bocah ini gesit menelusuri jalan setapak, mengitari kawah perbukitan dan menembus kabut dingin yang belum dijemput sinar mentari.

Rumah mereka berjauhan di bukit. Untuk sampai ke sekolah di SD 2 Tinukari, butuh setidaknya 60 menit, bahkan bisa lebih tergantung cuaca saat pagi. “Kalau hujan bisa pakai payung daun pisang. Tapi biasa tidak pergi sekolah karena air sungai naik. Biasa jalan sama kakak yang sekolah di SMK, Randi namanya,” ujar Ana, panggilan Muliana, Senin (17/7).

Sungai yang ia maksud yakni rute yang akan diseberangi menuju Desa Tinukari Kecamatan Wawo, seluas kurang lebih 50 meter. Kalau cuaca bersahabat, kedalamannya hanya dua meter saja. Namun saat daerah itu diguyur hujan bisa mencapai enam sampai tujuh meter. “Biasanya, kami tidak lanjut ke sekolah karena takut menyeberang, ” tutur gadis
cilik kelahiran 6 Februari 2003 itu.

Selain jalan kaki berkilometer jauhnya, tantangan yang ia hindari adalah air sungai meninggi ketika pulang sekolah. Ia berharap pemerintah bisa membuatkan jembatan agar tidak selalu absen ke sekolah. Perjalanan yang jauh dan harus menyeberangi sungai itulah hingga sebagian dari orang tua siswa yang punya keluarga di desa, menitip putra-putri mereka menetap sementara dan kembali saat di penghujung pekan.

Tidak ada fasilitas pemerintah di dusun IV) terkecuali masjid. Saat ada warga yang sakit sudah dalam kondisi memprihatinkan baru digotong turun gunung agar sampai ke Puskesmas maupun RS. Begitu juga dengan bidan desa juga tidak ada, kecuali dukun beranak apabila ada warga yang hendak bersalin. Mereka terisolasi karena sulitnya akses dan jauh dari keramaian.

Menuju Dusun IV Maroko jalannya sebagian hanya disemen selebar 20 cm dengan kemiringan bervariasi mulai 20-70 derajat. Warga swadaya mencetak pijakan jalan setiap akhir pekan agar mudah dilintasi kendaraan roda dua. Menyeberangi sungai yang membelah Desa Maroko dan Wawo itu sebenarnya bisa memudahkan karena jaraknya terpangkas. Sayang tak ada jembatan. Warga pun berinisiatif membuat konsep menyeberang yang ekstrim, mengelantung pada seutas tali baja alias sling.

1 of 3

Komentar

komentar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top